RATUSAN PERSONEL JALANI TES PSIKOLOGI

TANJUNG REDEB –Polres Berau kembali menggelar tes psikologi kepada ratusan personel calon pemegang senjata api (senpi), Rabu (18/6) lalu. Tes tersebut dilaksanakan di gedung SMA 1 Berau, selama 3 hari hingga Jumat (20/6).   Tidak hanya diikuti oleh aparat Polri, namun juga diikuti oleh sejumlah personel dari institusi lain seperti petugas Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB, Tanjung Redeb.   Kapolres Berau AKBP Mukti Juharsa saat dikonfirmasi mengatakan, tes psikologi ini dilakukan rutin, minimal sekali setahun. Tujuannya untuk mengetahui kondisi kejiwaan sekaligus kemampuan seorang anggota Polri.   "Tes ini wajib diikuti anggota yang memegang senjata dinas dan anggota calon pemegang senjata. Dari hasil tes ini dapat diketahui apakah masih layak atau tidak memegang senjata api. Biasanya kegiatan ini juga dilakukan per 6 bulan," jelasnya.   Mukti menegaskan, anggota Polri yang memegang senpi tidak sembarangan na
RATUSAN PERSONEL JALANI TES PSIKOLOGI

TANJUNG REDEB –Polres Berau kembali menggelar tes psikologi kepada ratusan personel calon pemegang senjata api (senpi), Rabu (18/6) lalu. Tes tersebut dilaksanakan di gedung SMA 1 Berau, selama 3 hari hingga Jumat (20/6).   Tidak hanya diikuti oleh aparat Polri, namun juga diikuti oleh sejumlah personel dari institusi lain seperti petugas Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB, Tanjung Redeb.   Kapolres Berau AKBP Mukti Juharsa saat dikonfirmasi mengatakan, tes psikologi ini dilakukan rutin, minimal sekali setahun. Tujuannya untuk mengetahui kondisi kejiwaan sekaligus kemampuan seorang anggota Polri.   "Tes ini wajib diikuti anggota yang memegang senjata dinas dan anggota calon pemegang senjata. Dari hasil tes ini dapat diketahui apakah masih layak atau tidak memegang senjata api. Biasanya kegiatan ini juga dilakukan per 6 bulan," jelasnya.   Mukti menegaskan, anggota Polri yang memegang senpi tidak sembarangan namun sudah melalui tes uji kelayakan terlebih dahulu. "Tapi tes ini juga, tidak menjamin seorang anggota bisa memegang senpi secara terus menerus. Jika hasil tesnya menunjukkan emosional tinggi dan tidak terpenuhinya syarat lain, secara otomatis surat izin dan senpi ditarik," kata perwira berpangkat melati dua ini.   Dijelaskannya, tes ini merupakan prosedur wajib yang harus dilalui. Prosedur penggunaan senpi telah diatur dalam Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Perkapolri) Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Perkapolri Nomor 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian.   "Dalam Perkapolri tersebut, penggunaan senjata api hanya boleh dilakukan ketika menghadapi kejadian luar biasa, membela orang lain dari ancaman kematian dan atau luka berat dan mencegah terjadinya kejahatan berat atau yang mengancam jiwa," jelasnya.   Selain itu, kata Mukti, menahan, mencegah atau menghentikan seseorang yang sedang melakukan tindakan yang sangat membahayakan jiwa serta menangani situasi yang membahayakan jiwa, dimana, langkah-langkah yang lebih lunak tidak cukup.   Maka dari itu, kata dia, dalam peraturan tersebut juga diatur untuk dapat menggunakan sejumlah prosedur, cara yang harus ditempuh yakni, administrasi, kemahiran menggunakan senjata hingga tes psikologi.   “Intinya juga tes dilakukan untuk mengantisipasi penyalahgunaan senpi dalam bertugas karena faktor psikologis,” tandas Mukti.(app/asa)   Sumber :  beraupost.co.id

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0