Para Perempuan Ini Kerap jadi Tempat Napi Curhat

Share:

Banjarbaru – Tak mudah kerja di penjara. Apalagi bagi kaum hawa. Banyak tantangan yang harus dilawan. Kesabaran pun turut ditempa. Salah sedikit, bisa saja memicu keributan dengan tahanan.

Layaknya wanita muda pada umumnya. Hurul Ain, Desy Nuraliza dan Inggit Fitria Yola turut bersolek. Lipstik merah dan aroma wangi parfum tampak terlihat dan terasa. Meskipun tempat mereka mengabdi adalah penjara.

Ya, Ain, Desy dan Yola merupakan tiga sipir dari sembilan sipir wanita yang bekerja di Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Kelas III Banjarbaru. Sudah lebih dari satu tahun mereka bekerja. Setiap hari bertatap muka dan berkomunikasi dengan napi wanita.

Dalam kesehariannya, mereka jadi petugas jaga. Khusus di blok wanita yang dihuni hampir 50 tahanan perempuan. Dari kasus tindak pidana ringan hingga narkotika.

Sejak lulus CPNS Kemenkumham Kalsel beberapa tahun lalu. Ketiga sipir berusia 20 tahun ini langsung ditempatkan menjaga blok tahanan. Mereka bertanggungjawab atas ketertiban dan keamanan di dalam sel.

Ain bertutur tak menyangka bakal bekerja sebagai sipir. Sama halnya dengan pandangan kebanyakan orang lainnya. Awalnya ia menilai penjara bukan tempat yang ramah bagi wanita seperti dirinya. Penuh kesan sangar dan brutal.

“Nyoba-nyoba akhirnya lulus. Awalnya khawatir bagaimana berhadapan dengan WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan). Orang tua juga sempat was-was. Tapi Alhamdulillah pandangan itu ternyata salah,” katanya.

Sebelas dua belas dengan Ain. Desy berpikiran senada. Penjara bagi Desy terkesan tak ramah. Apalagi penghuninya orang dengan latar belakang tersandung kasus kriminal.

Namun kekawatirannya sirna. Saat lulus CPNS dan ditempatkan di Banjarbaru. Perspektif Desy tentang Penjara berubah. Malah ia mengaku menikmati bekerja sebagai sipir.

“Kalau kesan tempat kriminal di awal-awal masih ada. Tapi satu sisi saya jadikan tantangan buat diri sendiri. Saat dijalani ternyata tidak seperti dipikirkan di awal-awal, malah saya lancar saja berinterkasi dengan mereka (tahanan),” ceritanya.

Begitupun dengan Yola. Juga sempat dibayangi ketakutan berlebih. Sipir berparas manis ini sekarang begitu leluasa bekerja di penjara. Bahkan ia menganggap tahanan sebagai bagian dari keluarganya.

“Mereka (tahanan) tak semuanya seperti yang dibayangkan. Sama kok dengan kita, hanya saja mereka pernah berbuat salah. Sebagai sipir kita selain menjaga keamanan juga kerap jadi teman ngobrolnya,” kenangnya.

Bahkan, kata Yola, ada rasa bahagia ketika seorang tahanan bebas. Lantaran menurutnya sebagai sipir ia sukses membina dan mengarahkan mereka selama menjalani masa kurungan.

“Mereka kan di dalam tidak punya keluarga, kerap kita bisa jadi tempat curhatnya. Curhat banyak hal, dari kisah hidup, keluarga hingga merencanakan masa depannya. Intinya sih bagaimana pendekatan kita,” paparnya.

Akan tetapi baik Ain, Desy ataupun Yola juga punya komitmen penegasan. Yakni tidak boleh terlalu dekat dan percaya dengan tahanan. “Jangan terlalu percaya, jangan sampai diperdaya. Harus tetap jeli dan jaga jarak,” wakil Ain.

Lalu apa tantangan mereka menghadapi tahanan selama ini? Ketiga sipir ini kompak menjawab kalau menghadapi cekcok dan keributan kecil seakan jadi menu rutin.

“Di situlah bagaimana kita mengambil peran. Kadang memang harus lembut dan mendekati, tapi satu sisi dan di kondisi tertentu harus tegas. Ini demi kenyamanan dan ketertiban bersama,” timpal Desy.

Bahkan untuk menjaga profesionalitas, Yola menuturkan kalau ia kerap harus merubah karakternya menjadi orang lain ketika menginjakkan kaki di blok tahanan.

“Kalau di luar ya kita jadi karakter kita apa adanya dan seperti cewek lainnya. Namun karena pekerjaan, kita harus tetap menjaga wibawa. Jadi tetap tegas, enggak boleh terlihat tidak serius saat jaga dan patroli,” tegasnya.

Satu hal lagi tantangan menjadi sipir. Ketiga sipir muda ini harus “puasa” dari gawai selama bekerja. Khususnya ketika patroli. Ini sesuai dengan aturan bahwa lingkungan blok harus bebas dari handphone.

“Kalau sedang patroli dan jaga itu enam jam tidak boleh pegang hape (handphone). Awalnya susah sih, akhirnya terbiasa juga. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkap Ain.

Lalu apa pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan bahkan kasar dari tahanan? Ain, Desy dan Yola menghela nafas. “Alhamdulillah tidak pernah. Asal kita niatnya baik dan mau membina, Insya Allah tidak ada yang seperti itu,” jawab Desy.

Ketiga sipir ini mengungkapkan bahwa citra Lapas dan tahanan di luar tak semuanya negatif. “Karena yang di dalam (tahanan) belum tentu jahat, dan yang di luar belum tentu baik,” pungkas Yola.

Sementara itu terkait modal pelatihan terhadap sipir wanita. Kalapas Banjarbaru, Abdul Aziz melalui Kasubsi Kamtib (Kepala Keamanan) Lapas Banjarbaru, Fikri Rahmadian mengatakan bahwa sebelum ditempatkan di Lapas semuanya telah dibekali pelatihan khusus.

“Saat di sini pun terus kita bina. Sejauh ini saya nilai kinerja semuanya bagus, itu dibuktikan dengan kondusifnya suasana blok. Kita juga selalu melakukan monitoring terhadap pekerjaan mereka,” katanya.

Tidak jauh berbeda dengan sipir pria pada umumnya. Sipir wanita ini kata Fikri juga melakoni shift malam bahkan sampai begadang. “Karena menjaga ketertiban dan keamanan bagi seorang petugas adalah sebuah pengabdian,” pungkasnya.

Di Lapas Banjarbaru sendiri saat ini dihuni lebih dari 1700 tahanan. Untuk jumlah sipir yang bertugas, diketahui berjumlah 118 orang. Angka ini masih belum begitu ideal untuk menangani ribuan tahanan.(Muhammad Rifani/rvn/ay/ema)

Sumber : kalsel.prokal.co

 

Para Perempuan Ini Kerap jadi Tempat Napi Curhat | INFO_PAS | 4.5

Berita Lainnya