Jerat Narkoba Pada Anak

Share:

Belum lama ini kita sebagai warga Negara dunia memperingati Hari Narkotika Internasional pada tanggal 26 Juni. Alasan tanggal tersebut menjadi hari Narkotika internasional adalah karena adanya pengungkapan kasus perdagangan opium oleh Lin Zexu (1785-1851) di Humen, Guangdong, Tiongkok. Lin adalah pejabat jujur yang hidup pada masa Kaisar Daoguang dari Dinasti Qing. Dia juga seorang filsuf, ahli kaligrafi dan penyair.

Sementara yang menetapkan hari tersebut adalah United Nations Office On Drugs and Crime (UNODC) pada 26 Juni 1988. Kantor urusan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang bermarkas di Wina, Austria.

Lin Zexu terkenal sebagai pejabat yang menentang perdagangan opium oleh bangsa-bangsa asing. Lin memandang bahwa kondisi Negara begitu kacau balau karenanya. Efek candu yang ditimbulkan oleh opium mengakibatkan menurunnya moral masyarakat dan menghabiskan konsumsi Negara. Tragis.

Indonesia

Pun demikian halnya dengan kondisi yang terjadi di Indonesia dewasa ini. Pada awal tahun 2015 Presiden Jokowi menyatakan bahwa Indonesia sudah darurat narkoba. Pada pernyataannya Presiden Republik Indonesia mengungkapkan bahwa setiap harinya 50 orang di Indonesia meninggal dunia karena penyalahgunaan Narkoba.

Apabila dikalkulasikan paling tidak 18.000 nyawa melayang sia-sia karena narkoba. Belum lagi menurut Presiden Jokowi ada sekitar 4,2 juta penduduk yang direhabilitasi dan 1,2 juta yang tidak dapat direhabilitasi. Wajar jika kemudian pemerintah menyatakan perang terhadap narkoba. Sungguh ironi.

Kalimantan barat

Kalimantan barat menurut Irjen Arman Depari (Deputi BNN Bidang Pemberantasan Narkoba) adalah provinsi dengan peredaran narkoba terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Fakta tersebut disebabkan karena kondisi geografi yang mana ada 52 desa berbatasan dengan luar negeri. Dimana menurut Kapolda Kalbar Irjen Didi Haryono ada banyak jalur tikus penyelundupan.

Salah satu instansi pemerintah yang menangani kasus anak yang (terkadang) terlibat dengan Narkoba adalah Balai Pemasyarakatan Pontianak. Balai Pemasyarakatan adalah unit pelaksana teknis pemasyarakatan yang melaksanakan tugas dan fungsi penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan.

Sepanjang 2018 ini sedikitnya ada 245 Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) yang ditangani oleh Balai Pemasyarakatan. Fakta menarik yang kemudian ditemukan adalah adanya beberapa kasus pencurian dilakukan oleh klien anak, yang setelah diteliti adalah penyalahguna narkoba. Tujuan pencurian itu sendiri dalam penggalian data terungkap untuk membeli barang haram narkoba. Dari kasus tersebut terlihat bahwa narkoba mempunyai dampak candu yang menyebabkan seorang anak dapat melakukan hal-hal negatif untuk memperolehnya. Termasuk pencurian.

Kehidupan yang terkadang menimbulkan seorang anak jatuh pada kondisi lelah, bosan, stress, tertekan, gelisah, dan seterusnya membutuhkan situasi untuk menghilangkannya. Narkoba yang memberikan efek efori dan kenikmatan membuatnya menjadi jalan keluar masalah yang ada.

Narkoba menurut Prof. Ichrodjuddin Nasution (Guru besar Farmakologi) dapat menimbulkan efek khayal yang menyenangkan dan memberikan kepuasan semu yang disebut efori dalam lamunan. Narkoba bekerja dan berproses di dalam  otak. Ia mempengaruhi membran saraf dan eksistensi neurotransmitter otak, mengubah keseimbangan hubungan antar neuron dengan pusat sadar. Bahasa sederhananya narkoba merusak otak.

Narkoba menyebabkan kecanduan, apabila pemakai berusaha berhenti akan mengakibatkan perasaan tidak enak, tersisksa, rasa sakit yang tak tertahankan. Rasa sakit ini sering disebut dengan nama sakau. Yang tidak akan tertolong kecuali dengan narkoba. Jadilah narkoba menjadi alat pengeruk uang, yang sekaligus merusak mental, menjadi induk kriminalitas, dan ketentraman dalam masyarakat.

