Inna Immaniati , “Rezeki Di Lapas, Saya Nikmati”

Share:

Bandung – Ada beban tersendiri jika warga binaan  terutama wanita selepas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Ada yang dikucilkan, ada citra tersendiri dari lingkungannya dan lain lain.

Dan memang citra negatif kepada ‘lulusan’ Lapas masih melekat kuat di sebagian besar masyarakat Indonesia. Disadari atau tidak, mereka yang pernah menjalani hari-hari di hotel prodeo dicap sebagai orang tidak baik.

“Saya ingin mengembalikan citra itu, lulusan dari Lapas harus jadi orang baik dan berguna bagi lingkungannya. Saya malah sedih jika yang bersangkutan kembali lagi ke Lapas,” ujar Inna Imaniati, Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan (Kasi Binadik) Lapas Wanita Sukamiskin Bandung.

Karena itu pendekatannya kepada penghuni Lapas adalah pendekatan secara personal. Ina yakin dengan pendekatan secara personal, penghuni Lapas wanita akan terbuka dan mengenal satu sama lain. “Saya gak mau disebut sebagai petugas Lapas yang ditakuti,” ujar wanita kelahiran 2 Februari 1972 ini.

Proses pembinaan Lapas terdiri dari pembinaan kemandirian dan kepribadian. Pembinaan kepribadian banyak dikaitkan dengan rohani, mental dan kesenian. Sedangkan kemandirian kegiatan yang sifatnya pelatihan dan pengetahuan.

Karena itulah Lapas Sukamiskin Bandung sering menerima pelatihan dari pihak luar. Seperti pelatihan demo masak oleh Eugene Panji, seorang sutradara film yang juga pecinta masakan Indonesia. Usai demo masak, barulah lomba masak antar WBP dimulai. Rombongan ACMI dipimpin oleh Maman Suherman dan Santhi Serad selaku Founder ACMI Indonesia.

Beberapa hari yang lalu, Walikota Ridwan Kamil juga mengunjungi Lapas Sukamiskin dan membeli karya lukisan napi wanita.

Menurut Inna,- nama panggilannya, kegiatan ini selain bertemu dengan orang luar dan menghilangkan kejenuhan di dalam Lapas juga memperkuat percaya diri warga binaan tersebut.

“Mereka lulus dari Lapas, sudah punya kemampuan untuk berkembang,” ujar lulusan Psikologi Universitas Islam Bandung .

 

Suka Narsis

Meskipun sibuk dengan membina  401 warga binaan yang semuanya wanita dari pelbagai kategori kejahatan yang paling banyak narkoba, namun Ina masih tetap mengembangkan hobinya berfoto ria dan bergaul lewat sosial media.

Karena aktifnya berfoto ria dalam pelbagai kegiatan yang ada di Lapas wanita, nama Ina sering diganti namanya oleh warga binaan menjadi Inna Imaninarsis. ” Saya hanya ketawa saja disebut Ibu Ina Imaninarsis, nah memang begitu keadaannya,” ujarnya.

Begitu selesai acara, biasanya foto fotonya banyak diposting di pelbagi sosial media seperti face book, twitter dan lain lain.

“Saya ingin mengenalkan kegiatan Lapas kepada masyarakat. Bahwa Lapas itu terbuka kepada siapa saja dan tidak seseram yang diperkirakan masyarakat,” ujar lulusan magister Kriminalogi Universitas Indonesia.

 

Kerja di Lapas Tidak Sengaja

Sebenarnya menurut Ina , ia bekerja di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Bandung adalah tidak sengaja. Selepas lulus dari fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung, Ina mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.

Ia melamar di pelbagai perusahaan di Bandung.Pada suatu ketika, ia diajak sahabatnya untuk melamar ke Departemen Kehakiman, Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Bandung. Ina secara iseng melamar pekerjaan tersebut.

“Eh kaget juga, saya dipanggil untuk ikut test di LP,” ujarnya. Test demi test dilaluinya, dan akhirnya Ina menjadi PNS.

“Rezeki saya di Lapas, saya nikmati saja. Malahan saya dapat banyak ilmu di sini, yatu ilmu pendekatan personal. Mungkin jika ada waktu saya bisa berbagi kepada masyarakat tentang ilmu pendekatan personal,” ujarnya. Ayo siapa mau diajar sama Ibu Ina?. (Dharono/Ridwan Karim)

Sumber : sakinahpenyejukjiwa.com

Inna Immaniati , “Rezeki Di Lapas, Saya Nikmati” | INFO_PAS | 4.5

Berita Lainnya