Kanwil Ditjenpas Sulteng Kobarkan Jiwa Kewirausahaan, Wujudkan Narapidana Jadi Wirausaha
Palu, INFO_PAS — Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sulawesi Tengah terus teguhkan komitmennya dalam membangun kemandirian ekonomi Warga Binaan. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan dan Pendampingan Kewirausahaan Berbasis Ekonomi Kerakyatan yang menanamkan semangat “Dari Narapidana Menjadi Wirausaha” kepada seluruh jajarannya.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palu mulai Rabu (12/11) ini diikuti 24 Pembimbing Kemasyarakatan (PK), tiga Asisten PK (APK), dan 10 petugas Pemasyarakatan di lingkungan Kanwil Ditjenpas Sulawesi Tenggara. Hadir pula secara virtual perwakilan Balai Pemasyarakatan dari Manado, Polewali, Gorontalo, dan Banjarmasin.
Kepala Kanwil Ditjenpas Sulawesi Tenggara, Bagus Kurniawan, menyampaikan pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam mengubah pola pembinaan Pemasyarakatan yang tidak hanya menekankan perubahan perilaku, tetapi juga pemberdayaan ekonomi melalui pengembangan keterampilan dan jiwa kewirausahaan. “Kami ingin petugas Pemasyarakatan tidak hanya menjadi pembina, tetapi juga penggerak ekonomi kerakyatan. Warga Binaan harus memiliki keterampilan dan semangat wirausaha saat kembali ke masyarakat,” ucapnya.
Bagus menjelaskan pelatihan ini selaras dengan Asta Cita Presiden RI serta 3 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan yang menekankan pentingnya reintegrasi sosial berbasis ekonomi produktif. "Para petugas diharapkan mampu membangun jejaring dengan dunia usaha, BUMN, dan lembaga mitra sehingga menghadirkan program pembinaan yang berorientasi pada kemandirian ekonomi Warga Binaan," pintanya.
Sementara itu, Direktur Pembimbingan Kemasyarakatan, Ceno Hersusetiokartiko, yang membuka kegiatan secara resmi menyampaikan pelatihan ini adalah komitmen Ditjenpas dalam memperkuat peran PK, APK, dan petugas Pemasyarakatan sebagai pelatih, pembimbing sekaligus pemberdayaan Warga Binaan. “Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya membekali petugas dengan pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan, tetapi juga menanamkan semangat kemandirian, produktivitas, dan tanggung jawab sosial kepada para Klien yang sedang berproses menuju reintegrasi sosial,” terangnya.
Menurut Ceno, pendekatan ekonomi kerakyatan merupakan strategi penting untuk menekan angka residivisme dan menciptakan peluang hidup yang lebih baik bagi Warga Binaan yang telah menyelesaikan masa pidana dengan membangun keterampilan dan jaringan usaha berbasis potensi lokal. “Kemandirian ekonomi akan mengembalikan martabat dan rasa percaya diri Warga Binaan. Kewirausahaan adalah jembatan menuju kehidupan baru yang lebih baik,” tambahnya.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari dunia perbankan. Direktur Utama Bank Sulteng, Hj. Ramiyatie, menyerahkan dana CSR sebesar Rp75 juta sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan kewirausahaan di lingkungan Pemasyarakatan. Selain itu, Bank Sulteng juga memberikan buku tabungan Simpeda kepada perwakilan Warga Binaan sebagai rekening penerimaan hasil kerja mereka yang menjadi langkah konkret menuju transparansi dan kemandirian finansial.
“Kami siap mendukung penuh program ‘Dari Narapidana menjadi Wirausaha‘ yang berdampak langsung pada kemandirian ekonomi Warga Binaan. Ini langkah nyata membangun ekosistem inklusif antara dunia perbankan dan Pemasyarakatan,” tegas Ramiyatie.
Kegiatan ini membekali peserta dengan berbagai materi kewirausahaan berbasis ekonomi rakyat yang aplikatif dan berkelanjutan. Ke depannya, Kanwil Ditjenpas Sulawesi Tenggara berharap gerakan ini menjadi tonggak baru dalam mencetak wirausahawan mandiri dari balik tembok Pemasyarakatan. (IR)
Kontributor: Kanwil Ditjenpas Sulteng
What's Your Reaction?


