Delapan Tahun Pasigala, Kakanwil Ditjenpas Sulteng Ajak Jajaran Perkuat Kepedulian dan Kesiapsiagaan

Delapan Tahun Pasigala, Kakanwil Ditjenpas Sulteng Ajak Jajaran Perkuat Kepedulian dan Kesiapsiagaan

Palu, INFO_PAS – Delapan tahun berlalu sejak gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi mengguncang wilayah Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala) pada 28 September 2018. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi jajaran Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sulawesi Tengah untuk terus menjaga kepedulian, memperkuat solidaritas, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng, Herman Mulawarman, Senin (28/9). Momentum tersebut berlangsung sehari setelah peringatan Hari Ulang Tahun Kota Palu Ke-48 bertema “Moving in Action” yang menggambarkan semangat Kota Palu yang terus bergerak, tumbuh, adaptif, dan progresif menuju masa depan.

Herman mengajak seluruh jajaran Pemasyarakatan untuk tidak hanya mengenang peristiwa 28 September sebagai bagian dari sejarah Sulawesi Tengah, tetapi juga menjadikannya momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama dan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. “Delapan tahun telah berlalu, tetapi peristiwa ini tetap menjadi perjalanan masyarakat Sulawesi Tengah. Mari kita kirimkan doa terbaik bagi saudara-saudara kita yang telah menjadi korban. Dari peristiwa ini kita belajar bahwa kepedulian, kebersamaan, dan kesiapsiagaan harus terus kita jaga,” ujarnya.

Sebagai penghormatan dan kepedulian, jajaran Kanwil Ditjenpas Sulawesi Tengah turut mendoakan para korban melalui doa bersama yang dilakukan sesuai keyakinan masing-masing. Doa tersebut menjadi wujud solidaritas lintas umat beragama sekaligus pengingat bahwa duka yang pernah dirasakan masyarakat Pasigala merupakan sejarah bersama yang tidak boleh dilupakan.

Herman juga mendorong jajaran Pemasyarakatan untuk menjadikan pengalaman bencana sebagai pembelajaran dalam memperkuat mitigasi risiko, khususnya pada Lapas, Rutan, LPKA, Bapas, maupun lingkungan kerja lainnya. Kesiapan menghadapi keadaan darurat perlu dibangun melalui kewaspadaan, koordinasi, pemetaan risiko, serta kemampuan merespons kondisi secara cepat dan tepat.

“Pemasyarakatan harus menjadi bagian dari masyarakat yang siap menghadapi setiap situasi. Kita harus memastikan jajaran memahami langkah-langkah mitigasi, mengetahui potensi risiko di lingkungan masing-masing, dan mampu bergerak cepat ketika terjadi keadaan darurat,” tegas Herman.

Menurutnya, semangat kebangkitan Kota Palu setelah bencana harus menjadi energi positif bagi seluruh jajaran Pemasyarakatan untuk terus bergerak dan memberikan kontribusi melalui pelaksanaan tugas yang profesional, responsif, berintegritas, modern, dan akuntabel. “Moving in Action bukan hanya semangat Kota Palu, tetapi juga dapat kita maknai sebagai dorongan untuk terus bergerak memberikan yang terbaik. Pemasyarakatan harus hadir dengan kerja nyata, kepedulian, dan pelayanan yang makin baik bagi masyarakat,” lanjutnya.

Ke depannya, jajaran Pemasyarakatan Sulawesi Tengah akan terus mendukung upaya membangun budaya kesiapsiagaan dan kepedulian di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat. Solidaritas, gotong royong, dan komunikasi lintas sektor dinilai menjadi kekuatan penting dalam menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang.

Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum, Maulana Luthfiyanto, mengatakan penguatan kesiapsiagaan juga menjadi tugas manajerial dan dukungan administrasi Kanwil dalam memastikan pelaksanaan tugas Pemasyarakatan tetap berjalan dalam berbagai kondisi. “Dari sisi tata kelola, kami memastikan kesiapan internal terus diperkuat, mulai dari koordinasi, komunikasi kedinasan, kesiapan sarana pendukung, hingga penyampaian informasi secara cepat apabila terjadi kondisi darurat. Ini penting agar jajaran tidak hanya siap menjalankan tugas dalam kondisi normal, tetapi juga merespons situasi bencana secara terkoordinasi,” jelasnya.

Pengalaman Pasigala menjadi pembelajaran penting bagi seluruh jajaran untuk membangun budaya kerja yang lebih responsif terhadap risiko. Koordinasi antarpersonel dan kesiapan informasi menjadi bagian penting agar langkah penanganan dilakukan secara cepat dan tepat ketika dibutuhkan.

Delapan tahun setelah Pasigala, Kanwil Ditjenpas Sulawesi Tengah berharap semangat bangkit dan bergerak maju terus tumbuh bersama masyarakat. Mengenang bukan sekadar melihat kembali masa lalu, tetapi mengambil pelajaran untuk membangun Sulawesi Tengah yang makin tangguh, peduli, dan siap menghadapi masa depan. (IR)

 

 

Kontributor: Kanwil Ditjenpas Sulteng

What's Your Reaction?

like
1
dislike
0
love
1
funny
0
angry
0
sad
0
wow
1