BIRO KEPENJARAAN FILIPINA KAGUMI SISTEM DATABASE PEMASYARAKATAN

Jakarta, INFO_PAS - "Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) yang dimiliki oleh Kepenjaraan Indonesia sangat baik, andai sistem seperti ini dapat diterapkan di Filipina maka akan sangat berguna," kata Nicard S.C, Kepala Bagian Data dan Informasi Bureau of Jail Management an Penology (BJMP) Filipina saat berkunjung ke Lapas Narkotika Cipinang dan Lapas Salemba Jakarta, Kamis (14/8).

3 orang utusan termasuk Nicard S.C dari Biro Kepenjaraan Fil

Jakarta, INFO_PAS - "Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) yang dimiliki oleh Kepenjaraan Indonesia sangat baik, andai sistem seperti ini dapat diterapkan di Filipina maka akan sangat berguna," kata Nicard S.C, Kepala Bagian Data dan Informasi Bureau of Jail Management an Penology (BJMP) Filipina saat berkunjung ke Lapas Narkotika Cipinang dan Lapas Salemba Jakarta, Kamis (14/8).

3 orang utusan termasuk Nicard S.C dari Biro Kepenjaraan Filipina diutus untuk bertukar Informasi sekaligus Studi banding tentang manajemen sistem database lapas di Indonesia. Didampingi Kasubdit Data dan Informasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Viktor Teguh, utusan dari BJMP Filipina meninjau Lapas Narkotika dan Lapas Salemba  yang ditunjuk sebagai tempat studi banding oleh Ditjenpas.

Rasa antusias dan kagum terucap dari ketiga utusan tersebut sepanjang kunjungan. "Di Filipina kita melakukan update data penghuni setiap satu bulan sekali, penerapan SDP yang terkoneksi dan update setiap hari ini luar biasa," kata seorang utusan BJMP disela-sela kunjungan tersebut.

Filipina mempunyai masalah yang serupa dengan Indonesia yaitu over kapasitas, jumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang dimiliki juga hampir sama dengan Indonesia, sekitar 450 UPT yang menjalankan fungsi lapas. Perbedaannya, UPT di Filipina memiliki kapasitas yang relatif lebih kecil dari lapas di Indonesia. Sehingga dengan jumlah penghuni 73.000 orang saja, lapas Filipina sudah penuh sesak. Bayangkan ada lapas yg berkapasitas hanya 50 orang yang diisi hingga ratuasan orang, hingga kondisi yang terjadi saat ini untuk tidur saja penghuni harus  bergantian di lapangan olahraga.

Tidak sampai disitu, rombongan utusan dari BJMP Filipina berkesempatan melihat cara kerja "Self Service" yang lagi-lagi menarik perhatian mereka. “Self service sendiri saat ini memang hanya dimiliki oleh Indonesia untuk kawasan Asia,”  kata Viktor menjelaskan.  “Dengan self service yang dimiliki lapas di Indonesia, tahanan atau narapidana cukup menempelkan jari untuk mengetahui status pidana mereka. Info tentang masa penahanan, remisi, pembebasan bersyarat dan lainnya akan ditampilkan seluruhnya di layar monitor,”  tambah Viktor.

Rombongan dari  Biro Kepenjaraan Filipina juga sempat meninjau Bengkel Kerja Narapidana yang ada di dalam Lapas. Banyak kegiatan kerja narapidana yang dikunjungi diantaranya, Pabrik Roti Lapas Narkotika, Pembuatan Meubel, kerajinan, pelatihan komputer untuk Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan yang terbaru pembuatan kursi dari pemanfaatan drum bekas.

“Di Filipina kami juga mempunyai kegiatan dan bengkel kerja di dalam lapas, tetapi kegiatan yang diperuntukan untuk narapidana itu tidak terlalu besar dan hasilnya hanya digunakan untuk lapas dan narapidana sendiri. Berbeda dengan di Indonesia yang jauh lebih besar dan hasilnya telah dipasarkan di luar lapas,” kata Nicard.  "Semoga dengan studi banding yang kami lakukan ini kami dapat belajar dari apa yang telah dilakukan oleh Pemasyarakatan Indonesia dan berharap nantinya dari pihak Ditjenpas mau mensosialisasikan tentang SDP di biro kepenjaraan dan lapas di Filipina," pungkasnya. ***(AP)

Penulis : Handa Hakiki

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0