Bina Mental dan Spiritual, Warga Binaan Lapas Wahai Ikuti Ibadah Minggu
Wahai, INFO_PAS – Penguatan mental dan spiritual jadi bagian penting dalam pembinaan Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai. Salah satu bentuknya ialah ibadah Minggu rutin yang diikuti Warga Binaan dan Petugas beragama Kristen di Gereja Ebenhaizer Lapas, Minggu (18/10).
Ibadah Minggu jadi sarana pembinaan kepribadian yang berkelanjutan. Kepala Subseksi Pembinaan, La Joi, menjelaskan bahwa ibadah membantu Warga Binaan memperkuat iman sekaligus menjadi ruang refleksi atas perjalanan hidup mereka.
“Melalui pembinaan kerohanian, Warga Binaan diharapkan mampu mengambil pelajaran dari firman Tuhan, menumbuhkan sikap saling menghargai, serta membangun tekad untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Proses pembinaan ini membutuhkan kesungguhan dan kemauan dari setiap individu untuk terus memperbaiki diri,” kata La Joi.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, tekankan bahwa pembinaan kerohanian berperan penting dalam membangun kesadaran diri dan membentuk karakter Warga Binaan selama menjalani masa pidana.
“Pembinaan di Lapas tidak hanya berkaitan dengan kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga bagaimana Warga Binaan dapat membangun karakter, memperbaiki perilaku, dan memiliki harapan untuk masa depan. Kami berharap nilai-nilai yang diperoleh melalui ibadah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Tersih.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Dwi Ricky Biantoro, turut tekankan pentingnya pembinaan kepribadian sebagai bagian dari sistem Pemasyarakatan yang berorientasi pada perubahan perilaku dan kesiapan Warga Binaan untuk kembali ke tengah masyarakat.
“Pembinaan kerohanian merupakan salah satu sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral, membangun kesadaran diri, dan menumbuhkan harapan bagi Warga Binaan. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter sehingga Warga Binaan memiliki bekal yang baik ketika kembali ke keluarga dan masyarakat,” ungkap Ricky.
Ibadah dipimpin oleh Diaken Ny. A. Matulessy dari Majelis Jemaat Bethsan Wahai dengan menyampaikan firman yang diambil dari Kitab Yesaya 40:27–31. Dalam renungannya, Matulessy mengingatkan bahwa kuasa Tuhan melampaui segala keterbatasan manusia dan Dia senantiasa memberikan kekuatan kepada mereka yang berharap kepada-Nya.
"Sebagaimana tertulis dalam bacaan firman, Tuhan memberikan kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada mereka yang tidak berdaya," jelasnya.
Melalui pesan firman tersebut, Warga Binaan diajak untuk tidak berkecil hati atau kehilangan harapan. Keterbatasan selama menjalani masa pidana bukan alasan untuk berhenti berharap pada pertolongan Tuhan, memperbaiki diri, dan menata masa depan yang lebih baik. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Wahai
What's Your Reaction?


