Warga Binaan Kristen Menyemai Kasih di Balik Jeruji Lapas Wahai
Wahai, INFO_PAS — Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Gereja Ebenhaezer Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Minggu (1/2). Seluruh Warga Binaan beragama Kristen diimbau menyemai kasih melalui rutinitas ibadah Minggu yang kali ini mengangkat tema mendalam: 'Perintah Supaya Saling Mengasihi',
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan kerohanian ini. “Ibadah di hari baru, pekan baru, dan bulan baru ini merupakan pembinaan kepribadian yang sangat penting bagi Warga Binaan. Kami berharap Warga Binaan makin menyadari pentingnya kedamaian dan kedekatan diri dengan Tuhan sehingga mereka siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang baru dan penuh kasih," harapnya.
Senada, Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty Susana Mouw, menegaskan pembinaan rohani menjadi salah satu fondasi utama dalam membentuk perilaku positif Warga Binaan. “Pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek kemandirian, tetapi juga pada pembentukan karakter. Dengan adanya ibadah rutin, kami melihat perubahan yang positif, baik dari sikap maupun cara pandang Warga Binaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari di Lapas,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, ibadah yang dipimpin oleh Pdt. G. Telehala ini bertujuan menyegarkan iman dan menanamkan nilai-nilai kasih Kristiani di tengah masa pembinaan. Ia menekankan kasih merupakan dasar utama dalam kehidupan orang kristen.
"Sebagaimana Yesus telah mengasihi umat-Nya, demikian pula setiap orang dipanggil untuk saling mengasihi tanpa memandang latar belakang. Kasih bukan hanya sebatas kata-kata, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata seperti saling menghormati, mengampuni, dan hidup dalam kebersamaan di tengah perbedaan," ungkapnya.
Dikatakan Telehala, meskipun berada di Lapas, bukan berarti kasih Tuhan berhenti. "Justru di tempat ini, kita dipanggil untuk mempraktikkan kasih dengan saling mendukung, mengampuni, dan memperhatikan sesama Warga Binaan. Tema ini diambil untuk mengingatkan kembali esensi ajaran Kristus di mana kasih menjadi dasar persaudaraan yang sejati, terutama dalam konteks kehidupan bersama di Lapas, saling mengasihi menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang aman, tenteram, dan manusiawi," jelasnya.
Di tempat terpisah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, memberikan apresiasi atas konsistensi Lapas Wahai dalam melaksanakan program pembinaan kerohanian. “Kegiatan ini mencerminkan komitmen jajaran Pemasyarakatan dalam menghadirkan pembinaan yang humanis dan berorientasi pada pemulihan. Pembinaan spiritual sangat penting untuk membangun kesadaran diri Warga Binaan agar berintegrasi kembali dengan masyarakatd an tidak mengulangi kesalahan di masa mendatang. Tetap semangat bagi jajaran Pemasyarakatan, terutama dalam memperkuat iman dan solidaritas sesama Warga Binaan,” imbaunya.
Melalui ibadah Minggu yang berkesinambungan, Lapas Wahai terus berupaya menciptakan lingkungan Pemasyarakatan yang religius, aman, dan kondusif, sekaligus mendukung tujuan Sistem Pemasyarakatan dalam membentuk Warga Binaan menjadi insan yang kelak bertanggung jawab dan berkontribusi bagi bangsa dan negara. (IR)
Kontributor: Lapas Wahai
What's Your Reaction?


