Pemenuhan Hak Warga Binaan dan Pelayanan Publik di Lapas Banjarmasin Tuai Apresiasi Staf Ahli Menteri Imipas

 Pemenuhan Hak Warga Binaan dan Pelayanan Publik di Lapas Banjarmasin Tuai Apresiasi Staf Ahli Menteri Imipas

Banjarmasin, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin menerima kunjungan Staf Ahli Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Bidang Pelayanan Publik dan Reformasi Hukum, Dr. Iwan Santoso, Rabu (28/10). Kunjungan tersebut dilaksanakan sebagai monitoring dan evaluasi (monev) pemenuhan hak Warga Binaan, serta pelaksanaan pelayanan publik.

Kedatangannya disambut langsung oleh Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, bersama jajaran. Ia menyampaikan monev tersebut menjadi kesempatan bagi jajaran untuk memperkuat kualitas pelayanan sekaligus memastikan pemenuhan hak Warga Binaan berjalan sesuai ketentuan. Masukan yang diberikan juga menjadi evaluasi untuk mengembangkan program pembinaan kemandirian agar semakin produktif dan memiliki nilai ekonomi.

“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik dan memastikan hak-hak Warga Binaan terpenuhi sesuai ketentuan yang berlaku. Di sisi lain, program pembinaan kemandirian akan terus kami dorong agar menghasilkan produk berkualitas, memiliki daya saing, dan membuka peluang usaha bagi Warga Binaan sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat,” ujar Akhmad.

Dalam kunjungan tersebut, Iwan meninjau sejumlah fasilitas dan layanan, mulai dari Pos Balai Pemasyarakatan (Bapas), Ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), dapur, blok hunian, hingga Warung Telekomunikasi Khusus Pemasyarakatan (Wartelsuspas). Saat meninjau Pos Bapas, ia mengapresiasi kondisi ruangan yang luas serta kemampuan petugas dalam menjelaskan secara terperinci tata cara pelaksanaan program Pos Bapas di Lapas Banjarmasin. “Ruangan Pos Bapas ini sangat luas dan petugas yang bertugas juga mampu menjelaskan secara terperinci tata cara pelaksanaan program Pos Bapas di Lapas Banjarmasin. Ini menjadi hal positif dalam mendukung pelaksanaan layanan Pemasyarakatan,” pujinya.

Pada peninjauan PTSP, Iwan menekankan pentingnya pelayanan yang berorientasi pada solusi untuk mempermudah keluarga Warga Binaan saat mengakses layanan kunjungan. Menurutnya, setiap layanan harus memberikan kemudahan, kejelasan, dan kenyamanan bagi masyarakat. “Pastikan setiap layanan yang diberikan selalu mengedepankan solusi dan kemudahan bagi masyarakat, khususnya keluarga Warga Binaan yang berkunjung ke Lapas Banjarmasin. Pelayanan publik harus memberikan kemudahan, kejelasan, dan kenyamanan bagi setiap pengguna layanan,” tegasnya.

Selanjutnya, saat mengunjungi dapur, Iwan memberikan apresiasi terhadap kebersihan nasi dan porsi makanan yang disajikan bagi Warga Binaan. Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu terus dijaga dalam penyelenggaraan makanan di Lapas. “Nasi yang disajikan terlihat bersih dan porsinya juga cukup banyak. Ini menjadi salah satu hal yang menunjukkan penyediaan makanan bagi Warga Binaan telah diperhatikan dengan baik. Pastikan kualitas makanan tetap terjaga serta sesuai standar gizi dan standar menu yang telah ditetapkan,” ungkapnya.

