Petakan Potensi Warga Binaan, Lapas Wahai Gelar Asesmen Program Rehabilitasi
Wahai, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai gelar asesmen Warga Binaan sebagai calon peserta Program Pusat Rehabilitasi dan Re-edukasi berbasis ketahanan pangan, Rabu (7/10). Kegiatan yang berlangsung di aula Lapas Wahai ini bagian dari dukungan terhadap program Direktorat Jenderal Pemasyarakatan memperkuat pembinaan dan pemberdayaan Warga Binaan.
Asesmen dilakukan untuk melihat kesiapan Warga Binaan melalui penilaian kesehatan, risiko dan stabilitas, minat dan bakat, motivasi, sikap kerja, serta kapasitas kerja. Proses dilakukan secara terukur, mulai dari screening administratif hingga penilaian potensi dan kesiapan Warga Binaan mengikuti program.
Hasil asesmen nantinya dikategorikan menjadi Layak, Layak Bersyarat, Ditunda, atau Tidak Layak sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Aspek minat dan bakat turut jadi perhatian, khususnya potensi Warga Binaan di bidang pertanian dan perkebunan, perikanan dan kelautan, serta bidang re-edukasi lainnya.
Kepala Subseksi Pembinaan, La Joi, menyampaikan bahwa asesmen jadi tahapan penting agar program pembinaan dapat diberikan secara tepat sasaran.
“Kami memandang asesmen ini bukan sekadar proses administrasi, tetapi sebagai upaya untuk mengenali potensi, minat, kesiapan dan kemampuan Warga Binaan. Dengan pemetaan yang baik, pembinaan yang diberikan nantinya dapat lebih sesuai dengan kemampuan masing-masing Warga Binaan, khususnya dalam kegiatan produktif yang mendukung ketahanan pangan,” ujar La Joi.
Sementara itu, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa Lapas Wahai mendukung pelaksanaan program tersebut sebagai bagian dari penguatan fungsi pembinaan dan pemberdayaan Warga Binaan.
“Lapas Wahai siap mendukung kebijakan nasional Program Pusat Rehabilitasi dan Re-edukasi. Bagi kami, pembinaan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan selama Warga Binaan berada di dalam Lapas, tetapi juga bagaimana mereka dipersiapkan agar memiliki kemampuan, keterampilan dan mental yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat,” ungkap Tersih.
Ia menambahkan bahwa kegiatan berbasis ketahanan pangan memiliki nilai strategis karena dapat menggabungkan aspek pembinaan, keterampilan kerja, dan produktivitas.
“Kami ingin setiap proses pembinaan memberikan manfaat nyata. Melalui program yang berbasis ketahanan pangan, Warga Binaan dapat diarahkan untuk belajar bekerja, bertanggung jawab, membangun disiplin dan mengembangkan keterampilan yang dapat menjadi bekal kehidupan setelah selesai menjalani pidana,” jelasnya.
Tersih juga tekankan bahwa hasil asesmen tidak serta-merta menjadi keputusan akhir. Sesuai petunjuk pelaksanaan, instrumen asesmen berfungsi sebagai alat bantu pengambilan keputusan, sedangkan keputusan akhir mengenai peserta tetap melalui Sidang TPP dengan pertimbangan dan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui asesmen tersebut, Lapas Wahai siapkan dasar pemetaan Warga Binaan agar pembinaan yang diberikan sesuai dengan potensi, kesiapan, dan kebutuhan masing-masing sebagai bagian dari proses reintegrasi sosial. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Wahai
What's Your Reaction?


