Ekonomi Sirkular Berbasis Swasembada, Lapas Luwuk Sulap Limbah Dapur Jadi Pakan Ikan dan Pupuk Organik
Luwuk, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk terus kembangkan pembinaan kemandirian Warga Binaan melalui budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Program ini menerapkan konsep ekonomi sirkular berbasis swasembada dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di Lapas, mulai dari sisa organik dapur hingga pemanfaatan hasil budidaya untuk mendukung sektor perikanan dan pertanian.
Seluruh proses budidaya dilaksanakan langsung oleh Warga Binaan dengan pengawasan, pendampingan, dan bimbingan petugas subseksi kegiatan kerja. Prosesnya dimulai dari penetasan telur BSF, pemeliharaan larva, hingga pemberian pakan berupa sisa-sisa bahan organik dari dapur Lapas. Warga Binaan juga menangani perawatan media, pemantauan pertumbuhan larva, pengayakan, dan pemanenan.
Petugas pendamping, Muhammad Nur Jumadil, menjelaskan pendampingan secara intensif terus dilakukan untuk memastikan Warga Binaan menguasai setiap tahapan teknik budidaya dengan benar. "Kami mendampingi Warga Binaan mulai dari pemilahan limbah dapur, menjaga kelembapan media, hingga proses pemanenan dan pengolahan kasgot. Selain mengarahkan teknis budidaya, kami juga menanamkan kedisiplinan dan ketelitian agar siklus produksi maggot berjalan konsisten dan berkelanjutan," tuturnya, Jumat (16/10).
Maggot yang telah dipanen kemudian diolah menjadi dua jenis produk, yaitu maggot segar (fresh maggot) dan maggot kering (dried maggot). Keduanya dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ikan yang dibudidayakan di Lapas. Sementara itu, sisa media budidaya berupa kasgot dikumpulkan dan difermentasi untuk dijadikan pupuk organik bagi lahan pertanian Lapas Luwuk.
Siklus ini menciptakan keterkaitan antara pengelolaan limbah, budidaya maggot, perikanan, dan pertanian. Sisa makanan dapur dimanfaatkan sebagai pakan larva, hasil panen maggot digunakan untuk mendukung budidaya ikan, sedangkan kasgot diolah menjadi pupuk bagi tanaman. Dengan mengoptimalkan bahan dan hasil produksi yang tersedia di lingkungan Lapas, program ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pengadaan pakan ikan dan pupuk dari luar.
Salah seorang Warga Binaan berinisial M mengungkapkan kegiatan tersebut memberikan pengalaman sekaligus keterampilan baru. "Kami belajar mengelola sisa makanan menjadi pakan maggot, merawat larva, memanen hasilnya, hingga mengolah kasgot menjadi pupuk organik. Kami melihat langsung bagaimana bahan yang sebelumnya dianggap limbah dapat dimanfaatkan kembali. Kegiatan ini mengajarkan kami keterampilan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang berguna setelah kembali ke masyarakat," ungkapnya.
Terpisah, Kepala Lapas Luwuk, Muhammad Bahrun, menegaskan program tersebut merupakan bentuk pembinaan kemandirian yang menggabungkan produktivitas, kepedulian lingkungan, dan ketahanan pangan. "Melalui konsep ekonomi sirkular, kami berupaya mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di Lapas agar dimanfaatkan kembali dan saling mendukung. Sisa organik dapur menjadi bahan budidaya maggot, hasilnya digunakan sebagai pakan ikan, sedangkan kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk pertanian. Kami ingin membangun sistem pembinaan produktif, berkelanjutan, dan makin mandiri tanpa bergantung pada pengadaan bahan pendukung dari luar," ujarnya,
Penerapan ekonomi sirkular berbasis swasembada diharapkan memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun sistem produksi terpadu yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan pembinaan Pemasyarakatan. Melalui program ini, Lapas Luwuk terus mendorong pembinaan Warga Binaan yang berorientasi pada keterampilan dan kemandirian. (IR)
Kontributor: Lapas Luwuk
What's Your Reaction?


