Lapas Wahai Luncurkan Program 'Tuntas Baca Alkitab Setahun' dan Inovasi SAPA-BINA
Wahai, INFO_PAS – Upaya memperkuat pembinaan kepribadian berbasis spiritual dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai dengan meluncurkan program "Tuntas Baca Alkitab Setahun" bagi Warga Binaan Kristen. Program ini menjadi salah satu inovasi pembinaan kerohanian yang bertujuan menumbuhkan iman, karakter, dan semangat perubahan diri melalui pembacaan Firman Tuhan secara teratur selama satu tahun.
Melalui program ini, setiap Warga Binaan Kristiani menerima panduan beserta jadwal pembacaan Alkitab yang telah disusun secara sistematis sehingga seluruh isi Alkitab diselesaikan dalam kurun waktu 365 hari. Pelaksanaan program akan didampingi petugas pembinaan dan didukung dalam kegiatan ibadah rutin di Lapas.
Bertempat di Gereja Ebenhaezer, Sabtu (18/7), Kepala Lapas (Kalapas) Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan pembinaan spiritual merupakan bagian penting dari proses Pemasyarakatan dalam membentuk pribadi yang lebih baik. "Pemasyarakatan tidak hanya membekali Warga Binaan dengan keterampilan, tetapi juga membangun karakter dan kehidupan rohani. Melalui program 'Tuntas Baca Alkitab Setahun' ini, kami berharap Warga Binaan makin bertumbuh dalam iman, memiliki pengharapan baru, dan termotivasi untuk menjalani kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat," harapnya.
Sementara itu, staf subseksi pembinaan, Frans Tepal, menjelaskan panduan pembacaan disusun dengan porsi harian yang mudah diikuti sehingga membangun kebiasaan membaca Alkitab secara konsisten. "Kami ingin membiasakan Warga Binaan membaca Firman Tuhan setiap hari. Dengan jadwal yang teratur, mereka dapat lebih disiplin, memahami isi Alkitab secara menyeluruh, serta menjadikan nilai-nilai kasih, pengampunan, dan pengharapan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan," jelasnya.
Program tersebut mendapat sambutan positif dari salah satu Warga Binaan lanjut usia, YS, karena memberikan motivasi baru dalam menjalani masa pembinaan. "Jadwal ini akan membuat saya lebih disiplin dan mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat, yakni literasi Alkitab. Saya berharap ketika bebas nanti, saya menjadi pribadi yang lebih baik," tuturnya.
Melalui program "Tuntas Baca Alkitab Setahun", Lapas Wahai menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pembinaan yang menyeluruh, tidak hanya melalui pengembangan keterampilan, tetapi juga penguatan mental kerohanian. Diharapkan program ini membentuk Warga Binaan yang memiliki karakter spiritualitas, dan nilai-nilai moral yang kuat sebagai bekal untuk kembali menjadi pribadi yang bermanfaat di tengah keluarga dan masyarakat.

Pada hari yang sama, Lapas Wahai juga luncurkan inovasi Sinergi Aksi Pelayanan Aktif bagi Warga Binaan (SAPA-BINA) dalam bentuk aplikasi untuk menjamin pemenuhan hak kesehatan Warga Binaan. Program SAPA-BINA mengusung konsep jemput bola di mana petugas medis tidak hanya menunggu di klinik, tetapi turun langsung menyambangi blok-blok hunian Warga Binaan.
Inovasi ini dijalankan bersinergi dengan Puskesmas Perawatan Wahai. Untuk memastikan hasil diagnosis dan evaluasi berjalan dengan baik, Lapas Wahai memadukan layanan ini dengan sistem digital. Data pasien, aktivitas harian, kualitas tidur, pola makan, riwayat penyakit, hingga keluhan yang dirasakan, diolah melalui instrumen digital. Hal ini membuat proses analisis kesehatan Warga Binaan menjadi jauh lebih cepat, akurat, dan transparan.
Kalapas mengatakan aplikasi ini bermanfaat dalam memberikan informasi kesehatan terkait kebutuhan kalori harian, kebutuhan air putih, serta analisis jam tidur sehingga menghasilkan rekam medis berupa status pola hidup dan saran kesehatan bagi Warga Binaan. "Dengan sistem digital ini, data yang masuk lebih cepat diolah dan akurat. Ini membantu kami menganalisa tingkat kesehatan Warga Binaan secara menyeluruh. Kami juga bisa langsung menghimpun database untuk membuat grafik tren analisis kesehatan Warga Binaan secara berkala dari layanan ini," ungkap Tersih.
Perawat Lapas Wahai, Fajar Pradhana, menyatakan aplikasi ini sangat mempermudah tugasnya dalam memantau kondisi kesehatan harian para Warga Binaan secara real-time. "Sebelumnya kami harus merekap data medis secara manual satu per satu yang memakan banyak waktu. Dengan aplikasi SAPA-BINA, begitu data tanda-tanda vital dan keluhan diinput saat jemput bola ke blok, sistem langsung mengeluarkan analisis status kesehatan mereka. Ini akan membuat penanganan medis menjadi jauh lebih responsif," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, memberikan apresiasi atas peluncuran aplikasi SAPA-BINA. Menurutnya, inovasi ini merupakan langkah maju yang sangat krusial dalam digitalisasi pelayanan publik di lingkungan Pemasyarakatan.
"Transformasi digital dalam layanan kesehatan proaktif seperti ini tidak hanya meningkatkan efisiensi dan akurasi rekam medis, tetapi juga menjadi bukti nyata pelayanan humanis bagi Warga Binaan," ujar Ricky seraya berharap inovasi SAPA-BINA di Lapas Wahai menjadi percontohan yang direplikasi jajaran Pemasyarakatan lainnya di wilayah Maluku.
Kehadiran aplikasi SAPA-BINA membuktikan Lapas Wahai terus bergerak maju menghadirkan pelayanan prima, inklusif, dan adaptif. Lebih dari sekadar inovasi digital, layanan proaktif ini menjadi bukti nyata pemenuhan Hak Asasi Manusia dan pendekatan humanis tetap menjadi prioritas utama di balik jeruji demi mewujudkan Sistem Pemasyarakatan yang memanusiakan manusia. (IR)
Kontributor: Lapas Wahai
What's Your Reaction?


