Lapas Kelas I Cipinang Bangun Siklus Perbaikan Pembelajaran di PKBM Warga Mandiri

 Lapas Kelas I Cipinang Bangun Siklus Perbaikan Pembelajaran di PKBM Warga Mandiri

Jakarta, INFO_PAS – Tidak sekadar memastikan kelas berjalan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang mulai bangun budaya evaluasi untuk menjaga kualitas pembelajaran Warga Binaan. Pada Jumat (25/9), para tutor PKBM Warga Mandiri duduk bersama, membawa pengalaman selama satu pekan di ruang kelas untuk diolah menjadi bahan perbaikan pembelajaran berikutnya.

Bagi AV, salah seorang tutor, forum tersebut penting karena kondisi di kelas tidak selalu sama dengan yang direncanakan. Perbedaan kemampuan, respons, dan kebutuhan peserta menuntut tutor terus menyesuaikan pendekatan belajar.

“Setelah mengajar, kami jadi tahu bagian mana yang mudah diterima, mana yang masih sulit, dan bagaimana respons peserta. Di forum ini pengalaman itu bisa kami diskusikan bersama sehingga pertemuan berikutnya kami tidak sekadar mengulang cara yang sama,” ungkap AV.

Diskusi juga membahas dinamika kelas, respons peserta, efektivitas metode, kendala, hingga kebutuhan tindak lanjut. Dengan pola tersebut, pengalaman tutor tidak berhenti sebagai catatan masing-masing, tetapi menjadi umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran secara bersama.

Pembina PKBM Warga Mandiri, Septiyawan, menjelaskan penguatan juga dilakukan dari sisi tata kelola pendidikan. PKBM Warga Mandiri telah melaksanakan kewajiban sinkronisasi Data Pokok Pendidikan seiring dengan pemetaan kebutuhan pendidikan, penguatan kapasitas tutor, penataan administrasi, serta pengembangan metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan partisipatif.

“Yang kami benahi bukan hanya kegiatan belajar di kelas. Administrasi pendidikan, data peserta, kesiapan tutor, hingga evaluasi pembelajaran harus berjalan beriringan. Dengan begitu, layanan pendidikan kesetaraan dikelola secara lebih tertib, terukur, dan berkelanjutan,” jelas Septiyawan.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani, menegaskan kualitas pendidikan tidak cukup diukur dari terselenggaranya kegiatan belajar. Evaluasi diperlukan untuk memastikan pembelajaran benar-benar menjawab kebutuhan Warga Binaan.

“Kelas yang berjalan belum tentu berarti proses belajarnya sudah optimal. Kita harus melihat apa yang berhasil, apa yang belum, dan apa yang dibutuhkan peserta. Evaluasi harus menghasilkan perbaikan agar setiap pembelajaran makin bermakna bagi Warga Binaan,” tegas Syarpani.

Evaluasi tersebut menjadi penguatan pendidikan kesetaraan bagi Narapidana dan Anak Binaan sebagaimana ditegaskan dalam poin ke-11 dari 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Melalui PKBM Warga Mandiri, Lapas Kelas I Cipinang tidak hanya membuka akses pendidikan, tetapi terus membenahi mutu pembelajaran dan tata kelolanya agar kesempatan belajar bagi Warga Binaan benar-benar berjalan terstruktur, berkelanjutan, dan memberi bekal bagi kehidupan setelah kembali ke masyarakat. (IR)

 

 

Kontributor: Lapas Kelas I Cipinang

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0