Lapas Batulicin Bekali Warga Binaan dengan Keahlian Perbengkelan dan Budidaya Maggot
Batulicin, INFO PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin terus berikan ruang bagi Warga Binaan untuk mengasah keahlian melalui pembinaan kemandirian di bidang servis mobil. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi Warga Binaan untuk mengembangkan kemampuan otomotif melalui pengalaman kerja secara langsung.
Pada Rabu (23/9), aktivitas berlangsung di area bengkel Lapas Batulicin dengan berbagai pekerjaan perawatan dan perbaikan kendaraan. Tahapannya meliputi pemeriksaan awal, penggantian oli, pemeriksaan mesin, rem, kaki-kaki, cairan kendaraan, kelistrikan, penyetelan hingga uji jalan.
Pada kegiatan kali ini, Warga Binaan memperbaiki bumper mobil yang mengalami penyok cukup berat sekaligus melakukan dempul ulang agar mengikuti warna asli kendaraan. Pekerjaan juga mencakup penggantian mika dan lampu mobil, serta pemeriksaan sejumlah bagian kendaraan lainnya untuk memastikan kondisi kendaraan tetap baik.
Kemampuan yang dikembangkan tidak hanya berkaitan dengan servis mesin, tetapi juga mencakup keterampilan menangani bagian bodi kendaraan. Kesempatan praktik secara langsung ini diharapkan membuat Warga Binaan makin terampil dan tidak canggung ketika menekuni dunia servis mobil setelah bebas.
Kepala Subseksi Pembinaan, Harry Indrawan, menjelaskan unit bengkel menjadi ruang nyata bagi Warga Binaan untuk berkembang melalui pembinaan kemandirian. Menurutnya, banyak potensi yang dimiliki Warga Binaan dan perlu terus diberikan kesempatan untuk diasah, salah satunya kemampuan di bidang servis mobil.
“Pembinaan kemandirian kami jadikan sebagai ruang nyata bagi Warga Binaan untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Melalui unit bengkel, mereka tidak hanya belajar secara teori, tetapi mendapatkan pengalaman langsung sehingga keterampilan servis mobil terus berkembang dan menjadi kemampuan yang bermanfaat setelah kembali ke masyarakat,” jelas Harry.
Warga Binaan berinisial B menyampaikan kesempatan mengikuti kegiatan di bengkel menjadi peluang berharga untuk terus menambah keterampilan dalam bidang servis mobil. Ia ingin kemampuan yang diperoleh selama pembinaan dapat menjadi modal untuk mengembangkan bakat dan menekuni bidang otomotif setelah bebas.
“Kesempatan ini sangat berharga bagi saya untuk terus menambah keterampilan servis mobil. Saya ingin kemampuan yang saya pelajari di sini terus berkembang sehingga ketika bebas nanti saya lebih siap menjalankan dan mengembangkan kemampuan di bidang otomotif,” ungkap B.
Kepala Lapas (Kalapas) Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, menyampaikan dukungan penuh terhadap pengembangan pembinaan kemandirian yang memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk mengasah potensi. Ia menegaskan Lapas akan terus menguatkan berbagai kegiatan yang menjadi wadah pembelajaran dan pengembangan keterampilan.
“Kami mendukung penuh pengembangan pembinaan kemandirian yang memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk tumbuh sesuai potensi yang mereka miliki. Pembinaan akan terus kami kuatkan agar Lapas menjadi wadah yang memberikan pengalaman dan keterampilan nyata sebagai bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” tegas Thoha.
Melalui area bengkel Lapas Batulicin, Warga Binaan mendapatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan otomotif melalui pekerjaan yang dilakukan secara langsung. Keterampilan tersebut diharapkan terus berkembang menjadi bekal produktif yang dapat dimanfaatkan untuk menekuni dunia servis mobil setelah bebas.
Selain itu, Lapas Batulicin juga terus menjaga keberlanjutan budidaya maggot melalui proses pemilihan pupa untuk dipersiapkan menjadi indukan berkualitas. Tahapan ini menunjukkan pembinaan kemandirian melalui budidaya maggot tetap berjalan dengan memperhatikan kesinambungan setiap fase perkembangannya.
Kegiatan berlangsung di area Sarana Asimilasi dan Edukasi Lapas Batulicin dengan Warga Binaan melakukan pemilihan pupa dari hasil budidaya untuk dijadikan calon indukan. Pupa tersebut dipersiapkan untuk bermetamorfosis menjadi lalat dewasa yang selanjutnya berperan sebagai indukan dalam siklus budidaya berikutnya.
Warga Binaan yang terlibat telah memahami tugas dan perannya dalam setiap tahapan budidaya. Pemahaman tersebut membuat proses pemilihan, pemeliharaan hingga persiapan indukan dilakukan secara terarah untuk menghasilkan indukan maggot berkualitas.
Masa pupa membutuhkan sekitar 3 s.d. 7 hari untuk bermetamorfosis menjadi lalat dewasa atau indukan. Setelah menetas, lalat dewasa mulai bertelur pada usia sekitar 3 s.d. 5 hari, sedangkan keseluruhan siklus dari telur hingga menjadi lalat siap kawin berlangsung sekitar 40 s.d. 45 hari.
Harry menjelaskan budidaya maggot menjadi salah satu kegiatan pembinaan kemandirian yang terus diperhatikan keberlangsungannya. Pengembangan juga mulai diarahkan melalui rencana perluasan kandang agar kapasitas budidaya dapat ditingkatkan.
“Budidaya maggot kami perhatikan bukan hanya dari hasilnya, tetapi juga bagaimana setiap fase dapat terus berlanjut. Karena itu, kami melihat peluang untuk mengembangkan kandang maggot agar kapasitas budidayanya makin besar dan Warga Binaan memiliki ruang yang lebih luas untuk mendalami keterampilan ini,” jelas Harry.
Warga Binaan berinisial H menilai kegiatan di unit maggot memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam menjalani setiap prosesnya. Ia berharap keterampilan yang diperoleh menjadi dasar untuk mewujudkan cita-citanya memiliki usaha maggot dalam skala besar.
“Setiap proses di sini saya jalani dengan penuh tanggung jawab dan saya merasa senang karena bisa belajar dari setiap tahap budidaya maggot. Saya punya cita-cita suatu saat nanti memiliki usaha maggot sendiri dalam skala yang lebih besar,” ungkap H.
Senada, Kalapas melihat budidaya maggot sebagai kesempatan bagi Warga Binaan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan pada bidang yang memiliki peluang pengembangan. Menurutnya, budidaya tersebut menjadi pengalaman bernilai karena masih belum banyak digeluti masyarakat sehingga membuka ruang bagi Warga Binaan untuk mengembangkannya setelah bebas.
“Keberadaan budidaya maggot di Lapas menjadi kesempatan bagi Warga Binaan untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman pada bidang yang belum banyak digeluti. Prospeknya cukup baik dan peluang pengembangannya masih terbuka luas sehingga keterampilan ini dapat menjadi salah satu pilihan yang mereka kembangkan setelah kembali ke masyarakat,” ujar Thoha.
Dari pemilihan pupa hingga persiapan menjadi indukan, setiap tahap budidaya maggot menjadi bagian dari proses pembelajaran Warga Binaan. Keberlanjutan siklus tersebut diharapkan tidak hanya menjaga budidaya tetap berjalan, tetapi juga membuka peluang berkembangnya keterampilan yang dimanfaatkan sebagai modal kemandirian setelah bebas. (IR)
Kontributor: Lapas Batulicin
What's Your Reaction?


