Penuhi Syarat, WBP & Anak Jalani Program Asimilasi & Reintegrasi

Penuhi Syarat, WBP & Anak Jalani Program Asimilasi & Reintegrasi

Kupang, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kupang mengeluarkan 23 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk menjalani Asimilasi di rumah, Selasa (3/8). Pengeluaran WBP dilakukan sesuai Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Permenkumham) RI Nomor 24 Tahun 2021 sebagai upaya untuk mencegah dan mengatasi penularan Coronavirus disease (COVID-19) yang saat ini masih meningkat.

“Tujuan dari pelaksanaan Permenkumham RI Nomor 24 Tahun 2021 agar tingkat hunian Lapas bisa menjadi longgar sehingga penerapan protokol kesehatan dapat dijalankan dengan baik. Selain itu, kami juga dapat menghemat anggaran melalui biaya makan dan minum WBP,” terang Kepala Lapas (Kalapas) Kupang, Badarudin.

Pengeluaran 23 WBP untuk menjalani Asimilasi di rumah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku dan tanpa dipungut biaya. Tak lupa, WBP yang akan menjalani Asimilasi di rumah diingatkan untuk selalu menjaga diri, menjaga nama baik Lapas, dan menjadi duta di masyarakat dalam hal disiplin protokol kesehatan.

“Tentunya semua yang keluar telah memenuhi persyaratan, baik substantif maupun administratif. Mohon WBP agar menahan diri, jangan melakukan ketributan, apalagi melakukan pelanggaran hukum. Saya berharap kalian tidak kembali lagi ke Lapas dan disiplin terhadap protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah,” pinta Kalapas.

Salah satu WBP yang mendapat Asimilasi di rumah, Viktor Ferdinan Maubana, berterima kasih karena selama menjalani pidana di Lapas Kupang, ia dan teman-temannya dilayani dengan baik. “Kami semua sangat merasa gembira dan berterima kasih kepada seluruh jajaran Lapas Kupang. Selama di sini kami telah dilayani dengan sangat baik. Makan minum, hak kesehatan, Remisi, dan hak lain kami peroleh dengan baik dan tanpa pungutan biaya,” ucap Viktor. 

Dari Lapas Kelas III Namlea, dua WBP an. Syarifudin Saleh dan Ruslan Arif Soamole memenuhi syarat untuk kembali laksanakan peralihan status program Integrasi dari Asimilasi di rumah menjadi program Cuti Bersyarat (CBB), Selasa (3/8). “Mereka sebelumnya sudah selesai menjalani program Asimilasi di rumah pada tanggal 2 Juli dan 9 Juli 2021. Maka, kami melakukan pemanggilan ulang terhadap keduanya untuk kembali melaksanakan program CB,” urai Kepala Subseksi (Kasubsi) Pembinaan, Hamzah.

Ia menjelaskan saat ini jumlah WBP yang sudah menjalani program Asimilasi di rumah berdasarkan Permenkumham RI Nomor 32 Tahun 2020 sebanyak 16 orang dan 12 orang berdasarkan Permenkumham RI Nomor 24 Tahun 202. “Masih akan ada penambahan. Ketika sudah habis masa Asimilasi di rumah, mereka akan kami panggil lagi untuk melaksanakan peralihan status program Integrasi,” lanjut Hamzah.

Sementara itu, Kalapas Namlea, Ilham berpesan agar keluarga juga ikut andil dan ambil bagian dalam memantau aktivitas WBP di luar Lapas serta memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada mereka agar dapat menjalani program ini dengan baik. “Saya harap WBP yang sedang menjalani program Integrasi, baik Asimilasi di rumah maupun CB, dapat mematuhi segala peraturan dan imbauan pemerintah serta tetap mematuhi protokol kesehatan,” pinta Ilham.

Salah satu WBP, Syarifudin Saleh, sangat berterima kasih kepada Lapas Namlea atas diberikannya kesempatan untuk menjalani program tersebut. "Kami dilayani dengan sangat baik di sini, layanannya transparan, mudah untuk berkonsultasi, dan tidak dipungut biaya,” ujarnya.

Sementara itu, 12 WBP Lapas Kelas I Cipinang langsung sujud syukur usai mendapat Asimilasi di rumah, Selasa (3/8). Program Asimilasi di rumah adalah sebuah solusi yang dicanangkan pemerintah melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) dalam mengatasi penyebaran COVID-19 di lingkungan Pemasyarakatan serta mengatasi overcrowded hunian.

