Rutan Dengan Pelarian Terbesar, Kini Berbenah Diri

Share:

Pekanbaru – Rumah Tahanan (Rutan) Sialang Bungkuk, Pekanbaru, Riau, pernah menorehkan suatu cerita tentang sejarah pelarian terbesar tahanan di tanah air. Sebanyak 448 penghuni Rutan menjebol pertahanan keamanan yang ketika itu hanya dijaga oleh 6 petugas. Sedangkan isi hunian lebih dari 1.800 orang.

“Waktu itu hari jumat, saya tidak tahu siapa yang memulai, lihat ada pintu terbuka ya saya ikut saja lari,” kata Giovani, salah seorang Napi yang ikut kabur saat itu kepada Gatra.com. Kondisi lapas yang tidak manusiawi mendorong dirinya untuk ikut-ikutan kabur seperti napi lainnya. “Satu sel diisi 96 orang, tidur sudah gak jelas bentuknya. Belum lagi air, jadwal kunjungan, makanan, itu banyak punglinya,” ia menjelaskan.

Di hari yang sama, Giovani kembali ke Rutan. Tidak seperti beberapa napi lain yang harus ditangkap untuk kembali, ia memutuskan menyerahkan diri. “Saya takut nanti keluarga saya terseret-seret. Saya menyerahkan diri saja,” katanya.

Kejadian tersebut terjadi, bulan Mei lalu. Tragis, menyedihkan namun membangkitkan suatu pelajaran besar. Membelalakkan mata publik bahwa ketidakseimbangan hunian dan pegawai bukan hanya alasan klasik. Namun jadi permasalan serius yang harus dijawab dengan tindakan nyata.

Saat ini, beragam perbaikan sedang diusahakan pengelola Rutan. Penambahan pegawai Pemasyarakatan hingga 14.000 orang di tahun ini, bisa jadi merupakan salah satu jawabannya.

Melewati enam bulan waktu pemulihan, Rutan Sialang Bungkuk bangkit dengan segala usaha dan kerja keras. Restrukturisasi semua bidang, petugas dan narapidana adalah target utama rekonsiliasi keamanan dan pembinaan.

“Kenyamanan hunian menjadi prioritas kami, seperti makanan yang higienis, penambahan ketersediaan air bersih, pemasangan kipas setiap kamar,” tutur Kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM Riau, Dewa Putu Gede.

Dia mengatakan, perlu implementasi dan optimalisasi Teknologi Informasi (IT) dengan pemanfaatan online Sistem Database Pemasyarakatan. “Kita tingkatkan layanan kunjungan, pengamanan data kunjungan dan pengelolaan kantin dengan berbasis IT,” sambungnya.

Langkah lain yang dilakukan adalah mengganti 28 petugas Rutan dan memindahkan 700 narapidana ke Lapas lain. Selain itu, membangun jejaring kerjasama dengan berbagai pihak, untuk mendukung tata kehidupan hunian Rutan.

Kerjasama pun dilakukan dengan Dinas Kesehatan untuk layanan kesehatan, Kantor Kementrian Agama dalam pengelolaan pondok pesantren, Panti Sosial Bina Remaja kerjasama dengan Kemensos untuk rehabilitasi sosial pengguna narkoba.

“17 November ini menjadi momentum penyatuan kekuatan petugas pemasyarakatan, warga binaan, masyarakat dan Pemerintah Daerah, membangun komitmen untuk berperilaku disiplin dan harmonis, ” ungkap Lilik Sujandi, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kumham Riau.

Rutan Sialang Bungkuk hari ini (1t/11) mengadakan Apel Besar Satuan Komunitas Pramuka Pengayoman dalam Pencanangan Kader Disiplin Narapidana. Lilik meyakini bahwa kegiatan pada hari itu dan beberapa program unggulan yang dilaksanakan diyakini mampu mengatasi permasalahan yang pernah terjadi di Rutan Sialang Bungkuk.

“Kelompok Dukungan sebaya dengan format Pramuka yang telah terbentuk, kerjasama dengan Kwartir Pramuka Riau, menjadi upaya nyata bahwa narapidana jugalah yang akan mengajak teman-temannya untuk aktif terlibat pada pembinaan, perawatan dan menegakkan kedisiplinan bersama, sehingga terciptalah kondisi yang kondusif . Dari mereka untuk mereka, demi kenyamanan bersama,” imbuh Lilik.

Pada hari itu juga akan diresmikan Pesantren, Perpustakaan dan Sanggar Seni, serta PasMart yang berbasis IT, sebagai bentuk bangkitnya Rutan Sialang Bungkuk menjadi bagian Revitalisasi dan Reformasi Pemasyarakatan.

 

Sumber: Gatra.com

Rutan Dengan Pelarian Terbesar, Kini Berbenah Diri | INFO_PAS | 4.5

Berita Lainnya