Modus-modus Unik Pengedar Selundupkan Sabu ke Lapas

Share:

Semarang – Peredaran sabu tidak mengenal waktu dan tempat, bahkan lembaga pemasyarakatan atau lapas kerap menjadi sasaran. Beberapa usaha dan modus dilakukan, mulai lewat makanan, sepatu, hingga gantungan baju.

Dari catatan detikcom di Jawa Tengah, ada beberapa modus yang dilakukan. Setahun yang lalu, Maret 2016, seorang wanita bernama Ira Ikayanti ditangkap saat hendak membesuk narapidana di Lapas Kelas I Semarang, di Kedungpane.

Dari pemeriksaan badan, ternyata ditemukan paket sabu seberat sekitar 1 gram yang disembunyikan antara sol dan hak sepatunya. Modus serupa dilakukan sebulan sebelumnya oleh perempuan lain untuk menyelundupkan pil Dextro, tapi itu juga digagalkan petugas.

Kemudian pada 21 Oktober 2016, usaha penyelundupan sabu dilakukan lagi di Lapas Semarang. Bahkan kali ini melibatkan oknum sipir berinisial AD. Modusnya, kurir sabu bernama Gendon memasukkan paket sabu ke bungkusan bubur untuk diserahkan kepada napi bernama Catur. Oknum sipir tersebut bertugas mengantarkan bungkusan bubur ke Catur. Ketiganya kini sudah diproses hukum.

Penyelundupan sabu lewat makanan tidak hanya terjadi di lapas, tapi juga pernah dilakukan pemuda bernama M Rizal (23) di tahanan Polrestabes Semarang pada 15 Oktober 2016. Rizal menjenguk temannya, Rizki, sambil membawa nasi bungkus berisi sabu seberat 1,65 gram. Aksi itu digagalkan petugas Polrestabes Semarang.

Modus unik lainnya terjadi pada 22 Februari 2017, ketika seorang kakek yang hendak menjenguk anaknya di Lapas Kelas IIA Pekalongan membawakan ‘oleh-oleh’ berupa kacang kulit yang isinya ternyata sabu. Kacang yang dibawa kakek itu berasal dari teman napi tersebut.

Lembaga pemasyarakatan superketat, yaitu Lapas Narkotika Nusakambangan, juga tidak luput dari usaha para pengedar menyelundupkan sabu. Pada 7 Maret 2016, petugas berhasil menggagalkan penyelundupan 69 paket sabu yang disimpan di dalam dua hiasan salib kayu dan gantungan baju kayu.

Paket sabu disimpan di lubang-lubang yang dibuat di salah satu sisi salib dan gantungan. Lubang ditutup dempul, kemudian dicat. Namun, saat petugas menekan hiasan itu, ternyata ada lubang dan keluarlah paket sabu.

Pada gantungan baju terdapat 10 lubang dengan total 33 paket sabu. Kemudian di salib pertama ada 11 lubang dengan 12 paket sabu. Sedangkan di salib kedua ada 9 lubang dengan 24 paket sabu. Hiasan dan gantungan baju itu dibawa pembesuk bernama Lusiana, yang hendak membesuk napi bernama Heru Purnomo.

Yang terakhir, masih di Lapas Narkotika Nusakambangan, usaha penyelundupan sabu dilakukan dengan memasukkannya ke sela kardus paket. Awalnya paket itu dikirim untuk napi bernama Alif Sofyan, dengan pengirim Hj Suryati, warga Surakarta.

“Pengirim ternyata alamat palsu. Karena setelah dicek, paket tersebut dikirim dari Kantor Pos Pekalongan,” kata Kepala BNNP Jateng Brigjen (Pol) Tri Agus Prasetyo saat gelar kasus di kantornya, Selasa (14/3/2017).

Paket yang sudah diintai sejak dari Kantor Pos Cilacap itu kemudian dibongkar ketika tiba di Nusakambangan. Kardus itu berisi peralatan mandi. Namun di sela ketebalan kardus terdapat 2 paket sabu seberat total 20 gram dan 6 SIM card.

Kalapas Narkotika Nusakambangan Agus Herianto mengatakan berbagai modus penyelundupan sabu ke wilayahnya sudah beberapa kali digagalkan. Modus yang tidak biasa dilakukan, yaitu memasukkan sabu ke hiasan salib, gantungan baju, dan kardus.

“Modus yang unik semenjak saya bertugas, pertama, melalui kapstok dan salib. Dia (pelaku) rapi sekali, didempul agar tidak kelihatan, kemudian dicat, tapi petugas melihat ada lingkaran bekas tambalan. Kedua, lewat selipan kardus ini,” terang Agus.

Agus menegaskan berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk dengan razia dadakan. Pemasangan jammer di lingkungan lapas juga sudah dilakukan.

“Jammer sudah ada, sangat membantu. Sinyal telepon tidak masuk,” tandasnya.

Namun masih saja ada napi yang menyembunyikan telepon seluler. Saat petugas mendapati hal itu, alasan yang digunakan napi adalah telepon seluler tersebut milik napi lainnya yang sudah bebas.

“Alasannya klasik, milik temannya yang sudah bebas,” pungkas Agus.

Masuknya narkoba atau telepon seluler memang tidak hanya dari faktor eksternal, tapi juga bisa dilakukan oknum petugas. Agus menegaskan, jika ada oknum yang coba-coba memasukkan telepon seluler, apalagi narkoba, hukumannya adalah dipecat.

“Akan kita pecat!” tegasnya.

“Kanwil Kemenkumham Jateng sudah sosialisasi sangat keras kepada siapa pun, termasuk petugas,” imbuhnya.(alg/aan)

Sumber : detik.com

Modus-modus Unik Pengedar Selundupkan Sabu ke Lapas | INFO_PAS | 4.5

Berita Lainnya