Dari Balik Lapas Palu, Warga Binaan Belajar Ubah Fiberglass Jadi Tempat Sampah

Dari Balik Lapas Palu, Warga Binaan Belajar Ubah Fiberglass Jadi Tempat Sampah

Palu, INFO_PAS – Dari balik tembok Pemasyarakatan, keterampilan tidak berhenti pada proses belajar. Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palu, Warga Binaan mulai mengolah fiberglass menjadi tempat sampah, yakni keterampilan sederhana yang diproyeksikan tidak hanya memberi manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat.

Salah satu Warga Binaan berinisial DBP menunjukkan proses tersebut dikerjakan saat ditemui Tim Humas Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Selasa (29/9). Rizki Fandu Dwiki, salah satu anggota Tim Humas, melihat keterampilan tersebut sebagai salah satu potensi pembinaan yang menarik untuk terus dikembangkan. Selain menghasilkan produk yang memiliki fungsi bagi lingkungan, proses pembuatannya memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk belajar keterampilan baru secara langsung dan membangun kepercayaan diri melalui karya yang mereka hasilkan.

“Yang menarik dari kegiatan ini bukan hanya produknya, tetapi proses bagaimana Warga Binaan belajar dari awal hingga menghasilkan sebuah karya. Ke depan, keterampilan seperti ini memiliki peluang untuk dikembangkan sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan di Lapas, tetapi juga dapat menjadi bekal ketika Warga Binaan kembali ke masyarakat,” terang Fandu.

Bagi DBP, membuat tempat sampah bukan sekadar menghasilkan sebuah produk. Di dalam prosesnya, ada kesempatan untuk belajar, mengasah keterampilan sekaligus mengajak Warga Binaan lainnya memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan di kemudian hari.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan satu produk. Dengan bahan Glass Mat 450, resin atau minyak fiber, katalis, dan pigmen resin, satu tempat sampah dapat dikerjakan sekitar 30 menit hingga tahap finishing. Warna merah, kuning, dan hijau digunakan sebagai pembeda tempat sampah untuk kategori B3, organik, dan anorganik.

“Semoga hasil karya kami bisa diperhatikan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah kota. Kami juga mengajak teman-teman di sini untuk bersama-sama belajar membuat tempat sampah ini sehingga ke depannya memiliki bekal keterampilan dan menjadi bermanfaat bagi orang banyak,” harap DBP.

Harapan tersebut sejalan dengan rencana Lapas Palu untuk mengembangkan kegiatan tersebut. Kepala Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan sekaligus Pelaksana Harian Kepala Subseksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja, John Andrianto, mengatakan pihaknya akan menyiapkan peningkatan sarana dan prasarana serta membuka kerja sama dengan stakeholder dan pemerhati lingkungan agar hasil produksi dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

“Ke depan akan kami persiapkan peningkatan sarana prasarana, menjalin kerja sama dengan stakeholder dan para pemerhati lingkungan, sehingga produksi yang kita hasilkan dapat digunakan dengan aman dan nyaman di tengah masyarakat. Saat ini kami baru menyelesaikan satu set,” jelas John.

Satu set tempat sampah yang telah selesai menjadi awal dari gagasan yang lebih besar. Lapas Palu tidak hanya melihat fiberglass sebagai bahan untuk membuat produk, tetapi sebagai media untuk menumbuhkan keterampilan dan kemandirian Warga Binaan. Jika terus dikembangkan, keterampilan tersebut membuka peluang bagi Warga Binaan untuk membawa pulang sesuatu yang lebih berharga dari sekadar hasil karya: kemampuan untuk berkarya dan memberi manfaat ketika kembali ke masyarakat. (IR)

 

 

Kontributor: Kanwil Ditjenpas Sulteng

 

What's Your Reaction?

like
1
dislike
0
love
1
funny
0
angry
0
sad
0
wow
1