Dari Kedelai Jadi Karya, Warga Binaan Lapas Batulicin Produksi Tempe Mandiri
Batulicin, INFO PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin terus kembangkan program pembinaan kemandirian melalui produksi tempe yang dikelola langsung oleh Warga Binaan di ruang Balai Latihan Kerja. Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran keterampilan sekaligus sarana membangun produktivitas selama menjalani masa pidana.
Setiap harinya, program produksi tempe di Lapas Batulicin mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 30 bungkus tempe siap konsumsi. Seluruh hasil produksi tersebut kemudian didistribusikan ke Dapur Sehat Lapas Batulicin untuk mendukung kebutuhan konsumsi Warga Binaan.
Proses pembuatan tempe dimulai dari pemilihan dan perendaman kedelai selama kurang lebih 12 jam. Setelah itu, kedelai direbus, dikupas kulitnya, dicuci, kemudian didinginkan sebelum dicampur ragi dan dikemas untuk proses fermentasi.
Tahap fermentasi berlangsung sekitar 36 hingga 48 jam hingga kedelai berubah menjadi tempe yang siap digunakan. Seluruh proses produksi dilakukan dengan pendampingan petugas guna memastikan kualitas, kebersihan, dan keamanan pangan tetap terjaga.
Petugas Lapas Batulicin, Ahmad Jaidi Alfi, menjelaskan proses pembuatan tempe dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kualitas hasil produksi. “Selain menghasilkan produk yang layak konsumsi, kegiatan ini juga bertujuan membentuk etos kerja, kedisiplinan, dan keterampilan yang dapat mereka manfaatkan setelah bebas nanti,” ujarnya.
Program pembuatan tempe tidak hanya memberikan keterampilan praktis kepada Warga Binaan, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama. Melalui kegiatan ini, Warga Binaan memperoleh pengalaman kerja yang dapat menjadi bekal saat kembali ke tengah masyarakat.
Salah satu Warga Binaan berinisial K menikmati setiap proses pembinaan yang dijalani melalui kegiatan produksi tempe. “Bagi saya, kegiatan ini bukan sekadar membuat tempe, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar, berkarya, dan mengisi masa pidana dengan hal yang bermanfaat. Saya merasa senang karena hasil pekerjaan kami bermanfaat untuk banyak orang dan memberikan nilai positif selama menjalani pembinaan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, menegaskan pembinaan kemandirian harus menghasilkan keterampilan nyata dan berkelanjutan. “Produksi tempe ini merupakan komitmen kami dalam menghadirkan pembinaan berkelanjutan, produktif, dan memiliki nilai manfaat. Kami ingin Warga Binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh keterampilan yang dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat,” harapnya.
Melalui produksi tempe mandiri ini, Lapas Batulicin terus memperkuat pembinaan berbasis keterampilan produktif dan berorientasi pada kemandirian. Program tersebut diharapkan membekali Warga Binaan dengan kemampuan kerja yang berguna sekaligus menumbuhkan semangat untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat. (IR)
Kontributor: Lapas Batulicin
What's Your Reaction?


