Kolaborasi Kreatif, Warga Binaan Lapas Ambon Kembangkan Keripik Pisang Aneka Rasa
Ambon, INFO_PAS - Aroma gurih, renyah, dan hangat menguar dari dapur sederhana di ruang kegiatan kemandirian Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon, Selasa (16/12). Di tempat itu, sekelompok Warga Binaan bersama peserta Program Magang Nasional tengah mengolah 5 kilogram pisang mengkal menjadi 35 bungkus keripik pisang aneka rasa, yaitu balado dan cokelat. Inisiatif ini merupakan bagian dari program pelatihan kemandirian dan pemberdayaan yang bertujuan membekali Warga Binaan dengan keterampilan praktis.
Kolaborasi antara Lapas dan peserta magang nasional menjadi terobosan baru dalam konsep pembinaan. Para peserta magang dari berbagai jurusan, termasuk kewirausahaan, tidak hanya menerapkan ilmu yang mereka pelajari, tetapi juga berperan sebagai mentor dan mitra bagi Warga Binaan.
Proses produksi dimulai dari pemilihan pisang berkualitas, pengupasan, pengirisan tipis menggunakan alat khusus, hingga penggorengan dengan suhu terkontrol. Warga Binaan terlibat aktif dalam setiap tahapan, didampingi instruktur Lapas dan peserta magang. Selain teknik memasak, mereka juga dibekali pengetahuan mengenai prinsip higienitas, standar produksi pangan, serta perhitungan modal dan harga jual.
Kepala Lapas Ambon, Hendra Budiman, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi ini. “Program seperti ini menunjukkan bahwa pembinaan tidak hanya berfokus pada kedisiplinan, tetapi juga pada pemberdayaan. Kami ingin Warga Binaan memiliki keterampilan yang benar-benar bisa mereka gunakan setelah bebas nanti,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Nober Hasanda, menegaskan bahwa program seperti ini sejalan dengan visi Pemasyarakatan untuk mendukung reintegrasi sosial. “Kami ingin mereka memiliki bekal yang konkret. Bukan sekadar bisa membuat keripik, tetapi memahami proses dari hulu ke hilir, dari bahan baku hingga produk siap jual. Ini modal berharga untuk kehidupan mereka nanti,” jelasnya.

Produk keripik pisang rasa balado dan cokelat hasil kreasi bersama tersebut telah mulai dipasarkan secara terbatas kepada pengunjung Lapas, pegawai, serta melalui sistem pemesanan. Respons yang diterima sangat positif, baik dari segi rasa maupun kemasan yang sederhana namun menarik. Keuntungan penjualan dikembalikan sebagai modal usaha dan dana kesejahteraan kelompok kemandirian Warga Binaan. Salah satu peserta magang, Mutiara, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari kegiatan ini. “Kami belajar banyak hal, bukan hanya soal produksi makanan, tetapi juga bagaimana berkomunikasi, bekerja sama, dan memberi dampak nyata. Rasanya menyenangkan bisa berbagi ilmu sekaligus belajar dari Warga Binaan,” ungkapnya.
Bagi Warga Binaan, kegiatan ini memberikan harapan baru. “Saya merasa masih produktif dan bisa belajar hal positif. Rasanya bangga ketika orang menyukai keripik buatan kami. Ini memotivasi saya untuk lebih serius mempelajari cara berwirausaha,” ujar Ateng, salah satu Warga Binaan.
Ke depan, pihak Lapas berencana mengembangkan produk ini lebih lanjut, termasuk mencari peluang pemasaran yang lebih luas. Pembuatan keripik pisang ini menjadi bukti nyata bahwa pembinaan di lapas dapat berjalan kreatif dan memberikan dampak langsung. Program pemberdayaan ini diharapkan tidak hanya mengisi waktu, tetapi juga membangun kepercayaan diri, rasa tanggung jawab, serta mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi Warga Binaan saat kembali ke masyarakat. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Ambon
What's Your Reaction?


