Dari Peserta Jadi Fasilitator, Lapas Kelas I Cipinang Perkuat Pendidikan Berbasis Kolaborasi
Jakarta, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang mulai terapkan hasil Training of Trainers (ToT) PKBM Warga Mandiri dengan melibatkan Warga Binaan sebagai fasilitator pembelajaran bagi sesamanya. Perkembangan tersebut mengemuka pada sesi akhir pelatihan, Rabu (4/11), ketika para calon tutor mempresentasikan karya sekaligus menunjukkan kesiapan mengambil peran dalam kegiatan pendidikan.
Pada sesi akhir yang dipandu Septiyawan selakumPetugas Pembinaan Kepribadian, para peserta mempresentasikan hasil proyek di hadapan penggiat pendidikan, termasuk Imron Zuhri, Founder sekaligus Chief Technology Officer HARA. “Yang menarik bukan hanya produk akhirnya, tetapi bagaimana peserta membangun gagasan, menguji informasi, dan menjelaskan hasil pemikirannya. Kemampuan belajar, berkolaborasi, dan menyelesaikan persoalan seperti ini menjadi bekal penting untuk terus berkembang,” ujar Imron.
Salah seorang calon tutor, Hans Aditya, mengaku proses pelatihan mengubah cara pandangnya terhadap pembelajaran. “Awalnya kami belajar untuk diri sendiri. Sekarang kami mulai belajar bagaimana membantu teman-teman memahami sesuatu. Menjadi tutor ternyata bukan sekadar menjelaskan, tetapi juga mendengarkan dan belajar bersama,” ungkapnya.
ToT yang berlangsung sejak 16 September 2026 melibatkan penggiat pendidikan dari berbagai komunitas, antara lain Sekolah Erudio Indonesia, SAKA, Gudskul, dan Sanggar Akar. Melalui pendekatan berbasis proyek, peserta berlatih melakukan riset, mengembangkan gagasan, bekerja sama, menghasilkan karya, hingga mengomunikasikan hasilnya.
Hasil pelatihan mulai diterapkan melalui keterlibatan sejumlah peserta sebagai Tim Hebat PKBM Warga Mandiri yang mendampingi Masa Orientasi Siswa bagi enam peserta didik baru sejak Senin (2/11). Langkah ini menjadi awal peralihan peran Warga Binaan dari peserta pelatihan menuju fasilitator pembelajaran.
Secara terpisah, Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani, menegaskan pendidikan perlu membuka ruang bagi Warga Binaan untuk mengembangkan potensi sekaligus memberi manfaat bagi sesama. “Keberhasilan pembinaan bukan hanya ketika Warga Binaan menyelesaikan pelatihan, tetapi ketika pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh mulai dibagikan kepada orang lain. Inilah pemberdayaan yang ingin terus kami tumbuhkan melalui PKBM Warga Mandiri,” tegasnya.
Melalui keterlibatan berbagai penggiat pendidikan, Lapas Cipinang memperkuat PKBM Warga Mandiri sebagai ekosistem pembelajaran kolaboratif, tempat pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan Warga Binaan dikembangkan menjadi sumber belajar bagi sesamanya. (IR)
Kontributor: Lapas Kelas I Cipinang
What's Your Reaction?


