Made In Prison Ubah Stigma Buruk Kehidupan di Balik Jeruji

Share:

Jakarta, INFO_PAS – Karya-karya inspiratif Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dari seluruh lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan negara (rutan) se-Indonesia selalu menjadi hal menarik bagi sosok Evy Amir Syamsudin untuk diabadikan dan dituangkannya dalam kisah-kisah yang menggetarkan hati lewat sebuah buku “Made In Prison” yang diluncurkan hari ini, Jumat (9/3) di Djakarta Theater.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Sri Puguh Budi Utami, yang turut hadir dalam peluncuran buku “Made In Prison” berujar hal menarik dari buku ini adalah mengenalkan sosok-sosok di balik karya unggulan WBP yang menginspirasi.

“Buku ini menggambarkan cerita-cerita positif para WBP di balik karya tersebut, baik sedih, lucu, dan mengharukan yang membuat pembaca bisa berempati dan mengubah stigma buruk pada kehidupan di balik tembok jeruji lapas,” ungkap Utami.

Made In Prison menjadi wadah bercerita Evy mengenalkan produktivitas dan hasil kreasi narapidana dalam kondisi serba terbatas. Mengisahkan lebih dalam tentang hasil karya unggulan narapidana disertai kisah-kisah kehidupan narapidana seperti pada buku pertamanya “Voice of Voiceless” pada tahun 2015.

“Sungguh mengharukan melihat para WBPWBP ma menghasilkan karya yang luar biasa sebagai bagian dari upaya mereka memperbaiki kesalahan masa lalu sehingga menjadi manusia yang lebih baik hari ini,” tutur Evy.

Pada acara peluncuran buku ini, turut pula menghadirkan penampilan kelompok seni rampak bedug WBO perempuan dari Lapas Perempuan Tangerang dan seni tari persembahan dari WBP Lapas Perempuan Jakarta. Keduanya berkolaborasi apik menghibur audiens bersama band asal Italia, Vinicio Capossela Trio.

“Hadir dalam peluncuran buku ini rampak bedug dari WBP dari Lapas Perempuan Tangerang dan kesenian tari dari WBP Lapas Perempuan Jakarta,” terang Utami.

Ia menyatakan bahwa penampilan yang ditampilkan kelompok seni dari lapas ini membuktikan bahwa tak hanya keterampilan, namun edukasi dan bidang kesenian tak luput dari konsentrasi pembinaan di lapas dan rutan.

“Seni, kreativitas, dan pendidikan yang positif harus tetap dikembangkan. Banyak sumber daya manusia usia produktif di dalam lapas dan rutan. Tembok jeruji tidak harus membelenggu kemauan untuk berkembang dan berubah menjadi lebih baik,” tambahnya.

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM dengan semangat membangun produktivitas WBP mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama mendukung pembinaan usia produktif di dalam lapas dan rutan serta membentuk sumber daya manusia yang berkualitas sehingga tak lagi dipandang sebelah mata dan dapat turut serta berkontribusi dalam pembangunan nasional. ***

Made In Prison Ubah Stigma Buruk Kehidupan di Balik Jeruji | INFO_PAS | 4.5

Berita Lainnya