Kisah di Balik Lapas Anak (2) Ortu, Kerinduan Terbesar Doni Selama di Lapas

JAKARTA - Narkoba tidak pernah mendatangkan hal positif sedikit pun. Berbagai efek negatif selalu menanti mereka yang "bergaul" dengan obat-obatan terlarang itu. Hal ini yang dialami pelajar kelas XII IPS Ramdoni Malik, penghuni tetap lembaga pemasyarakatan (lapas) anak pria Tangerang selama dua tahun lima bulan terakhir.

Doni -panggilan akrabnya- mengaku terjerat narkoba karena berada dalam lingkungan dan pergaulan yang salah. Dia menjadi penjual obat-obatan terlarang itu setelah ditawari sang paman dengan upah Rp500 ribu tiap transaksi.

"Saya tertangkap pada 2010 saat sedang transaksi di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. Atas tindakan itu, saya divonis hukuman empat tahun tiga bulan," tutur Doni kepada Okezone di Lapas Anak Pria, Tangerang, baru-baru ini.

Delapan bulan menjadi pengedar, Doni menegaskan, tidak pernah sekali pun menggunakan narko

Kisah di Balik Lapas Anak (2) Ortu, Kerinduan Terbesar Doni Selama di Lapas

JAKARTA - Narkoba tidak pernah mendatangkan hal positif sedikit pun. Berbagai efek negatif selalu menanti mereka yang "bergaul" dengan obat-obatan terlarang itu. Hal ini yang dialami pelajar kelas XII IPS Ramdoni Malik, penghuni tetap lembaga pemasyarakatan (lapas) anak pria Tangerang selama dua tahun lima bulan terakhir.

Doni -panggilan akrabnya- mengaku terjerat narkoba karena berada dalam lingkungan dan pergaulan yang salah. Dia menjadi penjual obat-obatan terlarang itu setelah ditawari sang paman dengan upah Rp500 ribu tiap transaksi.

"Saya tertangkap pada 2010 saat sedang transaksi di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. Atas tindakan itu, saya divonis hukuman empat tahun tiga bulan," tutur Doni kepada Okezone di Lapas Anak Pria, Tangerang, baru-baru ini.

Delapan bulan menjadi pengedar, Doni menegaskan, tidak pernah sekali pun menggunakan narkoba. Dia menyatakan, kondisi keluarga dan orangtua yang kerap bertengkar membuatnya melarikan diri dalam lingkungan yang salah.

"Saya mengakui kesalahan saya. Faktor lingkungan, pergaulan, dan orangtua di rumah yang sering cekcok membuat saya kabur dari rumah. Kemudian ada om yang mengajak untuk menjual obat-obatan," paparnya.

Walaupun keadaan di rumah membuat tidak betah, anak ketiga dari 11 bersaudara itu mengaku sangat merindukan sosok orangtuanya selama berada di hotel prodeo itu. Menurut Doni, rasa bersalah yang menghantuinya menjadi tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik ketika keluar dari lapas kelak.

"Keluarga saya jarang berkunjung. Saya maklum dan tidak ingin menyusahkan dan menuntut banyak karena biaya yang harus mereka keluarkan tidak sedikit untuk ke sini dan memberi saya pegangan. Lagipula saat saya kangen, saya bisa telepon ke rumah karena di sini ada wartel," ungkap Doni.

Menjalani rutinitas yang sama setiap hari tentu mendatangkan rasa jenuh dalam diri Doni. Kerinduan untuk kembali menjalani aktivitas seperti dulu juga kerap menyelemutinya. "Jujur, bosan pasti ada. Apalagi kalau malam pasti galau. Raga saya di sini tapi jiwa saya menerawang entah ke mana. Akhirnya masuk dunia khayal tapi yang positif," katanya sembari tertawa.

Sebagai sebuah keluarga besar, Doni mengungkapkan, kerap mengalami perselisihan dengan anak didik (andik) -sebutan bagi penghuni lapas anak pria- lainnya. Namun, katanya, semua pertengkaran yang terjadi bisa diselesaikan dengan damai dengan bersikap saling mengerti.

"Berantem atau adu mulut di sini pernah. Di sini itu ada adik dan abang. Di keluarga saja adik-abang sering bertengkar apalagi di sini yang bukan saudara kandung, abang-adik hanya sebutan saja. Tapi asal si abang bisa lebih pengertian maka tidak perlu sampai bertengkar," imbuhnya.

(rfa)

Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2012/11/30/373/725552/ortu-kerinduan-terbesar-doni-selama-di-lapas

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0