Dukung Festival Pinisi XVI, Lapas Bulukumba Usung Identitas Budaya Kajang Ammatoa

Dukung Festival Pinisi XVI, Lapas Bulukumba Usung Identitas Budaya Kajang Ammatoa

Bulukumba, INFO_PAS – Jajaran Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bulukumba kenakan pakaian serba hitam selama dua hari, Jumat–Sabtu (16–17/10), sebagai bentuk partisipasi dalam memeriahkan Festival Pinisi XVI Tahun 2026 di Kabupaten Bulukumba. Penggunaan pakaian serba hitam tersebut bentuk apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal, khususnya identitas masyarakat adat Kajang Ammatoa yang dikenal dengan pakaian tradisional berwarna hitam atau Baju Le’leng.

Festival Pinisi XVI Tahun 2026 mengusung tema “Pengembangan Budaya untuk Peningkatan Ekonomi Pariwisata”. Perhelatan ini jadi momentum untuk melestarikan budaya sekaligus mendorong potensi pariwisata dan ekonomi daerah.

Bagi masyarakat adat Kajang Ammatoa, warna hitam bukan sekadar pilihan busana, melainkan simbol identitas budaya yang sarat nilai kesederhanaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap ajaran leluhur. Nilai-nilai tersebut jadi bagian penting dari warisan budaya yang terus dijaga di Kabupaten Bulukumba.

Meski tidak mengenakan pakaian adat lengkap masyarakat Kajang Ammatoa, jajaran Lapas Bulukumba memilih pakaian berwarna hitam sebagai bentuk partisipasi dalam festival sekaligus penghormatan terhadap kearifan lokal.

Kepala Lapas Bulukumba, Mansur, menyampaikan bahwa partisipasi tersebut merupakan wujud kebersamaan dalam menjaga dan memperkenalkan kekayaan budaya Bulukumba.

“Melalui penggunaan pakaian serba hitam ini, kami ingin turut menyemarakkan Festival Pinisi sekaligus menunjukkan kebanggaan terhadap budaya lokal Bulukumba. Kami berharap momentum ini dapat memperkuat kesadaran bersama untuk menjaga warisan budaya dan mendukung kemajuan pariwisata daerah,” ujar Mansur.

Semangat pelestarian budaya juga dirasakan Bahtiar, Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik Lapas Bulukumba, yang berasal dari Luwuk, Sulawesi Tengah. Baginya, keterlibatan dalam perayaan budaya di daerah tempat bertugas menjadi kesempatan untuk mengenal, menghargai, dan ikut menjaga tradisi setempat.

“Meskipun saya bukan asli Bulukumba, saya merasa bangga bisa ikut menjadi bagian dari semarak Festival Pinisi. Bagi saya, budaya daerah bukan hanya milik masyarakat setempat, tetapi juga kekayaan Indonesia yang harus kita hormati dan lestarikan bersama. Melalui hal sederhana seperti mengenakan pakaian serba hitam, kita bisa menunjukkan rasa hormat dan dukungan terhadap identitas budaya masyarakat Kajang Ammatoa,” ungkap Bahtiar.

Ia berharap semangat kebersamaan dalam Festival Pinisi dapat mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.

Partisipasi jajaran Lapas Bulukumba jadi bentuk dukungan terhadap Festival Pinisi XVI dalam merawat identitas budaya, mempererat kebersamaan, dan mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan. (afn)

 

Kontributor: Humas Lapas Bulukumba

 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0