MENGURANGI TINGKAT PELANGGARAN HUKUM DENGAN PESANTREN TERPADU DI LAPAS CIANJUR

Cianjur, INFO_PAS - Program pesantren terpadu At-Taubah yang diterapkan di Lapas Cianjur, Jawa Barat, dapat dijadikan solusi untuk menurunkan tingkat kejahatan di Kabupaten Cianjur. Hal tersebut di sampaikan oleh Kepala Lapas Kelas IIB Cianjur, Tri Saptono, saat membahas MoU tentang Pendidikan Keagamaan di Lapas/Rutan antara Ditjen Pemasyarakatan dengan Kementerian Agama di Fave Hotel, Jakarta Pusat (19/8).

Tri Saptono mengatakan bahwa tahun 2013 lalu, dalam
MENGURANGI TINGKAT PELANGGARAN HUKUM DENGAN PESANTREN TERPADU DI LAPAS CIANJUR

Cianjur, INFO_PAS - Program pesantren terpadu At-Taubah yang diterapkan di Lapas Cianjur, Jawa Barat, dapat dijadikan solusi untuk menurunkan tingkat kejahatan di Kabupaten Cianjur. Hal tersebut di sampaikan oleh Kepala Lapas Kelas IIB Cianjur, Tri Saptono, saat membahas MoU tentang Pendidikan Keagamaan di Lapas/Rutan antara Ditjen Pemasyarakatan dengan Kementerian Agama di Fave Hotel, Jakarta Pusat (19/8).

Tri Saptono mengatakan bahwa tahun 2013 lalu, dalam satu semester terdapatlebih dari 300 kasus hukum di Kabupaten Cianjur, namun untuk semester awal tahun ini berkurang jumlahnya, sekitar 150 kasus. “Jumlah kasusnya turun dari 300 kasus di tahun 2013 sementara di awal semester pertama tahun 2014 hanya 150 kasus,” ungkapnya. Menurutnya hal tersebut karena Narapidana yang telah bebas dari Lapas Cianjur tidak mengulangi perbuatannya kembali. “Semua wargabinaan yang beragama Islam mengikuti program pendidikan pesantren terpadu di dalam Lapas. Mereka bahkan ada yang menjadi dai,” jelasnya. Tri Saptono menambahkan bahwa Lapas Cianjur menggunakan pendekatan pendidikan pondok pesantren terpadu agar mereka lebih memahami agama Islam secara utuh, sehingga apabila telah bebas lebih mudah berintegrasi dengan masyarakat. Pada tahun 2012 jumlah penghuni sempat mencapai angka berkisar angka 800 bahkan sempat tembus hingga 900 penghuni, sementara kapasitas hanya untuk 450 orang. Dengan adanya kegiatan pondok pesantren terpadu mampu mengurangi angka residivis. Pada tahun 2014 ini terjadi penurunan jumlah penghuni antara 500 hingga 600 orang. "Alhamdulillah saat ini jumlah penghuninya sudah banyak berkurang dibandingkan dua tahun yang lalu,” ujarnya.  (JP)   Penulis : Fariz N

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0