Dari Kata Baku hingga Budaya Banjar, Warga Binaan Lapas Banjarmasin Ditempa lewat Pendidikan
Banjarmasin, INFO_PAS – Pendidikan bagi Warga Binaan tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun karakter, memperluas wawasan, serta mengenal lingkungan sosial dan budaya. Hal tersebut terlihat dalam pembelajaran pendidikan kesetaraan PKBM Azzahra di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin, Sabtu (12/9).
Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik, Gilang Wisnuwardhana, mengatakan pendidikan kesetaraan memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk memperoleh pengetahuan yang beragam, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan diterapkan Warga Binaan selama menjalani pembinaan maupun ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Pembelajaran di PKBM Azzahra kami harapkan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan dan sikap positif. Warga Binaan belajar menggunakan bahasa dengan tepat, memahami nilai keagamaan, sekaligus mengenal budaya daerahnya sendiri,” harap Gilang.
Pada kesempatan itu, pembelajaran berlangsung di Ruang Kunjungan Lapas Banjarmasin di mana Warga Binaan peserta Paket B dan C mengikuti sejumlah mata pelajaran, mulai dari Bahasa Indonesia, Agama Islam, hingga Seni Budaya. Pembelajaran diberikan oleh tutor PKBM Azzahra dengan materi yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yakni menambah pengetahuan sekaligus membentuk kebiasaan positif.
Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, Lisa Andriyani selaku tutor memberikan materi mengenai kata baku dan tidak baku. Warga Binaan diajak memahami perbedaan keduanya dan mengetahui penggunaannya sesuai situasi.
Lisa menjelaskan kata baku digunakan sesuai kaidah Bahasa Indonesia dan lazim digunakan dalam situasi resmi, seperti surat, tugas, laporan, maupun buku pelajaran. Sementara itu, kata tidak baku lebih banyak digunakan dalam komunikasi informal sehari-hari.
Beranjak pada pembelajaran Agama Islam, tutor lainnya, Wahidi Alwi memberikan materi “Mensyukuri Nikmat”. Warga Binaan diajak memahami bahwa rasa syukur tidak sebatas ucapan, tetapi perlu diwujudkan melalui sikap dan perbuatan. Ia menjelaskan nikmat tidak hanya berupa materi, tetapi juga kesehatan, kesempatan, ilmu pengetahuan, keluarga, dan berbagai karunia yang terkadang baru disadari nilainya ketika seseorang berada dalam keterbatasan. Dari pembelajaran tersebut, Warga Binaan diajak melihat kesempatan belajar dan memperbaiki diri sebagai nikmat yang patut disyukuri.
Sementara itu, pada mata pelajaran Seni Budaya, Rahmi Utari selaku tutor memperkenalkan berbagai seni dan tradisi khas Banjar. Materi mencakup sasirangan, madihin, batimung, panting, dan kerajinan anyaman berbahan purun. Warga Binaan dikenalkan dengan karakteristik masing-masing kesenian, termasuk sasirangan sebagai kain khas Kalimantan Selatan, madihin sebagai seni bertutur yang memadukan syair dan pesan kehidupan, batimung sebagai tradisi perawatan tubuh menggunakan uap dan aroma rempah, serta panting sebagai alat musik petik khas Banjar. Anyaman berbahan purun juga menjadi materi untuk menunjukkan bagaimana bahan yang tersedia di lingkungan dapat diolah menjadi benda bernilai guna sekaligus memiliki nilai budaya.
Salah satu Warga Binaan, Andi, kini lebih memahami penggunaan bahasa sesuai situasi. “Sekarang jadi tahu kalau buat tugas atau surat harus pakai kata yang baku. Kalau ngobrol sehari-hari, ya biasanya pakai bahasa santai,” ujar Andi.
Warga Binaan lainnya, Anto, mengatakan materi tentang syukur membuat dirinya kembali melihat hal-hal sederhana yang selama ini sering luput diperhatikan. “Kadang kita cuma ingat sama yang belum punya. Setelah ikut belajar ini jadi kepikiran, ternyata masih banyak yang bisa disyukuri, termasuk bisa belajar di sini,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Warga Binaan Rusdi yang mendapatkan pengetahuan baru mengenai sejumlah kesenian Banjar. “Kalau sasirangan dan panting pernah dengar, tapi madihin dan batimung tadi baru lebih paham. Ternyata budaya Banjar banyak juga,” tuturnya.
Secara terpisah, Kepala Lapas Banjarmasin Akhmad Herriansyah menegaskan pendidikan merupakan bagian penting dalam proses pembinaan karena memberikan bekal pengetahuan sekaligus mendorong perubahan sikap. “Kami ingin setiap pembelajaran yang diikuti Warga Binaan memberikan manfaat, baik untuk dirinya selama menjalani pembinaan maupun sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” tegasnya.
Ke depannya, Lapas Banjarmasin akan terus mendukung pelaksanaan pendidikan kesetaraan PKBM Azzahra sebagai pembinaan terarah dan berkelanjutan dengan memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat. (IR)
Kontributor: Lapas Banjarmasin
What's Your Reaction?


