Mereka yang Menjaga Kesehatan dari Balik Jeruji

Mereka yang Menjaga Kesehatan dari Balik Jeruji

Pukul dua dini hari bukan waktu yang lazim bagi seseorang untuk menerima panggilan pekerjaan. Pada jam ketika sebagian besar orang masih terlelap, sebuah suara dari balik kamar hunian dapat mengubah suasana di sebuah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atau Rumah Tahanan Negara (Rutan). Ada Warga Binaan yang mengeluhkan sakit, ada yang membutuhkan pemeriksaan, atau sekadar membutuhkan kepastian bahwa kondisi yang dirasakannya tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Di saat seperti itu, petugas kesehatan bersiap. Tidak peduli pagi, malam, akhir pekan, bahkan hari libur. Ketika ada keluhan kesehatan yang membutuhkan perhatian, pelayanan tetap harus berjalan. Sebab, sakit tidak mengenal jam kerja dan tidak pernah melihat kalender.

 

Bukan Sekadar Memeriksa dan Memberikan Obat

Bagi petugas kesehatan di Lapas atau Rutan, pekerjaan tidak berhenti pada pemeriksaan atau pemberian obat. Ada hal lain yang sering kali tidak terlihat, tetapi memiliki arti bagi mereka yang sedang sakit: mendengarkan.

Seorang Warga Binaan mungkin datang dengan keluhan sederhana. Namun di balik keluhan itu, bisa saja ada rasa khawatir, takut, atau kebingungan mengenai kondisi tubuhnya. Karena itu, pemeriksaan bukan hanya tentang mengetahui apa yang dirasakan secara fisik, tetapi juga memberikan penjelasan agar Warga Binaan memahami kondisi yang sedang dihadapinya.

“Kalau sedang sakit, tentu ada rasa khawatir. Ketika ada petugas yang mau mendengarkan dan memeriksa, kami merasa lebih tenang karena tahu ada yang membantu,” ungkap seorang Warga Binaan.

Kalimat sederhana itu menggambarkan satu hal yang terkadang luput dari perhatian: pelayanan kesehatan juga menghadirkan rasa aman. Di balik seragam dan prosedur yang harus dijalankan, ada interaksi antarmanusia. Ada seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan dan ada seseorang yang hadir untuk memberikan pertolongan tersebut.

 

Ketika Kesehatan Menjadi Bagian dari Pemasyarakatan

Pelayanan kesehatan di Lapas dan Rutan bukan sekadar pelengkap dari Sistem Pemasyarakatan. Ia menjadi bagian dari bagaimana negara memastikan hak dasar manusia tetap terpenuhi, termasuk bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana atau berada dalam proses hukum.

Pemasyarakatan tidak hanya berbicara mengenai tembok, pintu besi, pengamanan, maupun pelaksanaan pidana. Di dalamnya terdapat proses perawatan, pembinaan, pelayanan, dan upaya mempersiapkan Warga Binaan untuk kembali ke tengah masyarakat. Karena itu, kesehatan menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Bagaimana seseorang dapat mengikuti pembinaan dengan baik jika kondisi kesehatannya tidak diperhatikan? Bagaimana proses perubahan dapat berjalan apabila kebutuhan dasar untuk mendapatkan perawatan diabaikan?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan pelayanan kesehatan memiliki tempat tersendiri dalam pelaksanaan Pemasyarakatan. Petugas kesehatan menjadi salah satu bagian yang memastikan perjalanan tersebut tetap berjalan, satu pemeriksaan pada satu waktu, satu keluhan pada satu kesempatan, dan satu pelayanan setiap kali dibutuhkan.

 

Di Balik Tembok, Tetap Ada Manusia

Bagi masyarakat yang melihat Lapas dari luar, yang mungkin paling mudah terlihat adalah tembok tinggi, pagar, pintu besi, dan petugas berseragam. Namun di balik semua itu, kehidupan tetap berlangsung. Ada orang-orang yang bekerja, belajar, beribadah, mengikuti pembinaan, berkomunikasi dengan keluarga, menata kembali kehidupan, dan tentu saja—bisa jatuh sakit.

Jeruji tidak membuat tubuh manusia kebal terhadap penyakit. Karena itu, ketika seorang Warga Binaan mengeluhkan sakit pada malam hari, kebutuhan tersebut tidak serta-merta menjadi kurang penting hanya karena waktunya berada di luar jam kerja. Begitu pula ketika keluhan muncul pada akhir pekan atau hari libur. Kebutuhan kesehatan tetaplah kebutuhan kesehatan.

