Aku, Pesantren, dan Kepulanganku

Aku, Pesantren, dan Kepulanganku

Hari ini seperti biasa, menjalani hari-hari seperti layaknya anak pesantren. Dibangunkan oleh teman sekamarku, namanya Arul, untuk salat subuh berjamaah. Dengan keadaan yang masih mengantuk aku bangun. Tidak ada yang jauh berbeda, rutinitasku dulu dan sekarang. Hanya keadaan saja mungkin yang sedikit membuatnya pahit. Kalau dulu aku di Pesantren yang diajar oleh ustad dan diisi oleh para santri, sekarang pesantren yang kujalani adalah Pesantrennya para napi, alias penjara, yang khusus untuk anak-anak sepertiku menjalani hukuman dalam bui.

Sehabis salat, sambil melaksanakan wirid pikiranku melayang ke masa-masa dulu. Saat dimana ini semua berawal. Beberapa bulan yang lalu Aku pulang ke kampung, menemui Abah, Ibu dan Saudara-saudaraku di rumah. Melepas kangen karena sudah lama tak jumpa. Tidak pernah terpikir olehku bahwa kepulanganku tidak sekedar pulang, tapi membuatku menempuh jalan yang berbeda, jalan yang menjerumuskanku menjadi seorang yang berbeda, yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku.

Hari itu di kampung, aku berkumpul bersama teman-temanku dilapangan luas yang biasa untuk anak-anak main sepak bola. Kami berencana akan bertanding dengan anak-anak kampung sebelah. Sudah lama dari kali terakhir aku bermain sepak bola. Aku sangat bersemangat. Adikadikku, yang bernama Alif dan Jali juga ikut bersamaku, Mereka masih kecil, berumur 7 dan 8 tahun. Mereka sangat senang ikut bersamaku, karena kakak-kakakku yang lain di rumah adalah perempuan, sehingga membuat mereka bersemangat bila bertemu denganku, hanya aku yang mau membawa mereka ikut ke permainan-permainan anak laki-laki, seperti salah satunya ini, membawa mereka ikut ke lapangan sepak bola.

Berkumpul disana teman-teman sebayaku yang berumur 15 sampai 16 tahun. Mereka sebagian kukenal dan sebagian tidak, rupanya sudah banyak pendatang di kampungku. Pertandingan dimulai setelah anak-anak dari kampung sebelah datang. Tidak kusangka mereka juga membawa pendukung yang banyak, berdatangan dengan mobil-mobil pick up. Saat aku melihat itu, serasa ada yang mengganjal dan aneh. Aku pun bertanya kepada salah satu temanku yang kukenal. “Kenapa mereka datang dengan seheboh itu, Mat?” Amat, teman yang kutanyai itu menjawab, “Mereka sepertinya bersemangat ingin membalas kekalahan dipertandingan sebelumnya. Kamu mungkin baru tahu karena sudah lama tidak ada di kampung, tapi permainan kita akhir-akhir ini tidak ada yang berakhir dengan baik-baik.” Aku mulai was-was, yang kupikirkan adalah adik-adikku, akankah permainan ini akan membahayakan mereka? Amat menepuk pundakku dan berkata, “Ayo kita main.” Perasaan was-was itu, aku dorong ke belakang, dan kemudian berusaha aku abaikan. Tidak pernah aku menyangka, bahwa hal yang aku abaikan itu, menjadi penyesalan besar berkepanjangan.

Permainan berjalan sangat sengit. Beberapa pemain di timku yang tidak aku kenal siapa namanya mulai bermain kasar. Para pendukung juga mulai nampak ikut emosi. Adik-adikku duduk di pinggir lapangan masih terlihat bersamangat menonton membela timku, mereka sama sekali tidak mengerti situasi yang terjadi.

Beberapa saat kemudian, hal yang tak terduga terjadi, entah datang dari mana, batu-batu berlemparan. Perkelahian di tengah lapangan terjadi. Aku terseret arus perkelahian, segala hal di sekitar sangat memancing emosi kemarahan. Dari jauh aku lihat kedua adikku berlari, dan firasat burukku muncul. Alif terjatuh dan mendorong seseorang yang tidak dikenal. Orang itu marah dan ingin memukul Alif. Aku berlari sekencang-kencangnya, dan sebelum tangan itu sampai mengenai Alif, aku mendorong orang itu. Terlalu keras mungkin, hingga orang itu terjatuh keras, dan kulihat orang itu terluka, adikku menangis, dan dadaku sesak penuh amarah. Segalanya, begitu cepat, secepat aku tak lama kemudian, sudah berada di kantor polisi, diamankan bersama beberapa orang lainnya.

“Orang itu meninggal, nak,” kata Abah kepadaku.

“Siapa, bah?” tanyaku pucat pasi.

“Orang yang berkelahi denganmu.” Abah mengucapkannya dengan bergetar.

Sejenak aku terdiam, aku tidak tahu, perasaan saat itu terlalu sesak. Marahkah aku? Atau sedihkah aku? Aku tidak tahu. Aku hanya tidak menyangka kehidupan membawaku ke jalan ini.

Ibu menghampiriku. Beliau menangis. Dan aku, aku masih terdiam. Dan perasaan itu perlahan muncul. Aku merasa hancur, merasa bingung, dan merasa takut. Apa yang akan terjadi setelah ini?

