Kembangkan Madu AOK BE, Lapas Tanjungpandan Siapkan Warga Binaan Kuasai Budidaya Lebah Berbasis Kompetensi
Belitung, INFO_PAS — Dari balik tembok Pemasyarakatan, sebuah produk unggulan tengah disiapkan untuk naik kelas. Madu AOK BE, produk hasil pembinaan kemandirian Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjungpandan dikembangkan melalui penguatan keterampilan budidaya lebah madu berbasis kompetensi.
Langkah tersebut ditandai dengan sosialisasi, pendaftaran, dan verifikasi data Warga Binaan melalui laman SIAPkerja Kementerian Ketenagakerjaan RI sebagai tahapan awal mengikuti Pelatihan Kemandirian Budidaya Madu Trigona dan Apis Cerana Berbasis Kompetensi melalui metode Tailor Made Training (TMT) Tahap II Tahun 2026. Kegiatan yang dilaksanakan bersama Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Belitung tersebut berlangsung di Aula Depati Rahat Lapas Tanjungpandan, Kamis (8/10).
Bagi Lapas Tanjungpandan, pelatihan ini bukan sekadar agenda peningkatan keterampilan. Program tersebut menjadi kelanjutan dari pembinaan kemandirian yang telah berjalan sekaligus upaya membangun rantai pembinaan yang lebih utuh dari keterampilan budidaya hingga pengembangan produk UMKM Warga Binaan.
Kepala Lapas Tanjungpandan, Muhammad Rolan, menegaskan pengembangan Madu AOK BE harus dibangun melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang mengelolanya. “Kami ingin Madu AOK BE tidak berhenti sebagai produk hasil pembinaan, tetapi berkembang menjadi produk yang memiliki kualitas dan nilai ekonomi. Karena itu, peningkatan kompetensi Warga Binaan menjadi bagian penting dari proses pengembangannya,” ujarnya.
Menurut Rolan, sinergi dengan BPVP Belitung menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan kemandirian agar keterampilan yang diperoleh Warga Binaan memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia kerja. “Pembinaan kemandirian harus memiliki kesinambungan. Warga Binaan tidak cukup hanya diberikan keterampilan, tetapi juga perlu dibekali kompetensi yang dapat mereka gunakan ketika kembali ke masyarakat. Kami berharap keterampilan budidaya madu ini menjadi modal untuk bekerja maupun membuka usaha secara mandiri,” harapnya.
Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, Pirmansyah, menambahkan proses sosialisasi dan verifikasi data menjadi pintu masuk bagi Warga Binaan untuk memperoleh pelatihan secara terstruktur. Menurutnya, terdapat alasan kuat mengapa budidaya Madu Trigona dan Apis Cerana dipilih sebagai salah satu fokus pembinaan.
“Kami melihat potensi yang sudah ada. Madu AOK BE merupakan produk unggulan hasil pembinaan kemandirian yang telah berjalan. Maka, pelatihan budidaya madu ini menjadi benang merah untuk mengembangkan apa yang sudah ada, bukan memulai dari nol,” ujar Pirmansyah.
Ia menjelaskan penguatan kompetensi diharapkan memperluas cakupan pembinaan, mulai dari pemeliharaan koloni lebah, pengelolaan budidaya, pemanenan hingga pengembangan produk. “Target kami bukan sekadar Warga Binaan bisa memelihara lebah. Lebih jauh, mereka memahami prosesnya secara utuh sehingga keterampilan tersebut diterapkan secara produktif dan berkelanjutan. Dari budidaya sampai produk, semuanya harus memiliki nilai,” tambahnya.
Menurut Pirmansyah, keterampilan tersebut juga menjadi bekal penting bagi Warga Binaan untuk menghadapi fase setelah mereka menjalani masa pidana. “Ketika kembali ke masyarakat, mereka membawa sesuatu yang konkret. Ada keterampilan, ada pengalaman, dan ada peluang usaha yang bisa dikembangkan,” ujarnya.
Sementara itu, Penata Layanan Operasional BPVP Belitung, Ahmadi, menjelaskan kegiatan yang dilaksanakan bersama Lapas Tanjungpandan merupakan persiapan sebelum pelatihan dimulai. Proses registrasi melalui SIAPkerja dilakukan untuk memastikan data calon peserta tercatat dengan baik dan sesuai persyaratan program pelatihan.
“Tahapan hari ini penting untuk memastikan calon peserta terdata dengan baik melalui SIAPkerja. Setelah proses administrasi dan verifikasi selesai, peserta dapat mengikuti tahapan pelatihan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan,” kata Ahmadi.
Ia menilai pelatihan budidaya Madu Trigona dan Apis Cerana memiliki prospek karena peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi diarahkan untuk memiliki kompetensi yang dapat diterapkan. “Kami berharap pelatihan ini memberikan keterampilan yang benar-benar dapat digunakan. Apalagi, di Lapas Tanjungpandan sudah ada produk Madu AOK BE. Artinya, ada potensi yang bisa dikembangkan lebih lanjut melalui peningkatan kompetensi peserta,” ujar Ahmadi.
Pelatihan melalui metode TMT menjadi upaya mempertemukan kebutuhan pelatihan dengan potensi pembinaan yang telah dikembangkan Lapas Tanjungpandan. Jika sebelumnya pembinaan telah menghasilkan produk Madu AOK BE, maka pelatihan budidaya menjadi langkah untuk memperkuat fondasi produksinya dari hulu. Dengan demikian, pembinaan tidak berhenti pada menghasilkan produk, tetapi diarahkan membangun sebuah ekosistem: Warga Binaan memiliki keterampilan, kegiatan kerja menghasilkan produk, produk memiliki nilai ekonomi, dan keterampilan tersebut menjadi bekal setelah kembali ke masyarakat.
Bagi Lapas Tanjungpandan, pengembangan Madu AOK BE menjadi ikhtiar menjadikan pembinaan kemandirian lebih produktif dan berkelanjutan. Dari sebuah keterampilan sederhana di balik tembok Pemasyarakatan, Lapas Tanjungpandan ingin membangun sesuatu yang lebih besar: kompetensi yang dapat menjadi modal kehidupan. (IR)
Kontributor: Lapas Tanjungpandan
What's Your Reaction?


