WBP SULAP LIMBAH GARMEN MENJADI KESET

Sukabumi, INFO_PAS – Kondisi gedung yang berusia lebih dari satu abad dan area bangunan yang tidak terlalu luas tak lantas menciutkan semangat jajaran Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Sukabumi untuk tetap menjalankan fungsi pembinaan terhadap Warga Binaan (Warna). Hal ini sebagaimana ditegaskan Kepala Lapas (Kalapas) Sukabumi, Latief Safiudin saat dihubungi INFO_PAS, Selasa (12/8). “Walau lapas ini minimalis serta hanya memiliki lahan bengkel kerja yang minim, tetapi kami tetap optimis dan percaya diri untuk menjalankan kegiatan kerja," tandas Latief. Menurut Kalapas, salah satu kegiatan unggulan di Lapas Sukabuni adalah pembuatan keset dari bahan limbah garmen. “Di daerah Sukabumi banyak terdapat perusahaan garmen, sehingga kami memanfaatkan sumber daya yang ada,” tambahnya. Salah satu Warna yang juga koordinator pembuatan keset, Januar als Panjul, mengatakan pembuatan keset ini membutuhkan proses yang cukup lama dan

WBP SULAP LIMBAH GARMEN MENJADI KESET
Sukabumi, INFO_PAS – Kondisi gedung yang berusia lebih dari satu abad dan area bangunan yang tidak terlalu luas tak lantas menciutkan semangat jajaran Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Sukabumi untuk tetap menjalankan fungsi pembinaan terhadap Warga Binaan (Warna). Hal ini sebagaimana ditegaskan Kepala Lapas (Kalapas) Sukabumi, Latief Safiudin saat dihubungi INFO_PAS, Selasa (12/8). “Walau lapas ini minimalis serta hanya memiliki lahan bengkel kerja yang minim, tetapi kami tetap optimis dan percaya diri untuk menjalankan kegiatan kerja," tandas Latief. Menurut Kalapas, salah satu kegiatan unggulan di Lapas Sukabuni adalah pembuatan keset dari bahan limbah garmen. “Di daerah Sukabumi banyak terdapat perusahaan garmen, sehingga kami memanfaatkan sumber daya yang ada,” tambahnya. Salah satu Warna yang juga koordinator pembuatan keset, Januar als Panjul, mengatakan pembuatan keset ini membutuhkan proses yang cukup lama dan sulit karena bahan limbah garmen harus terlebih dahulu dijahit satu persatu hingga membentuk tali. “Setelah itu baru bisa dianyam dalam cetakan hingga membentuk keset. Sementara ini kami sanggup memproduksi 3-4 keset dalam dua hari mengingat keterbatasan tempat dan jumlah Warna,” ujar Januar. Menurut pihak lapas, biasanya keset ini diburu oleh ibu rumah tangga karena harganya yang terjangkau, yakni Rp.15.000-20.000, tergantung tingkat kesulitan anyaman. “Kami berharap kiranya pihak swasta ataupun pemerintah dapat membantu proses pemasaran yang lebih luas,” harap Ade Suyatman, Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja Lapas Sukabumi. (IR)   Kontributor: Indra Rahmawan  

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0