Membawa Keluar Seni dari Rutan

Share:

“APALAGI penjara Pondok Bambu. Masuk gemuk. Pulang tambah gemuk.” Begitu sepotong lagu yang didendangkan Ena dan Christa. Keduanya ialah penyiar Keong Radio 114,2, sebuah radio komunitas di dalam Rumah Tahanan Pondok Bambu Jakarta. Rutan itu merupakan satu-satunya rutan khusus perempuan di Jakarta.

Itu karya Venti Wijayanti yang dipresentasikan dalam pameran bertajuk Bon Seni pada 23-29 November 2016 di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Istilah Bon tidak dipergunakan serta-merta. Kata itu biasa digunakan untuk menandai warga binaan yang diperbolehkan keluar blok sel untuk mengikuti kegiatan.

Proyek seni perupa perempuan ialah kali kedua digelar Komite Seni Rupa DKJ. Tahun sebelumnya, proyek seni perupa perempuan bertajuk Wani Ditata Project membaca ulang sejarah mengenai organisasi Dharma Wanita yang berdiri saat pemerintahan Orde baru berkuasa (1966-1998).

Kali ini, dengan tema Panoptic, proyek ini tidak hanya fokus pada persoalan gender, tetapi juga mekanisme kekuasaan sebagai struktur besar di tengah kasus kriminalitas dan hukum yang diberlakukan. Panoptic merujuk pada pengembangan konsep pendisiplinan masyarakat. “Proyek Seni Perupa Perempuan seri kedua masih membicarakan perempuan dalam konteks sosial-politik. Bagaimana konstruksi perempuan dalam mekanisme sistem dan lembaga yang dibuat negara untuk masyarakatnya,” terang Angga Wijaya dalam kuratorialnya.

Selama satu bulan, terhitung sejak 19 September-21 Oktober 2016, para seniman melakukan observasi sosial di Rutan Pondok Bambu, Jakarta. Mereka juga melakukan pendekatan personal ke warga binaan perempuan. Melalui proses tersebut, seniman melakukan aktivitas dan kolaborasi di dalam rutan sesuai dengan pengembangan ide dan metode masing-masing.

“Bon Seni yang diisi dengan kegiatan seniman dan warga binaan mencoba menciptakan hubungan realitas yang baru itu secara reflektif dan dialektis,” lanjut Angga.

 

Khas dan multidisiplin

Venti tidak sendiri dalam pameran itu. Masih ada enam seniman perempuan lain yang turut dalam pameran itu. Tujuh seniman perempuan yang dipilih mempunyai metode karya yang khas dan multidisiplin, yakni Ayu Dila Martina, Daniella F Praptono, dan Ika Vantiani dari Jakarta, Meicy Sitorus dan Prilla Tania dari Bandung, Nenan Angenani Titis dan Venti Wijayanti dari Yogyakarta.

Venti Wijayanti membuat radio komunitas di dalam rutan yang dikerjakan bersama-sama warga binaan. Venti mengawali perkenalan tentang radio komunitas dengan mengundang Hauritsa (RURU Radio) sebagai pemateri. Ena dan Christa terpilih sebagai penyiar radio dan mereka intens mengembangkan konsep radio ini antara lain dengan memberikan nama Keong Radio 114,2, membuat desain logo, naskah program, dan jingle radio. Nama Keong merupakan istilah blok sel tahanan, berarti memasukkan warga binaan ke blok sel. Angka 114,2 diambil dari salah satu pasal tentang narkotika.

Ayu Dila Martina menyelidiki kebutuhan domestik dan seksual warga binaan. Awalnya Ayu membuat lokakarya desain busana sebagai jalan masuk mengenali mereka. Ayu lalu membagikan kuesioner dengan pertanyaan seputar kebutuhan seksual mereka dengan menyimbolisasikannya melalui gambar buah-buahan.

Ayu kemudian membuat sketsa dengan warga binaan untuk diaplikasikan ke dalam aktivitas mural di tembok rutan secara bersama-sama.

Meicy Sitorus mencari tahu strategi dan kebiasaan sehari-hari warga binaan Meicy menemukan sejumlah istilah seperti bongsengan, dikeongkan, bokaw, dan sebagainya. Ada pula temuan mitos seperti setelah keluar rutan jangan tengok ke belakang karena bisa masuk kembali. Meicy memberikan lokakarya fotografi secara dua arah, di satu sisi sebagai tawaran pola pikir baru. Itu menjadi kesempatan bagi warga binaan untuk mengakses kamera dalam mengasah mereka terhadap realitas keseharian di rutan. Di sisi lain, kamera juga sebagai jembatan Meicy untuk mencairkan hubungan dengan mereka dalam melihat infromasi mengenai strategi bertahan hidup di rutan.

Nenan Angenani Titis membuat grup teater bersama warga binaan. Selama pertemuan di rutan, mereka latihan teater bersama seperti olah tubuh, keaktoran, dan membuat naskah. Puisi karya warga binaan menjadi bahan adaptasi untuk membuat naskah pentas teater. Selain itu, Nenan membuat buku yang berisi modul latihan dan pentas teater yang dapat dikembangkan warga binaan.

Prilla Tania mengajak warga binaan membuat sepatu kertas yang langsung dicetak dari kaki warga binaan dengan bahan-bahan dari kertas terigu garam air sebagai lem dan cat poster untuk mewarnai. Pilihan bahan tersebut tidak dilarang masuk rutan. Prilla bersama warga binaan saling membantu proses mencetak kaki satu sama lain. Prilla mengajak warga binaan yang telah mengikuti kegiatan ini untuk juga dilakukan ke blok sel agar dapat mengajak warga binaan yang lain untuk turut ikut mencetak sepatu kertas. Kegiatan ini menjadi simbol identitas dan kebebasan. Hasil sepatu dibawa keluar untuk mewakili kehadiran warga binaan di ruang pamer.

Pada akhirnya, merujuk pada keterangan kuratorial, ada jawaban menarik ketika mempersoalkan alasan proses yang dilakukan dalam rutan atau pertanyaan tentang konsep pemilihan tersebut.

“Proses artistik yang dilakukan membuat seniman memiliki keterikatan secara langsung dalam kehidupan sosial. Seni kemudian memberi inspirasi dalam dinamika perubahan sosial dan sebaliknya, kondisi sosial memberi pengaruh pada kesenian itu sendiri baik dalam aspek estetika atau aktivisme. Seni menjadi medium luasan pengetahuan dan kesadaran,” terang Angga Wijaya. (M-2)

Sumber : mediaindonesia.com

Membawa Keluar Seni dari Rutan | INFO_PAS | 4.5

Berita Lainnya