BUKU SAKU, PELIHARA BUDAYA SANTRI DI RUTAN PEKALONGAN

Pekalongan, INFO_PAS. Selain terkenal dengan julukan sebagai Kota Batik, Pekalongan juga memilikiCity branding “Kota Santri.” Tidak heran manakala saat memasuki kota yang memiliki ratusan pondok pesantren dan ribuan mushola atau langgar ini akan banyak kita temui masyarakat mengenakan pakaian bebusana muslim, seperti mengenakan sarung dan kopiah. Budaya khas santri ini, nampaknya juga terbawa saat mereka berada di dalam rutan. “Kalo ada kunjungan keluarga, kegiatan penyuluhan maupun saat kegiatan pembinaan, maka ketika keluar blok mereka terbiasa mengenakan sarung,” ungkap Karutan Pekalongan, Tatang Suherman ketika ditemui INFO_PAS , Rabu (21/15). Untuk menjaga budaya santri tersebut, selain membiasakan mereka mengenakan sarung setiap ada kegiatan, pihak rutan juga membagikan tiga buah buku saku kepada setiap tahanan yang baru masuk. Lanjut menurut Tatang, buku saku ini berisi bacaan

BUKU SAKU, PELIHARA BUDAYA SANTRI DI RUTAN PEKALONGAN
Pekalongan, INFO_PAS. Selain terkenal dengan julukan sebagai Kota Batik, Pekalongan juga memilikiCity branding “Kota Santri.” Tidak heran manakala saat memasuki kota yang memiliki ratusan pondok pesantren dan ribuan mushola atau langgar ini akan banyak kita temui masyarakat mengenakan pakaian bebusana muslim, seperti mengenakan sarung dan kopiah. Budaya khas santri ini, nampaknya juga terbawa saat mereka berada di dalam rutan. “Kalo ada kunjungan keluarga, kegiatan penyuluhan maupun saat kegiatan pembinaan, maka ketika keluar blok mereka terbiasa mengenakan sarung,” ungkap Karutan Pekalongan, Tatang Suherman ketika ditemui INFO_PAS , Rabu (21/15). Untuk menjaga budaya santri tersebut, selain membiasakan mereka mengenakan sarung setiap ada kegiatan, pihak rutan juga membagikan tiga buah buku saku kepada setiap tahanan yang baru masuk. Lanjut menurut Tatang, buku saku ini berisi bacaan dzikir pagi dan petang yang mengutip dari kitab Hisnul Muslim karangan Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani. Selain itu para wargabinaan juga dibagikan buku saku doa-doa harian dari sejak bangun tidur hingga tidur kembali yang dilengkapi arti berbahasa Indonesia dan berbahasa Jawa “Setiap tahanan juga kami berikan buku saku tata tertib peri kehidupan di Rutan agar mereka juga memahami pentingnya saling menjaga suasana aman dan nyaman di dalam Rutan,” ujar mantan Kepala Rupbasan Jakarta Pusat. Selanjutnya Tatang juga menyampaikan bahwa buku saku yang dibagikan bertujuan untuk mengingatkan kembali kebiasaan untuk senantiasa berdzikir dan berdoa. “Apalagi kesempatan  mereka untuk berdoa dan berdzikir selama berada disini cukup banyak, tentu saja kami berharap buku saku ini bisa lebih bermanfaat,” kata Tatang. Salah seorang wargabinaan, sebut saja AR (34 tahun) mengaku merasakan manfaat dari buku saku yang diberikan kepadanya. “Alhamdulillah, saya bisa mengamalkan lebih khusyuk selama di dalam,” katanya.    

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0