Sortir Prepupa untuk Calon Indukan, Lapas Batulicin Jaga Keberlanjutan Budi Daya Maggot

Sortir Prepupa untuk Calon Indukan, Lapas Batulicin Jaga Keberlanjutan Budi Daya Maggot

Batulicin, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin kembangkan budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian Warga Binaan. Pada Rabu (28/10), pemilahan prepupa untuk calon indukan dilakukan di area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Batulicin guna menjaga keberlanjutan siklus budi daya.

Pemilahan dilakukan dengan memisahkan prepupa berwarna cokelat hingga kehitaman dari maggot yang akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Prepupa terpilih ditempatkan dalam wadah terpisah sebelum dipindahkan ke kandang khusus untuk melanjutkan metamorfosis hingga menjadi lalat BSF dewasa.

Budi daya maggot di Lapas Batulicin disesuaikan dengan kebutuhan produksi dan pemanfaatan hasil pada setiap fase pertumbuhan. Telur yang menetas menjadi larva, baby maggot, hingga maggot muda dikelola untuk mendukung regenerasi budi daya atau dimanfaatkan sebagai pakan bebek dan ayam petelur.

Secara umum, fase prepupa muncul saat larva berusia sekitar 15–35 hari dan ditandai perubahan warna menjadi cokelat hingga kehitaman. Sekitar tujuh hari kemudian, prepupa berubah menjadi pupa yang membutuhkan waktu sekitar 7–14 hari untuk berkembang menjadi lalat BSF dewasa sebagai calon indukan.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Batulicin, Harry Indrawan, menjelaskan bahwa pemilahan perlu memperhatikan ciri fisik dan fase perkembangan maggot agar calon indukan dapat dipersiapkan secara tepat.

“Prepupa yang mulai menggelap dipisahkan dari maggot yang akan digunakan sebagai pakan. Setelah ditempatkan pada wadah yang sesuai, prepupa akan berkembang menjadi pupa, kemudian menjadi lalat BSF dewasa yang dapat berperan sebagai indukan untuk menghasilkan telur pada siklus berikutnya,” jelas Harry.

Salah seorang Warga Binaan, HS, yang terlibat dalam budi daya maggot, menjelaskan bahwa pemilahan dilakukan dengan mengamati perubahan warna dan kondisi maggot sebelum memisahkannya ke wadah berbeda.

“Kami memilah maggot berdasarkan fase perkembangannya. Prepupa yang mulai menggelap dipersiapkan menjadi calon indukan, sedangkan maggot pada fase yang sesuai dimanfaatkan sebagai pakan ternak,” ungkap HS.

Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, menyampaikan bahwa budi daya maggot jadi bagian dari pembinaan kemandirian yang mengajarkan keterampilan praktis, pemanfaatan sumber daya, dan pengelolaan kegiatan produktif.

“Budi daya maggot menjadi salah satu sarana bagi Warga Binaan untuk mempelajari proses produksi secara berkelanjutan, mulai dari pemeliharaan hingga pemanfaatan hasil. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi bekal yang bermanfaat setelah mereka kembali ke tengah masyarakat,” ujar Thoha.

Pengelolaan siklus maggot BSF secara berkelanjutan diharapkan dapat mendukung kebutuhan pakan ternak sekaligus memperkuat pembinaan kemandirian di Lapas Batulicin. Keterampilan yang diperoleh juga diharapkan dapat jadi bekal bagi Warga Binaan setelah menjalani masa pidana. (afn)

 

Kontributor: Humas Lapas Batulicin

 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0