Lapas Perempuan Martapura dan Pengrajin Eksternal Tingkatkan Pembinaan Kemandirian Warga Binaan melalui Jelujur Sasirangan
Martapura, INFO_PAS - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Martapura jalin kerja sama dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau pengrajin sasirangan eksternal untuk menyerap Warga Binaan sebagai pekerja penjelujur kain sasirangan. Selain memproduksi kain sasirangan secara mandiri, Lapas Perempuan Martapura juga menerima bahan baku kain sasirangan dari mitra kerja sama untuk dikerjakan penjelujuran.
Memanfaatkan peluang tersebut, Kepala Lapas Perempuan Martapura, Evi Loliancy, mendorong intensitas kegiatan pembinaan di Lapas dengan menjalin kerja sama dengan beberapa pengrajin sasirangan. Kerja sama ini menjadikan Lapas Perempuan Martapura sebagai mitra penjahit/penjelujur sehingga mampu menyerap lebih banyak Warga Binaan sebagai pekerja dan meningkatkan kualitas maupun kuantitas pembinaan kemandirian di Lapas.
Beberapa pengrajin sasirangan yang telah menjalin kerja sama secara intens mengirimkan bahan baku berupa kain untuk dijelujur adalah Melati Sekumpul, Shela Sasirangan, dan Najwa Sasirangan. “Kami siap bekerja sama dengan pengrajin eksternal Lapas dan akan terus menambah jumlah pekerja penjelujur apabila permintaan dan jumlah bahan baku yang datang terus bertambah. Kegiatan ini juga bermanfaat bagi Warga Binaan karena mereka mendapatkan premi atau upah,” ungkap Evi, Sabtu (22/11).
Sementara itu, Rose Mery Kusuma Dewi selaku Kepala Seksi Kegiatan Kerja menjelaskan Warga Binaan juga mendapatkan premi sebagai pembayaran dari pengrajin. Kegiatan penjelujuran sasirangan ini juga turut menyumbangkan penghasilan kepada negara berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak.
“Premi kami berikan kepada Warga Binaan, baik berupa tabungan maupun pembayaran melalui E-Money dan Briva,” terang Rose.
YF, salah satu Warga Binaan pekerja penjelujur, sangat terbantu dengan adanya kerja sama Lapas dengan pengrajin eksternal. Dengan mengikuti pembinaan kemandirian sebagai penjelujur, ia tidak lagi hanya berada di blok hunian, tidak merasa bosan menjalani masa pidana, bahkan mendapatkan premi atau upah dari hasil pekerjaan penjelujuran yang ia kerjakan.
“Awalnya saya merasa sangat jenuh dan berat menjalani hari-hari di Lapas. Setelah saya mengikuti pembinaan kemandirian dan bekerja menjelujur ini, saya merasa lebih ringan hati menjalani hari-hari saya di sini. Apalagi saya juga mendapatkan upah. Jadi, saya bisa punya penghasilan sendiri meskipun berada di Lapas,” tutur YF. (IR)
Kontributor: LPP Martapura
What's Your Reaction?


