Hari Batik Nasional, Lapas Wahai Kenalkan Batik sebagai Warisan Budaya dan Peluang Kemandirian
Wahai, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai gelar edukasi dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Jumat (2/10). Kegiatan ini mengangkat sejarah batik, makna filosofis berbagai motif batik Nusantara, serta pentingnya melestarikan batik sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa.
Bertempat di Beranda Mesra, Warga Binaan diajak memahami bahwa batik tidak sekadar kain bermotif, tetapi memiliki nilai sejarah, budaya, dan filosofi yang diwariskan antargenerasi. Sejumlah motif klasik seperti Parang, Megamendung, Kawung, dan Sidomukti memiliki makna simbolik yang dapat menjadi media pembelajaran tentang nilai kehidupan, keteguhan, keseimbangan, kebahagiaan, serta harapan akan kesejahteraan.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menyampaikan bahwa peringatan Hari Batik Nasional jadi bagian dari pembinaan kepribadian, khususnya untuk membangun kesadaran berbangsa dan bernegara bagi Warga Binaan.
“Batik merupakan identitas budaya bangsa yang mengandung nilai sejarah dan filosofi. Melalui kegiatan ini, kami ingin Warga Binaan tidak hanya mengenal batik, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Semangat melestarikan budaya merupakan bagian dari membangun rasa cinta tanah air dan kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” ujar Tersih.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga dapat diarahkan pada aspek pembinaan kemandirian. Pengetahuan mengenai batik berpotensi dikembangkan menjadi keterampilan produktif bagi Warga Binaan yang memiliki minat sehingga ke depan dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan usaha setelah memperoleh pembinaan di Lapas.
Sementara itu, Muhammad Irfan, salah satu peserta MagangHub 2026 yang menjadi narasumber kegiatan, menjelaskan bahwa pengenalan batik kepada Warga Binaan tidak hanya berorientasi pada pengetahuan budaya, tetapi juga mendorong kepedulian terhadap keberlanjutan warisan budaya Indonesia.
“Batik memiliki cerita dan filosofi yang berbeda pada setiap motifnya. Karena itu, mengenal batik berarti mengenal bagian dari perjalanan budaya Indonesia. Harapannya, Warga Binaan dapat melihat batik bukan hanya sebagai pakaian, tetapi juga sebagai sesuatu yang bisa dipelajari, dikembangkan, dan memiliki nilai ekonomi,” ungkap Irfan.
Antusiasme juga terlihat dari Warga Binaan yang mengikuti kegiatan. AP, salah satu Warga Binaan, mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai sejarah dan filosofi batik.
“Sebelumnya saya mengetahui batik hanya sebagai pakaian bermotif, tetapi melalui sosialisasi ini saya mengetahui bahwa setiap motif memiliki makna. Saya juga tertarik jika ke depan ada pembinaan keterampilan yang berkaitan dengan batik, karena bisa menjadi bekal untuk membuat usaha setelah bebas,” tutur AP.
Bagi Lapas Wahai, momentum Hari Batik Nasional kali ini jadi ruang edukasi untuk tumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa sekaligus membuka perspektif baru bagi Warga Binaan mengenai peluang keterampilan dan usaha. Pembinaan pun tidak hanya berorientasi pada perubahan perilaku, tetapi juga memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam proses reintegrasi sosial. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Wahai
What's Your Reaction?


