Naik Level, 16 Warga Binaan Lapas Tanjungpandan Kuasai Pengolahan Tahu dan Tempe
Belitung, INFO_PAS – Sebanyak 16 Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjungpandan tuntaskan Pelatihan Kemandirian Berbasis Kompetensi Pengolahan Kedelai (Tahu dan Tempe) dengan metode Tailor Made Training (TMT) yang diselenggarakan bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Belitung.
Pelatihan berlangsung selama 10 hari, sejak 21 September hingga 2 Oktober 2026, dan ditutup pada Jumat (2/10) di Bengkel Kerja Lapas Tanjungpandan. Sebanyak 16 peserta ikuti pelatihan, terdiri atas 13 Warga Binaan laki-laki dan 3 Warga Binaan perempuan.
Tak sekadar belajar teori, pelatihan dikemas secara praktik dan interaktif dengan hadirkan Husni Thamrin, pengusaha tahu dan tempe di wilayah Tanjungpandan, sebagai instruktur. Para peserta mendapat pengalaman langsung mengenai proses pengolahan kedelai menjadi tahu dan tempe, mulai dari persiapan bahan baku, pengolahan, hingga proses produksi.
Kepala Lapas Tanjungpandan, Muhammad Rolan, mengatakan pelatihan tersebut bagian dari upaya Lapas beri bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan Warga Binaan sebagai modal ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Pelatihan ini bukan hanya tentang bagaimana membuat tahu dan tempe, tetapi bagaimana Warga Binaan mendapatkan kompetensi yang bisa menjadi bekal untuk membangun kemandirian setelah selesai menjalani masa pidana. Kita ingin mereka tidak hanya mengikuti pembinaan, tetapi benar-benar naik level dari sisi keterampilan dan kesiapan menghadapi kehidupan di masyarakat. Pada aspek keselamatan kerja, Warga Binaan juga telah mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan dari pihak BPVP Belitung,” ujar Muhammad Rolan.
Menurutnya, kolaborasi dengan BPVP Belitung langkah penting hadirkan pembinaan kemandirian berbasis kompetensi dan kebutuhan nyata di lapangan.
“Metode Tailor Made Training memberikan ruang bagi peserta untuk belajar sesuai kebutuhan keterampilan yang aplikatif. Harapannya, ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti di Bengkel Kerja Lapas, tetapi dapat dikembangkan menjadi peluang usaha maupun pekerjaan ketika mereka kembali ke masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Tanjungpandan, Pirmansyah, menjelaskan bahwa pelatihan dirancang dengan pendekatan praktik agar peserta dapat memahami proses produksi secara lebih konkret.
“Selama sepuluh hari, peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi langsung mempraktikkan proses pengolahan kedelai. Suasananya juga sangat interaktif. Mereka aktif bertanya, mencoba, bahkan berdiskusi mengenai bagaimana produk tahu dan tempe dapat dikembangkan menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi,” kata Pirmansyah.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut sejalan dengan pembinaan kemandirian di Lapas Tanjungpandan, yakni memberi keterampilan yang memiliki nilai guna dan peluang untuk dikembangkan.
“Harapan kami, keterampilan yang diperoleh peserta bisa menjadi titik awal. Hari ini mereka belajar membuat tahu dan tempe, ke depan bisa berkembang menjadi pelaku usaha. Jadi semangatnya adalah dibina untuk berkarya, dilatih untuk mandiri, dan dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Instruktur pelatihan, Husni Thamrin, mengapresiasi antusiasme para peserta selama mengikuti pelatihan.
“Saya melihat peserta sangat antusias. Mereka cepat menangkap materi dan berani mencoba. Karena ini pelatihan berbasis praktik, peserta bisa langsung melihat bagaimana prosesnya, termasuk hal-hal kecil yang menentukan kualitas tahu dan tempe,” ungkap Husni.
Menurut Husni, pengalaman praktik bagian penting karena proses pengolahan kedelai membutuhkan ketelitian, kebersihan, ketepatan proses, serta konsistensi.
“Kalau ditekuni, keterampilan ini sebenarnya punya peluang untuk dikembangkan. Yang penting mau belajar, menjaga kualitas, dan konsisten. Saya berharap setelah pelatihan ini mereka bisa terus mengembangkan kemampuan yang sudah didapat,” katanya.
Antusiasme juga datang dari salah satu peserta pelatihan, YH. “Awalnya saya hanya tahu tahu dan tempe sebagai makanan sehari-hari. Setelah ikut pelatihan, saya jadi tahu bagaimana proses membuatnya dari awal sampai menjadi produk. Kegiatannya seru, instrukturnya juga terbuka dan kami bisa langsung bertanya serta praktik. Saya berharap ilmu ini bisa saya gunakan nanti. Setidaknya saya punya keterampilan yang bisa dikembangkan dan menjadi peluang untuk mencari penghasilan. Buat saya, pelatihan ini benar-benar membuat kami naik level,” tambahnya.
Kegiatan ini merupakan pelatihan keterampilan yang aplikatif, produktif, dan memiliki potensi ekonomi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan peluang usaha. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Tanjungpandan
What's Your Reaction?