Petugas kesehatan memahami bahwa dalam kondisi tertentu, mereka harus siap merespons. Ada prosedur yang harus dijalankan, ada kondisi yang perlu dinilai, dan ada langkah penanganan yang harus ditentukan. Jika membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut, koordinasi dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan mekanisme yang berlaku.

Semua itu berlangsung di tengah karakter Lapas yang berbeda dengan fasilitas kesehatan pada umumnya. Pelayanan harus berjalan beriringan dengan ketentuan keamanan dan tata tertib yang berlaku di lingkungan Pemasyarakatan.

 

Ketika Hari Libur Tidak Menghentikan Kebutuhan Kesehatan

Hari libur mungkin membuat banyak orang berhenti sejenak dari rutinitas. Namun bagi tubuh manusia, tidak ada istilah libur. Sakit bisa datang pada Senin pagi, Sabtu malam, bahkan ketika sebagian besar orang sedang menikmati waktu istirahat.

Di Lapas, kondisi seperti itu membutuhkan kesiapsiagaan. Bukan berarti setiap saat selalu ada petugas yang berada di ruang pelayanan kesehatan. Namun ketika kebutuhan muncul, terdapat mekanisme yang harus dijalankan agar keluhan kesehatan tidak dibiarkan begitu saja.

Kadang pelayanan berlangsung dalam suasana yang sangat sederhana. Tidak ada ruangan yang ramai, tidak ada kamera yang merekam, dan tidak ada orang yang memberikan tepuk tangan. Hanya ada seorang petugas kesehatan yang datang, seorang Warga Binaan yang membutuhkan pertolongan, lalu pemeriksaan dilakukan.

Mungkin bagi sebagian orang, kejadian seperti itu terlihat biasa. Tetapi bagi seseorang yang sedang sakit, kehadiran tersebut bisa memiliki arti yang jauh lebih besar.

 

Pengabdian yang Tidak Banyak Terlihat

Ada pekerjaan-pekerjaan yang mudah terlihat karena hasilnya dapat langsung disaksikan. Ada pula pekerjaan yang berjalan dalam diam, tetapi keberadaannya terasa ketika dibutuhkan.

Petugas kesehatan di Lapas berada di antara keduanya. Setiap hari mereka memeriksa kondisi Warga Binaan, memberikan edukasi kesehatan, membantu memastikan kebutuhan obat terpenuhi, mencatat perkembangan kondisi kesehatan, serta berkoordinasi ketika diperlukan penanganan lebih lanjut.

Tidak semuanya menjadi berita. Tidak semuanya masuk dalam dokumentasi. Namun, pekerjaan itu tetap dilakukan. Karena tujuan pelayanan kesehatan bukan sekadar menghasilkan sebuah kegiatan yang dapat dilaporkan, melainkan memastikan orang yang berada di Lapas tetap memperoleh perhatian ketika membutuhkan layanan kesehatan.

Pada titik inilah kita mungkin perlu melihat Pemasyarakatan dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Lapas tidak hanya tentang hukuman. Tidak pula hanya tentang tembok dan jeruji. Di dalamnya ada manusia. Manusia yang sedang menjalani proses, belajar memperbaiki diri, mengikuti pembinaan, dan pada waktunya diharapkan kembali ke masyarakat dengan kehidupan yang lebih baik. Dan selama proses itu berlangsung, kesehatan tetap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.

Barangkali memang seperti itulah sebagian pengabdian bekerja. Tidak selalu terdengar, tetapi terus dilakukan. Tidak selalu terlihat, tetapi kehadirannya dirasakan. Di balik tembok Lapas dan Rutan, ada mereka yang menjaga kesehatan. Mereka yang mendengar ketika keluhan disampaikan, hadir ketika pertolongan dibutuhkan, dan tetap memberikan pelayanan meski waktu tidak selalu berpihak.

Pada akhirnya, pelayanan kesehatan bukan hanya tentang memastikan seseorang mendapatkan pengobatan. Lebih dari itu, ia adalah tentang memastikan bahwa di tengah proses Pemasyarakatan, setiap manusia tetap diperlakukan dengan perhatian, kepedulian, dan penghormatan terhadap hak-haknya. Sebab, di balik setiap tembok dan jeruji, tetap ada manusia yang membutuhkan untuk didengar, dirawat, dan diperlakukan secara manusiawi. Mungkin itulah makna paling sederhana dari pengabdian mereka: menjaga kesehatan, sekaligus menjaga kemanusiaan.

 

 

Penulis: Ahmad Faisal (Penjaga Tahanan Lapas Piru)

What's Your Reaction?

like
1
dislike
0
love
2
funny
0
angry
0
sad
1
wow
0