Di blok hunian, Iwan mengingatkan pentingnya koordinasi dan tertib administrasi dalam pelaksanaan penambahan bangunan, perawatan kamar hunian, maupun pekerjaan lainnya. Setiap kegiatan terkait pemeliharaan dan pembangunan fasilitas diminta untuk dilaporkan, serta diketahui oleh Kepala Urusan Umum agar pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, saat meninjau Wartelsuspas, Iwan menegaskan perlunya kejelasan biaya penggunaan layanan agar Warga Binaan dapat berkomunikasi dengan keluarga di luar Lapas secara mudah dan transparan. Ia juga mengingatkan agar penggunaan fasilitas tersebut diawasi dengan baik untuk mencegah penyalahgunaan.

Usai meninjau layanan dan fasilitas, Iwan melanjutkan kunjungan dengan melihat secara langsung berbagai program pembinaan kemandirian Warga Binaan. Program yang ditinjau meliputi pembuatan camilan akar pinang, kerajinan kain sasirangan, kerajinan berbahan batok kelapa, pemanfaatan sampah rumah tangga, serta budi daya ikan cupang, ikan lele, dan ayam petelur.

Pada kegiatan kerajinan batok kelapa, Iwan mengapresiasi kreativitas Warga Binaan dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai guna. Ia mendorong agar hasil kerajinan terus disempurnakan, terutama dari segi kehalusan pengerjaan, dan dikembangkan dengan lebih banyak variasi produk agar memiliki daya tarik bagi konsumen.

Saat melihat program pemanfaatan sampah rumah tangga, Iwan menilai inisiatif tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) baru di lingkungan Pemasyarakatan. “Saya kira ini yang pertama dilakukan di Lapas dan tentunya ini akan menjadi UMKM baru di lingkungan Pemasyarakatan. Pastikan kualitas produk kita mampu bersaing dengan produk di luar agar menjadi sasaran pemasaran,” pesannya.

Di area budi daya ikan cupang, Iwan mengapresiasi keberhasilan pembinaan yang ditunjukkan melalui banyaknya varietas ikan yang dihasilkan. Menurutnya, kualitas ikan cupang yang dibudidayakan sudah layak dipasarkan. Langkah selanjutnya adalah membuka peluang pasar yang lebih luas agar hasil pembinaan tersebut memberikan nilai ekonomi.

“Luar biasa, jenis ikan cupang di sini sangat layak dipasarkan. Yang paling penting, upaya pembinaan dalam budidaya ikan cupang ini sudah sangat berhasil, dibuktikan dengan banyaknya varietas yang dihasilkan. Tinggal bagaimana membuka peluang pasar selanjutnya,” puji Iwan.

Sementara itu, dalam peninjauan budidaya ikan lele, Iwan mendorong pemanfaatan limbah dapur yang masih layak diolah sebagai pakan ikan. Pengolahan limbah secara rutin diharapkan membantu mengurangi ketergantungan pada pakan pelet sekaligus menekan biaya produksi budidaya. “Upayakan limbah dapur yang masih bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan diproses setiap hari. Ini dapat membantu mengurangi biaya pembelian pakan pelet untuk ikan,” pesannya.

Apresiasi juga disampaikan saat meninjau budidaya ayam petelur. Iwan menilai perawatan ayam di Lapas Banjarmasin sangat baik, terlihat dari kondisi kandang yang tidak menimbulkan bau kotoran menyengat meskipun berada dalam jarak dekat. Selain itu, ukuran telur yang dihasilkan juga dinilai cukup besar. “Perawatan ayam petelur di sini sangat luar biasa. Meskipun kita berada dekat dengan kandang, tidak tercium bau kotoran ayam yang menyengat seperti yang biasanya ditemukan di kandang pada umumnya. Telur yang dihasilkan pun cukup besar,” tuturnya.

Melalui monev ini, Lapas Banjarmasin diharapkan terus menjaga kualitas pelayanan, meningkatkan akuntabilitas pengelolaan fasilitas, serta mengembangkan program pembinaan kemandirian yang produktif dan berkelanjutan. Dengan demikian, pelaksanaan Pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pemenuhan hak Warga Binaan, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan dan peluang ekonomi untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pembinaan. (IR)

 

 

Kontributor: Lapas Banjarmasin

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0