Kisah di Balik Lapas Anak (4) Sino Bangga 22 Tahun Jadi Guru di Lapas

JAKARTA - Tidak jarang pekerjaan yang kita tekuni bertolak belakang dengan bidang ilmu yang dipelajari saat kuliah. Hal ini pula yang dialami Kepala Sekolah SD di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria, Sino. Selama 22 tahun Sino menjalani profesi sebagai tenaga pendidik meski bukan berasal dari lulusan kependidikan.

Pria kelahiran Sidoarjo, 22 Februari 1966 itu menyebut, menjadi seorang tenaga pendidik di lapas memiliki sebuah kebanggaan. "Background saya bukan pendidikan tapi saya bisa mendidik anak-anak di sini dengan kualitas yang sama. Alhamdullilah, semua anak didik (andik) -sebutan untuk penghuni lapas anak pria- yang mengikuti Ujian Nasional (UN) selalu lulus. Itu jadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi saya," ujar Sino kepada Okezone di Lapas Anak P

Kisah di Balik Lapas Anak (4)   Sino Bangga 22 Tahun Jadi Guru di Lapas

JAKARTA - Tidak jarang pekerjaan yang kita tekuni bertolak belakang dengan bidang ilmu yang dipelajari saat kuliah. Hal ini pula yang dialami Kepala Sekolah SD di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria, Sino. Selama 22 tahun Sino menjalani profesi sebagai tenaga pendidik meski bukan berasal dari lulusan kependidikan.

Pria kelahiran Sidoarjo, 22 Februari 1966 itu menyebut, menjadi seorang tenaga pendidik di lapas memiliki sebuah kebanggaan. "Background saya bukan pendidikan tapi saya bisa mendidik anak-anak di sini dengan kualitas yang sama. Alhamdullilah, semua anak didik (andik) -sebutan untuk penghuni lapas anak pria- yang mengikuti Ujian Nasional (UN) selalu lulus. Itu jadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi saya," ujar Sino kepada Okezone di Lapas Anak Pria, Tangerang, baru-baru ini. Dalam mendidik para andik, lanjutnya, memang diperlukan metode khusus. Sebab, mereka memiliki motivasi yang rendah dalam belajar. Mereka cenderung merasa putus asa mengingat perbuatan yang telah mereka lakukan hingga berada di penjara. "Mereka kurang termotivasi dalam belajar. Maka, kami terus-menerus memberikan motivasi agar mereka terpacu untuk belajar. Kami mengingatkan kepada mereka bahwa kehidupan masih panjang jadi jangan berhenti di sini saja. Mereka harus punya mimpi dan cita-cita yang lebih tinggi," paparnya. Pegawai Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) itu mengaku, selama menggeluti profesi sebagai tenaga pendidik di lapas anak pria, dia juga mengalami kendala. Salah satunya adalah peralatan belajar seperti buku dan seragam yang dibagikan kepada andik tiba-tiba raib entah ke mana. "Misalnya hari ini kami bagikan buku tulis dan seragam. Tahu-tahu besok sudah minta buku tulis lagi, tidak tahu buku itu dipakai untuk apa. Sementara budget yang disedikan pemerintah untuk pengadaan peralatan belajar ini terbatas," urai Sino. Menurut Sino, pembinaan yang telah dilakukan oleh pihak lapas hendaknya diteruskan oleh masyarakat ketika mereka telah kembali menjadi anggota masyarakat. Namun, pada kenyataannya, lanjut Sino, masih banyak stigma negatif yang melekat dalam diri bekas napi di kalangan masyarakat. "Di dalam sini sudah kami bina dengan baik tapi ketika kembali ke masyarakat, ternyata mereka tidak diterima sehingga akhirnya mereka kembali melakukan tindak kejahatan. Stigma negatif dalam masyarakat tentang bekas napi ini yang harus dihilangkan. Harusnya ada sosialisasi dari Dinas Sosial terhadap masyarakat dalam menghadapi para napi yang kembali ke masyarakat karena setelah di luar, pembinaan kepada mereka menjadi tanggung jawab masyarakat," imbuh Guru bahasa Indonesia dan Sejarah tingkat SMA itu. (mrg)

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0