Cerita Narapidana yang Memilih Taubat di Lapas Pemuda Kelas II A Tangerang

Masuk Bui Akibat Membunuh, Ajari Salat dan Baca Quran Sesama Warga Binaan Cerita Narapidana yang Memilih Taubat di Lapas Pemuda Kelas II Tangerang        Lembaga Pemasyarakatan adalah tempat yang diharap mampu merubah tingkah laku para warga binaan. Beragam kasus kriminal yang membuat para warga binaan masuk ke dalam Lapas diharapkan tidak lagi terulang. Itulah mungkin hikmah yang didapat Sadikin,25, yang menjalani masa hukuman selama delapan tahun akibat kejahatan penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Saat ini, Sadikin merupakan salah satu guru mengaji dan baca Al quran, untuk 100 santri yang juga warga binaan yang ada di Lapas tersebut. Seperti apa? Perawakan tambun dan sorot mata tajam merupakan satu dari sekian tampilan pemuda ini. Beberapa tahun lalu, dirinya harus menerima hukuman kurungan di Lapas Pemuda Klas II Tangerang akibat penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Pria ini harus menjalani masa

Cerita Narapidana yang Memilih Taubat di Lapas Pemuda Kelas II A Tangerang
Masuk Bui Akibat Membunuh, Ajari Salat dan Baca Quran Sesama Warga Binaan Cerita Narapidana yang Memilih Taubat di Lapas Pemuda Kelas II Tangerang        Lembaga Pemasyarakatan adalah tempat yang diharap mampu merubah tingkah laku para warga binaan. Beragam kasus kriminal yang membuat para warga binaan masuk ke dalam Lapas diharapkan tidak lagi terulang. Itulah mungkin hikmah yang didapat Sadikin,25, yang menjalani masa hukuman selama delapan tahun akibat kejahatan penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Saat ini, Sadikin merupakan salah satu guru mengaji dan baca Al quran, untuk 100 santri yang juga warga binaan yang ada di Lapas tersebut. Seperti apa? Perawakan tambun dan sorot mata tajam merupakan satu dari sekian tampilan pemuda ini. Beberapa tahun lalu, dirinya harus menerima hukuman kurungan di Lapas Pemuda Klas II Tangerang akibat penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Pria ini harus menjalani masa hukuman delapan tahun karena dinyatakan bersalah dan dikenai Pasal 338 KUHP. Seiring perjalanan waktu, sembari menjalani masa hukuman di dalam Lapas, dirinya mencoba untuk sadar dan terus membenahi mental serta prilaku. Alhasil, pria yang juga hobi bermain sepak bola dan futsal ini mampu menjadi pengajar warga binaan lainnya daari sisi keagamaan. Dirinya memberikan pembelajaran mengaji dan menghafal Alquran. Sadikin mengaku, awal menjadi warga binaan ke dalam lapas dirinya sempat gamang dan frustasi. Bagaimana tidak, ada kekecawaan yang mendalam dalam hatinya karena tidak bisa menjadi panutan dalam keluarga dan jadi kebanggaan orang tua. Apalagi saat masuk ke dalam Lapas, usianya baru sekitar 21 tahunan. Bahkan, Idul Fitri pertama saat dirinya baru mendekam dipenjara, orang tua dan keluarga tidak menjenguk. Penyesalan dan kegelisahan dan rasa berdosa terus menghantui dirinya hampir setiap malam. Beruntung baginya, dengan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dengan mempelajari Al Quran dan mengaji, frustasi dan tekanan batin yang menderanya perlahan bisa hilang. Bahkan, dirinya berjuang untuk mampu mengajarkan mengaji dan pemahaman akan Al Quran kepada sesama warga binaan. “Alhamdullillah, semua saya pelajari saat berada di dalam Lapas ini. Mulai dari mengaji dan baca Al quran. Setiap hari habis makan siang saya membaca Al Quran. Ada beberapa senior yang mau mengajarkan,” katanya saat berbincang dengan indopos.co.id beberapa waktu lalu. Menjadi guru mengaji untuk para warga binaan di dalam Lapas sudah mulai dilakoninya sejak pertengahan tahun 2012 lalu. Saat ini, warga binaan yang saling belajar dengannya sudah mencapai 100 orang. Kegiatan mengaji yang dilakoni di dalam Lapas dilakukan hampir setiap hari, mulai pagi hingga petang. Hanya hari Jumat dan Minggu waktu libur dalam kegiatan mengaji. Kegiatan mengaji tersebut dilakukan di aula hingga dalam blok yang dikenal dengan istilah Blok Santri. Akibat perubahan dan pantauan langsung dari para petugas Lapas Klas II Tangerang, pria ini akhirnya mendapat perhatian. Remisi, potongan masa tahanan dan juga PB didapatnya. Alhasil tujuh bulan kedepan dirinya sudah dapat menghirup udara bebas. Delapan tahun masa hukuman yang disematkan kepadanya, tinggal tersisa 4,5 tahun dan kesemuanya sudah hampir dijalani. Selepas bebas ke masyarakat umum nanti, pria ini mengaku berharap dapat mendirikan pesantren. Baginya, mengabdikan diri di keagamaaan sudah menjadi cita-citanya, Mengabdikan diri ke agama dengan mengajarkan mengaji dan memahami Al Quran didalam Lapas membuatnya sadar bahwa agama memberikan ketenangan jiwa bagi dirinya. “Nanti kalau sudah keluar dari sini saya berharap dapat memiliki pesantren. Saya sangat ingin mengabdikan diri saya dalam kegiatan keagamaan untuk mengajarkan sesama,” ujarnya. Dalam kesempatan bercengkrama, indopos.co.id pun diberikan kesempatan untuk mengabadikan foto pertemuan tersebut. Dirinya mengaku tidak malu atau merasa kecil hati apabila dipublikasikan. Terpenting baginya, apa yang jadi hasil dari wawancara ini dapat memberikan dan bahkan mengingatkan kepada setiap orang, agar jangan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain dan diri sendiri. “Silahkan di foto kalau memang diperlukan. Banyak yang bilang takut kalau dipublikasikan karena berstatus warga binaan. Kalau saya tidak takut atau malu. Terpenting bermanfaat buat semua,” ujar pria yang namanya juga masuk dalam skuad tim sepakbola dan futsal Lapas Pemuda Klas II Tangerang ini.(*) Urban City | Uploader Tusi Pratama KING HENDRO ARIFIN, KOTA TANGERANG Sumber : indopos.co.id

What's Your Reaction?

like
1
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0