Tonny Nainggolan selaku Kalapas Cipinang berpesan kepada WBP yang bebas Asimilasi bahwa program ini bukanlah bebas sepenuhnya, namun ada syarat dan ketentuan yang wajib diketahui bahwa mereka menjalani sisa masa hukumannya di rumah dengan pengawasan Balai Pemasyarakatan (Bapas), Kepolisian, dan masyarakat. "Jangan berbuat tindakan yang melanggar hukum dan meresahkan di tengah-tengah masyarakat di masa pandemi saat ini,” tegasnya.

Sementara itu, Boy G. Sagara selaku Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan menyampaikan proses pengurusan Asimilasi yang dilaksanakan dari awal hingga saat ini tidak dikenakan biaya alias gratis. "Jika ada petugas atau oknum yang mengatasnamakan instansi meminta biaya, maka akan kami proses dan tindak tegas,” janjinya.

Salah satu WBP, Dendi Rizkiawan, berterima kasih kepada Lapas Cipinang dan Kemenkumham sehingga bisa mengikuti program Asimilasi di rumah. “Alhamdulillah, selama proses pengurusan saya tidak dipungut biaya. Saya akan menjaga diri baik-baik agar dapat diterima di kalangan masyarakat dan tidak akan berhubungan dengan hukum lagi. Masa pidana kemarin sudah membuat saya jera," ucapnya.

Kegiatan pembebasan Asimilasi di rumah berlangsung aman, lancar, kondusif, dan sesuai protokol kesehatan. Selain itu, demi menjaga stabilitas kemanan dan ketertiban Lapas, 12 WBP tersebut diperiksa dan digeledah sebelum meninggalkan Lapas, baik badan maupun barang yang dibawanya, sesuai Standar Operasional Prosedur.  

Dari Ambon, dua Anak Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Ambon dirumahkan karena mendapat program CB, Selasa (3/8). Surat Keputusan (SK) CB diberikan langsung staf pembinaan, Marenza Titaley, kepada Anak didampingi orang tuanya.

Ia mengingatkan bahwa CB bukan berarti Anak sepenuhnya bebas, tetapi masih dalam pemantau LPKA dan Bapas Ambon. Pengeluaran Anak juga dilaksanakan tanpa dipungut biaya selama Anak telah memenuhi persyaratan, yakni menjalani ½ masa pidana, berkelakuan baik selama menjalani pidana, dan memenuhi syarat, baik administratif maupun subtantif dalam pengurusan layanan hak Integrasi. 

 

“Kami harap orang tua tetap melakukan pengawasan dan pembimbingan kepada anak agar tidak mengulangi perbuatan yang melanggar hukum di luar nanti. Ketika Anak kembali melakukan pelanggaran hukum, maka hak CB-nya akan dicabut,” tegas Marenza.

 

Sementara itu, Kepala LPKA Ambon, Catherian V. Picauly, berpesan kepada Anak untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan jangan malu kepada masyarakat. “Terus kembangkan apa yang sudah didapatkan selama di LPKA Ambon, baik melalui pembinaan kerohanian, kepribadian, maupun pendidikan keterampilan. Ingat, jangan melakukan kesalahan yang sama lagi,” pesan Catherian.

Sehari berselang, Rabu (4/8) tiga WBP Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Masohi mendapat Asimilasi di rumah usai memenuhi persyaratan administratif dan substantif. SK Asimilasi di rumah diberikan langsung Kasubsi Tahanan, Hakim Abdul Gani, kepada ketiga WBP.

Sebelum dilakukan pengeluaran, ketiga WBP telah diberikan arahan oleh Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Ambon selaku Bapas yang akan mengawasi ketiga WBP tersebut. “Pemberian Asimiliasi di rumah bukan berarti masa pidana telah selesai. Kalian masih diwajibkan untuk terus melapor kepada Bapas secara berkala sampai masa pidana benar-benar selesai. Hal yang tidak kalah penting adalah jangan berbuat tindakan yang melanggar hukum dan meresahkan di tengah-tengah masyarakat,” pesan Gani.

 

Ketiga WBP menyampaikan pelayanan yang diberikan Rutan Masohi sudah sangat baik dan bersyukur karena bisa mendapatkan program Asimilasi di rumah dengan gratis tanpa ada pungutan biaya mulai dari awal pengurusan hingga menjalankan program Asimilasi di rumah. Mereka juga tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih telah dibina, dirawat, dan diberi pembekalan yang baik sehingga dapat kembali diterima di tengah keluarga dan masyarakat.

 

Kontributor: Lapas Kupang, Lapas Namlea, Lapas Cipinang, LPKA Ambon, Rutan Masohi

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0