Bangun Kesadaran Iman, Warga Binaan Lapas Wahai Ikuti Ibadah Virtual Pekan Prapaskah I
Wahai, INFO_PAS - Suasana khidmat selimuti Gereja Ebenhaizer saat Warga Binaan Kristiani ikuti ibadah virtual Pekan Prapaskah I yang digelar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai bersama Yayasan Cahaya Kasih, Senin (23/2). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi rohani untuk tumbuhkan kesadaran iman sekaligus perteguh komitmen menjalani masa pembinaan dengan ketaatan.
Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty Susana Mouw, menegaskan bahwa ibadah virtual gabungan menjadi wadah refleksi sekaligus mempererat kebersamaan antar-Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan.
“Ibadah ini menjadi sarana pembentukan karakter. Ketika Warga Binaan belajar untuk taat dan mau diatur, sesungguhnya mereka sedang diproses untuk memiliki mental yang siap kembali ke masyarakat. Pembinaan spiritual adalah fondasi utama dalam membangun perubahan yang sejati,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menyampaikan bahwa ibadah virtual merupakan bagian penting dari program pembinaan mental dan spiritual.
“Ibadah virtual membantu mengatasi keterbatasan tempat, sehingga Warga Binaan dapat tetap terhubung dengan pelayanan gereja, khususnya pada masa Prapaskah pekan pertama ini,” ungkapnya. Ia berharap kegiatan ibadah rutin dapat membentuk pribadi Warga Binaan yang lebih spiritual, sadar hukum, dan bertanggung jawab.
Di tempat terpisah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Dwi Ricky Biantoro, mengapresiasi konsistensi pelaksanaan pembinaan kerohanian di jajaran Pemasyarakatan Maluku, termasuk di Lapas Wahai.
“Kegiatan ibadah virtual gabungan menunjukkan komitmen jajaran Pemasyarakatan dalam membangun sumber daya manusia yang tidak hanya disiplin, tetapi juga memiliki integritas dan nilai moral yang kuat. Pembinaan berbasis spiritual menjadi bagian penting dalam mewujudkan sistem Pemasyarakatan yang humanis dan berkeadilan,” ujarnya.
Ibadah virtual pekan ini dipimpin oleh Pendeta Benny dengan pembacaan Firman Tuhan dari Kitab Kejadian 2:15–17 mengangkat tema khotbah “Tahu Aturan dan Mau Diatur.” Dalam khotbahnya, ia menegaskan bahwa sejak awal penciptaan, Tuhan menetapkan aturan sebagai bentuk kasih dan perlindungan bagi manusia.
“Mengetahui aturan saja tidak cukup, tetapi harus disertai kerendahan hati untuk mau diatur. Ketaatan adalah dasar dari pemulihan dan kemenangan hidup,” pesannya.
Ia juga menekankan bahwa kehidupan di dalam Lapas merupakan kesempatan untuk belajar disiplin, tanggung jawab, dan ketaatan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
Melalui ibadah virtual ini, diharapkan Warga Binaan semakin menyadari pentingnya hidup dalam ketaatan kepada Tuhan maupun terhadap aturan yang berlaku, sebagai langkah awal menuju perubahan hidup yang lebih baik dan bermakna di masa Prapaskah tahun 2026. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Wahai
What's Your Reaction?


