Perkuat Brand Batik Lintas Lima, Lapas Cipinang Tingkatkan Produksi Batik Cap

Perkuat Brand Batik Lintas Lima, Lapas Cipinang Tingkatkan Produksi Batik Cap

Jakarta, INFO_PAS – Pascalibur Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, aktivitas pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang kembali bergerak penuh semangat baru. Tidak hanya pastikan layanan berjalan optimal, Lapas Cipinang juga langsung akselerasi program pembinaan kemandirian, salah satunya melalui penguatan produksi Batik Lintas Lima, brand batik unggulan karya Warga Binaan.

Sebagai bagian dari strategi pasca-Idulfitri yang menekankan produktivitas dan keberlanjutan pembinaan, produksi batik kini difokuskan pada optimalisasi teknik batik cap. Metode ini dipilih untuk menjaga konsistensi produksi sekaligus memperkuat posisi Batik Lintas Lima sebagai produk unggulan yang siap bersaing di pasar.

Kepala Lapas Cipinang, Wachid Wibowo, menyampaikan bahwa penguatan produksi ini merupakan langkah strategis dalam memastikan pembinaan tidak hanya berjalan, tetapi juga menghasilkan output yang bernilai nyata.

“Batik Lintas Lima bukan sekadar hasil karya, tetapi representasi identitas dan kebanggaan. Melalui pembinaan ini, Warga Binaan tidak hanya dilatih keterampilan, tetapi juga dibentuk disiplin, etos kerja, dan kesiapan untuk kembali ke masyarakat dengan bekal yang produktif,” ujar Wachid, Senin (30/3).

Secara teknis, penggunaan metode batik cap memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi produksi. Dibandingkan teknik batik tulis, metode ini memungkinkan Warga Binaan menghasilkan tiga hingga lima lembar kain batik dalam satu hari kerja, sehingga proses produksi menjadi lebih terukur, terencana, dan berorientasi pada target capaian.

Adapun tahapan produksi batik cap meliputi penentuan desain dan motif, pemanasan lilin malam, proses pencapan pada kain, hingga pewarnaan. Kain kemudian melalui proses nglorod—perebusan untuk menghilangkan lilin—yang dilanjutkan dengan pembilasan dan pengeringan hingga siap dipasarkan.

Kepala Bidang Kegiatan Kerja, Irdiansyah Rana, menjelaskan bahwa peningkatan produksi ini juga diarahkan untuk memastikan kesiapan stok dalam mendukung berbagai kegiatan promosi dan pameran.

“Untuk pameran khusus batik, kami menyiapkan sekitar 40 hingga 50 lembar. Sedangkan untuk kegiatan yang menampilkan beragam produk Warga Binaan, berkisar 10 hingga 20 lembar. Dengan batik cap, kami bisa menjaga konsistensi ketersediaan produk,” jelasnya.

Salah satu Warga Binaan yang terlibat dalam produksi, MS, mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kebiasaan kerja yang terstruktur.

“Kami bekerja dengan target dan tahapan yang jelas. Dari sini kami belajar disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab. Ini menjadi bekal penting saat kembali ke masyarakat,” ungkapnya.

Produk Batik Lintas Lima dipasarkan dengan kisaran harga mulai dari Rp350.000, tergantung motif dan tingkat pengerjaan. Hasil produksi tersebut menjadi bagian dari penguatan program pembinaan kemandirian yang terintegrasi dengan pengembangan UMKM Pemasyarakatan.

Melalui penguatan ini, Lapas Cipinang turut mendukung 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam mendorong pemasaran produk karya Warga Binaan melalui koperasi dan ekosistem UMKM. Hal ini sekaligus mempertegas peran pembinaan sebagai instrumen nyata dalam menciptakan nilai tambah dan peluang ekonomi. (afn)

 

Kontributor: Humas Lapas Cipinang

 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0