Segala proses persidangan serasa berjalan dengan cepat, hari itu, saat pertama kali aku menginjakkan kaki di penjara, penjara khusus Anak. Di hari itu, Abah berpesan kepadaku.

“Dimanapun kamu berada, nak. Tetaplah ingat bahwa Allah, Tuhan kita tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu disini, tetaplah belajar, selayaknya di pesantren. Tetap mengaji, tetaplah shalat.”

Aku saat itu hanya diam, segala proses yang kujalani terasa melelahkan. Hari itu, aku hanya diantar oleh Abah. Keluargaku yang lainnya, aku memutuskan untuk tidak ingin bertemu mereka. Entah kenapa, yang terkumpul saat itu adalah perasaan marah. Marah pada keluargaku, marah pada keadaan, dan mungkin, saat itu aku sedang marah pada Tuhan.

Lamunanku sehabis shalat, dikejutkan oleh temanku Arul.

“Kita akan siap-siap ikut kegiatan hari ini,” kata Arul.

“Memangnya ada kegiatan apa hari ini?” tanyaku.

“Hei ini anak, kerjanya ngelamun terus. Hari ini 17 Agustus. Kita bakalan ada pengumuman pemberian remisi,” Arul menjelaskan.

“Remisi? Pengurangan masa pidana kah maksudmu?” tanyaku memastikan.

“Iya benar sekali, tahun kemarin aku dapat pengurangan satu bulan. Semoga tahun ini dapat lebih banyak. Aku ingin segera berkumpul dengan keluargaku,” kata Arul bersemangat.

Aku hanya diam. Perkataan Arul membuatku berpikir. Rindukah aku pada keluargaku? Apakah aku bisa kembali hidup normal setelah keluar dari sini?

Tidak jauh dari aku yang kembali duduk melamun, seorang petugas yang aku kenal dan sering kupanggil Ayah Rizki menghampiriku. Memang sebelumnya, aku pernah bercerita pada Ayah Rizki. Dia seakan mengetahui apa yang sedang kupikirkan, dan berkata.

“Orang yang memiliki harapan kehidupan, walau sekecil apapun, kemudian dia menyiram harapan itu dengan prasangka baik terhadap Tuhan, dia tidak akan kehilangan arah dan tujuan hidup.”

Aku tidak mengerti, tapi aku memilih untuk mencatat nasehat itu. Dan izin pamit kepada Ayah untuk masuk ke kamar.

Hari itu mendung, namun perayaan 17 Agustus tetap dilaksanakan di aula kunjungan. Dan ada hal yang tak terduga saat aku memasuki ruang kunjungan. Rupanya keluarga diberikan undangan untuk mengikuti acara 17 Agustus. Disana diantara kerumunan para pengunjung, ada Abah, Ibu dan Saudara-Saudaraku.

Aku menghampiri mereka. Lama kami tidak bertemu, terutama karena jarak LP dengan rumahku yang harus memakan waktu sekitar 6 jam perjalanan. Beberapa detik terasa canggung. Namun kecanggungan itu dipecahkan oleh Adikku, Alif dan Jali yang mencium menyalami tanganku. Aku pun tergerak, ikut menyalami Abah, Ibu dan Kakak-Kakakku.

“Nak, berhentilah untuk menyalahkan dirimu dan keadaan.” Mamaku mengucapkan dengan menangis.

“Aku tidak mengerti Ibu. Aku sendiri tidak tahu apa yang kurasakan. Aku tidak tahu harus bagaimana,” kataku pada Ibu.

Ibu kemudian menyerahkan sebuah surat. “Ini ada surat untukmu, Nak.”

Aku membuka surat itu dan membacanya.

“Surat ini kami tulis untuk Ananda Rahman. Kami telah kehilangan anak kami, dan kami berharap, tidak ada anak lainnya yang kehilangan kehidupannya karena kejadian ini. Kami dengar kamu sebelumnya sekolah di Pesantren, tetaplah lanjutkan perjuanganmu menuntut ilmu apabila sudah bebas nanti. Kami memaafkan segala yang telah terjadi.”

Aku menangis. Tangisan pertamaku dari segala kehampaan yang kujalani dan tidak kumengerti. Harapan itu mulai tumbuh. Ruang kosong mengganjal yang tidak kumengerti itu mulai berisikan harapan-harapan.

“Abah, Ibu, Aku dimaafkan. Aku masih bisa bertahan, aku harus bisa masuk pesantren lagi. Aku harus bertobat pada Allah.” Suaraku bergetar di antara tangis.

Dan diantara semua itu, terdengar suara petugas yang mengumumkan.

“Muhammad Rahman, mendapat remisi sebanyak 3 bulan.”

Ibu memelukku. Dan petugas nampak mengakhiri pengumuman yang di bacakan.

“Selamat Kemerdekaan 17 Agustus, semoga anak-anakku disini tetap semangat dan tidak kehilangan harapan.

 

 

Penulis: Muhammad Arsyad Al Banjari (LPKA Martapura)

Juara II Lomba Cerpen Piala Menteri Hukum dan HAM RI dalam rangka HUT Ke-75 RI (Kategori Anak)

 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0