International Seminar on Treatment of Elderly Prisoners, Bangun Komitmen Penanganan Napi Lansia

Share:

Jakarta, INFO_PAS – Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly, tak kuasa menahan haru usai menyaksikan video narapidana lanjut usia saat acara pembukaan International Seminar on Treatment of Elderly Prisoners, Rabu (17/10) di Hotel Grand Mercure, Kemayoran. Yasonna menyebut bertambahnya jumlah populasi lansia di satu negara memiliki konsekuensi logis dan menciptakan tantangan tersendiri di pelbagai aspek kehidupan, khususnya sosial dan ekonomi sebagaimana aspek hukum.

Satu isu penting yang penting untuk mendapat perhatian adalah bertambahnya jumlah narapidana lansia di lembaga pemasyarakatan (lapas). Apalagi berdasarkan Sistem Database Pemasyarakatan per Oktober 2018, jumlah narapidana lansia di Indonesia mencapai 4.408 atau 5,4 % dari total 238.00- narapidana di seluruh Indonesia.

“Mereka masuk kategori rentan tindakan multi diskriminasi, marjinalisasi, sub ordinasi, penelantaran, dan stereotip yang berujung pada potensi sebagai tindak kekerasan di lapas. Secara biologis, narapidana lansia jugatelah mengalami penurunan daya tahan fisik yang menyebabkan mereka lemah dan rentan mengalami gangguan kesehatan,” tutur Yasonna.

Ia berharap melalui seminar ini dapat membangun kerja sama dan komitmen penanganan narapidana lansia. “Kita butuh momentum ini untuk menelurkan kesepakatan-kesepakatan standar yang terarah, terstruktur, dan komprehensif serta memayungi penanganan narapidana lansia agar mereka mampu menjadi lansia yang mandiri, bermartabat, dan produktif sebagai implementasi bentuk negara hadir untuk memberikan perhatian serta keadilan yang proporsional kepada narapidana lansia,” tegas Yasonna.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pemasyarakatan juga mengatakan meningkatnya jumlah narapidana lansia di dunia dan di Indonesia khususnya merupakan salah satu faktor yang mendorong kami untuk berinisiatif menyelenggarakan kegiatan ini.

“Kami harap seminar ini dapat Menjaring informasi dan pengetahuan berbagai pihak berkenaan dengan kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing negara dalam upaya penanganan narapidana lansia serta memfasilitasi terselenggaranya suatu forum internasional dalam rangka ruang pertukaran informasi dan pengetahuan terhadap treatment bagi para narapidana lansia,” harap Utami.

Hasil seminar ini nantinya akan menyusun dan merumuskan poin-poin kesepakatan terhadap upaya penanganan narapidana lansia agar dapat dipergunakan dan ditindaklanjuti sebagai pedoman internasional atau sebagai alat analisis yang tepat dan akurat bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan terhadap penanganan narapidana lansia.

Seminar yang diikuti oleh 160 orang peserta terdiri dari perwakilan delegasi negara sahabat, yakni Jepang, Singapura, Thailand, Korea, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Laos, dan Filipina ini akan memperdengarkan pemaparan serta sharing knowledge tentang konsep perlakuan narapidana dan tahanan lansia di tiap-tiap negara.

Selain negara-negara delegasi, Seminar Internasional juga mengikutsertakan perwakilan dari The Asia Foundation (TAF), International Committee of The Red Cross (ICRC), International Criminal Investigative Training Asistance Program (ICITAP), dan United Nations Office Drugs and Crime (UNODC).

Peserta seminar juga akan diberikan kesempatan untuk mengunjungi Lapas Kelas IIA Serang, Kamis (18/10) guna melihat secara langsung bentuk implementasi terhadap upaya penanganan narapidana lansia di Indonesia.

 

 

International Seminar on Treatment of Elderly Prisoners, Bangun Komitmen Penanganan Napi Lansia | INFO_PAS | 4.5

Berita Lainnya