Khidmat dan Penuh Harapan, Lapas Wahai Gelar Sakramen Perjamuan Kudus
Wahai, INFO_PAS – Suasana hening dan khidmat selimuti Gereja Ebenhaezer Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai saat Warga Binaan bersama jajaran pegawai beragama Kristiani ikuti ibadah Sakramen Perjamuan Kudus, Minggu (4/10). Ibadah yang dimulai pukul 07.00 WIT tersebut jadi momen perenungan sekaligus penguatan spiritual bagi Warga Binaan selama jalani masa pembinaan.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, yang turut mengikuti ibadah, menyambut baik pelaksanaan Perjamuan Kudus. Ia menegaskan komitmen Lapas Wahai penuhi hak beribadah bagi seluruh Warga Binaan.
"Pembinaan kerohanian adalah pilar utama dalam Pemasyarakatan. Kami ingin memastikan bahwa meski raga terbatasi oleh dinding Lapas, jiwa dan iman Warga Binaan tetap memiliki ruang untuk bertumbuh. Proses hukum yang mereka jalani adalah bentuk keadilan di dunia, tetapi di mata Tuhan, selalu ada kesempatan kedua bagi siapa saja yang mau bertobat dan hidup benar," ujar Tersih.
Bagi Warga Binaan, ibadah Perjamuan Kudus tersebut jadi momen yang membawa kedamaian dan harapan. Salah seorang Warga Binaan, RR, mengungkapkan rasa syukurnya dapat ambil bagian dalam sakramen tersebut.
"Ikut Perjamuan Kudus di dalam Lapas memberikan rasa damai yang luar biasa. Roti dan anggur yang kami terima hari ini jadi pengingat untuk tidak menyerah dan terus memperbaiki diri," ungkap RR.
Pendeta Elkris Latuny dari Gereja Protestan Maluku Jemaat Bethsan yang memimpin ibadah menjelaskan pesan teologis dari bacaan Alkitab, yaitu Mazmur 99, yang menjadi dasar refleksi dalam Perjamuan Kudus.
"Mazmur 99 mengingatkan kita bahwa Tuhan itu Raja yang Mahakudus dan adil, namun Dia juga Allah yang mendengarkan dan mengampuni. Di hadapan-Nya, tidak ada tempat yang terlalu jauh atau tembok yang terlalu tinggi untuk dijangkau oleh kasih-Nya. Melalui Sakramen Perjamuan Kudus ini, roti dan anggur menjadi lambang pemulihan. Setiap Warga Binaan diajak untuk meninggalkan masa lalu, memeluk pengampunan, dan melangkah dalam kehidupan baru yang kudus serta berpengharapan," tutur Pendeta Elkris.
Ibadah Perjamuan Kudus di Lapas Wahai diakhiri dengan doa pemulihan dan penumpangan tangan untuk pemberkatan. Rangkaian tersebut jadi penguat bagi Warga Binaan untuk menatap masa depan dengan kedamaian dan harapan. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Wahai
What's Your Reaction?


