Peserta Magang Belajar Ketahanan Pangan di Lapas Kelas I Tangerang lewat Panen Perdana Ubi Jalar

Peserta Magang Belajar Ketahanan Pangan di Lapas Kelas I Tangerang lewat Panen Perdana Ubi Jalar

Tangerang, INFO_PAS - Di tengah keterbatasan lahan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang kembali tegaskan inovasi dalam pembinaan kemandirian bukan sekadar wacana. Budidaya ubi jalar yang sebelumnya sempat mengalami kegagalan akibat serangan hama, kini berbuah manis melalui panen perdana dengan hasil sekitar 13 kilogram, Selasa (31/3).

Hasil ini tidak hanya menjadi capaian produksi, tetapi juga upaya mendukung ketahanan pangan skala kecil di lingkungan Lapas. Dengan memanfaatkan lahan terbatas secara optimal, program ini diarahkan untuk menciptakan ketersediaan pangan alternatif sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar.

Capaian tersebut diraih melalui proses panjang yang dibangun kembali dengan pendekatan lebih terarah dan disiplin. Sejak tahap awal, peserta magang dilibatkan secara aktif, mulai dari pemilihan bibit unggul, penyemaian, perawatan intensif, hingga pengendalian hama. Keterlibatan menyeluruh ini menjadikan program tidak sekadar berorientasi pada hasil, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran nyata yang menumbuhkan pengalaman, keterampilan, dan rasa tanggung jawab.

Proses yang dijalani perlahan membentuk rasa memiliki terhadap setiap tahapan yang dikerjakan. Setiap ubi yang dipetik tidak hanya menjadi hasil pertanian, tetapi juga simbol dari kerja keras kolektif, sekaligus penanda kegagalan sebelumnya telah berhasil diubah menjadi pijakan untuk bangkit dan memperbaiki diri.

Kepala Seksi Bimbingan Kerja, Agus Susilo, menegaskan keberhasilan ini merupakan buah dari konsistensi dalam melakukan evaluasi dan perbaikan. Hasil panen ini bukanlah tujuan akhir, melainkan rangkaian pembinaan yang terus dikembangkan secara berkelanjutan, termasuk dalam mendukung kemandirian pangan di lingkungan Lapas.

“Kami menjadikan kegagalan sebelumnya sebagai bahan pembelajaran. Pendampingan terus kami perkuat, pola perawatan kami benahi, dan peserta magang kami libatkan secara lebih aktif agar mereka benar-benar memahami setiap tahapan prosesnya,” ujar Agus.

Salah satu peserta magang, Ikmal, mengungkapkan pengalaman ini memberikan pemahaman baru tentang arti ketekunan. “Dari awal kami ikut langsung, mulai dari tanam sampai perawatan. Waktu gagal, kami evaluasi bersama. Sekarang bisa panen, rasanya lebih puas karena kami tahu prosesnya tidak mudah,” tuturnya.

Lebih dari sekadar menghasilkan panen, kegiatan ini juga menunjukkan keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang untuk tetap produktif. Melalui pembinaan yang adaptif, peserta magang didorong untuk berpikir inovatif, termasuk dengan mulai mengembangkan metode pertanian lain, seperti hidroponik, guna mengoptimalkan ruang yang tersedia. Langkah ini sekaligus memperkuat konsep ketahanan pangan berkelanjutan berbasis kemandirian dan pemanfaatan sumber daya yang ada.

Pada akhirnya, program ini menjadi wujud nyata komitmen Lapas Kelas I Tangerang dalam menghadirkan pembinaan yang produktif, edukatif, dan berkelanjutan. Lebih dari sekadar panen, kegiatan ini merepresentasikan upaya membangun kembali keterampilan, menumbuhkan kemandirian, serta memupuk harapan—bahwa dari keterbatasan, keberhasilan tetap dapat tumbuh secara nyata dan berkelanjutan. (IR)

 

 

Kontributor: Lapas Kelas I Tangerang

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0