Selawat Mengalun di Ruang Kunjungan Rutan Pelaihari, Habsy Hadirkan Suasana Penuh Makna
Pelaihari, INFO_PAS — Lantunan selawat terdengar di tengah suasana kunjungan tatap muka di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pelaihari, Selasa (22/9). Di antara percakapan Warga Binaan dengan keluarga yang datang menjenguk, suara rebana dan lantunan selawat dari kelompok Habsy Warga Binaan menghadirkan nuansa berbeda—lebih teduh, hangat, dan sarat makna.
Kelompok Habsy tampil dengan memainkan rebana dan melantunkan selawat secara tertib di ruang kunjungan. Kehadiran mereka bukan sekadar mengisi suasana, tetapi menjadi pembinaan kerohanian yang memberikan kesempatan kepada Warga Binaan untuk mengembangkan bakat sekaligus menjalani aktivitas positif selama berada di Rutan.
Bagi keluarga yang datang berkunjung, lantunan selawat turut memberikan warna pada momen pertemuan. Ruang kunjungan yang menjadi tempat melepas rindu terasa lebih hidup, sementara Warga Binaan yang tergabung dalam kelompok Habsy mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang mereka miliki.
Petugas kegiatan kerohanian, Abdul Latief Iriawan, mengatakan Habsy menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pembinaan yang tidak hanya bersifat rutin, tetapi juga memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk belajar dan berkembang. “Kami ingin kegiatan kerohanian menjadi ruang bagi Warga Binaan untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun kebiasaan positif. Saat mereka tampil di ruang kunjungan, ada proses belajar untuk tampil tertib, percaya diri, dan memberikan suasana yang baik bagi Warga Binaan maupun keluarga yang datang,” ujarnya.
Salah seorang Warga Binaan, Risky, senang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Baginya, bermain rebana dan melantunkan selawat memberikan pengalaman berbeda sekaligus membuat waktu bersama rekan-rekan Warga Binaan terasa lebih bermakna.
“Selain menyalurkan hobi, kami juga bisa belajar bersama dan mengisi waktu dengan kegiatan positif. Apalagi ketika tampil saat keluarga datang berkunjung, rasanya lebih percaya diri dan bisa menunjukkan kami juga sedang berusaha menjadi lebih baik,” kata Risky.
Bagi Warga Binaan, setiap lantunan yang dimainkan menjadi perjalanan memperbaiki diri. Sementara bagi keluarga yang hadir, suasana tersebut menghadirkan sebuah pesan sederhana: di balik tembok Rutan, tetap ada ruang untuk tumbuh, berkarya, dan mempersiapkan diri menyambut kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
Di ruang kunjungan, musik religi itu sekaligus menjadi pengingat bahwa masa menjalani pidana juga dapat diisi dengan proses belajar dan perubahan. (IR)
Kontributor: Rutan Pelaihari
What's Your Reaction?