Dari kasus-kasus yang ditangani oleh Balai Pemasyarakatan terkait Klien yang menyalahgunakan narkoba paling tidak ada tiga faktor penyebab. Pertama adalah dari keluarga klien, lingkungan sosial, dan Putus sekolah.

Keluarga

Keluarga adalah tempat pertama seorang anak mengenal dunia, yang selanjutnya mendapatkan pendidikan karakter. Maka keadaan keluarga sangat mempengaruhi bagaimana kehidupan seorang anak nantinya. Di antara yang menjadi masalah adalah kurang terjalinnya hubungan yang erat antara anak dan orang tua. Hubungan yang kurang erat menyebabkan seorang anak kurang terbuka untuk menceritakan masalah-masalah yang dihadapi.

Kekakuan dalam berkomunikasi antara anak dan orangtua mengakibatkan anak lebih suka berada di lingkungan sosialnya yang lebih memberikan pengakuan terhadap keberadaan dirinya. Akhirnya anak lebih suka terbuka atau menceritakan masalah kepada temannya bukan kepada keluarga.

Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial adalah tempat dimana seorang anak menjalin komunikasi dengan sebaya, menemukan jati diri dan identitas untuk diakui di lingkungannya. Dalam beberapa kasus anak yang menjadi penyalahguna narkoba dipengaruhi oleh teman permainannya. Dalam hal ini perlunya pengawasan dari orangtua untuk bisa melihat dan mulai peduli, dengan siapa anak kita bersosialisasi. Karena seorang teman sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan seorang anak.

Seorang anak biasanya akan cenderung untuk mengikuti apa yang ada dalam lingkungan sosialnya. Tujuannya adalah agar dia tidak ditinggalkan, bisa merasa dihargai, dan diakui keberadaannya. Kondisi ini yang apabila tidak dapat difilter akan menjerumuskan anak ke dalam hal-hal negatif. Karena usia anak adalah masa-masa pencarian jati diri.

Putus Sekolah 

Dalam beberapa kasus, klien anak yang ditangani adalah anak yang putus sekolah. Anak yang putus sekolah biasanya akan menghabiskan banyak waktunya dengan teman sepermainan. Berbeda dengan anak yang masih bersekolah, maka sebagian besar waktunya akan habis dalam lingkungan yang lebih positif. Apalagi apabila anak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler atau les privat. Maka waktunya akan dihabiskan untuk hal-hal yang positif. Kemungkinan melakukan tindakan kriminal pun menjadi lebih sedikit.

Berbagai masalah yang ada memang tidak akan pernah selesai, akan tetapi apabila tidak dimulai untuk menyelesaikannya akan semakin menggunung. Cara terbaik untuk ikut berkontribusi adalah dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan kita, entah itu anak, adik, keponakan, tetangga dan lainnya.

 

Penulis: Wahyu Saefudin (CPNS Bapas Pontianak)

Jerat Narkoba Pada Anak | INFO_PAS | 4.5

Berita Lainnya

  • PP 99 Tahun 2012, Good or Bad Rule?
    On Friday, October 19th, 2018 By

    Sejarah penghukuman di Indonesia ditandai dengan diubahnya filosofi penghukuman yang semula sesuai dengan Enchylopedia of Prison and Punishment, yaitu retribution/pembalasan, penjeraan (detterence), pemenjaraan (incapalitation),...

  • Konformitas pada Anak yang Berkonflik dengan Hukum
    On Monday, October 1st, 2018 By

    Anak merupakan karunia terbesar bagi keluarga, agama, bangsa, dan Negara. Kehadiran anak dalam keluarga adalah penyempurna kebahagiaan dan penerus garis keturunan. Dalam...

  • Berebut Nafas di Dalam Lapas
    On Thursday, March 15th, 2018 By

    “Berebut nafas di dalam lapas” mungkin agak hiperbola dan dibesar-besarkan, namun kurang lebih begitulah kenyataannya. Jumlah narapidana dan tahanan sebanyak 248.243 dengan...

  • Penambahan Pegawai, Suatu Solusi Atau Hanya Menyelesaikan Kewajiban ?
    On Thursday, February 15th, 2018 By

    Sebanyak kurang lebih 17.526 orang CPNS kementerian Hukum dan HAM baru telah di tempatkan di Unit Pelaksana Teknis di seluruh Indonesia, suatu...

  • Hebatnya Penjara Di Indonesia
    On Tuesday, September 26th, 2017 By

    Sejarah penghukuman di Indonesia ditandai dengan diubahnya filosofi penghukuman yang semula sesuai dengan Enchylopedia of Prison and Punishment, yaitu retribution/pembalasan, penjeraan (detterence), pemenjaraan...