Lestarikan Budaya Lokal, Peserta Magang Lapas Geser Latih Warga Binaan Tari Sawat dan Musik Tradisional
Geser, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Geser gelar pelatihan seni tarian adat Seram Bagian Timur, yaitu Tari Sawat, yang diiringi oleh alunan musik tradisional bagi para Warga Binaan, Selasa (1/9). Kegiatan ini merupakan komitmen Lapas Geser dalam membekali Warga Binaan dengan keterampilan seni sekaligus menanamkan rasa cinta yang mendalam terhadap budaya lokal.
Program ini melibatkan kolaborasi aktif antara Subseksi Pembinaan dengan para peserta magang yang bertindak langsung sebagai instruktur agar para Warga Binaan tidak hanya mempelajari, tetapi juga turut melestarikan kearifan budaya lokal masyarakat Seram Bagian Timur. Selain menguasai gerakan tari, para Warga Binaan juga diajarkan teknik memukul dan memainkan musik tifa, rebana dan suling yang menjadi pengiring tarian tradisional tersebut.
Staf Pembinaan, Raul F. Attamimi, menjelaskan pelatihan ini diinisiasi sebagai program pembinaan kepribadian. Dalam pelaksanaannya, petugas berkolaborasi dengan peserta magang untuk mengoptimalkan transfer ilmu, baik dalam seni tari maupun ketukan musik pengiring.
“Pelatihan Tari Sawat dan musik pengiringnya adalah bentuk pembinaan kepribadian berbasis seni dan budaya. Melalui kegiatan ini, kami berharap mempererat hubungan emosional antara petugas dan Warga Binaan, sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur,” harap Raul.
Di tempat yang sama, Abdul Muthalib Killian, salah satu peserta magang di Lapas Geser, memuji antusiasme luar biasa dari para Warga Binaan. “Mereka sangat bersemangat mempelajari setiap gerakan tari dan ketukan musik pengiring. Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan pengisi waktu, tetapi juga sarana edukasi yang sangat positif bagi mereka selama menjalani masa pidana,” pujinya.
Abdul menambahkan keterlibatan para peserta magang dalam program ini merupakan kontribusi nyata untuk mendukung optimalisasi pembinaan di Lapas. “Kami ingin menjadikan pelatihan ini sebagai sarana bagi Warga Binaan untuk mengekspresikan bakat sekaligus upaya nyata dalam melestarikan tarian budaya dan mengembangkan musik tradisional di Kabupaten Seram Bagian Timur,” ungkapnya.
Respons positif juga datang dari salah satu Warga Binaan berinisial AR. Ia menyatakan kegiatan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan ruang kreativitas yang sangat bermanfaat selama menjalani masa pidana.
“Kami memperoleh keterampilan baru yang sangat berharga, baik dalam menari Sawat maupun memainkan musik pengiringnya. Ini menjadi wadah yang sangat positif bagi kami untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal produktif dan membangun,” ungkap AR.
Sementara itu, Kepala Lapas Geser, Nober Hasanda, menilai kegiatan positif ini sejalan dengan visi Pemasyarakatan yang mengedepankan pendekatan humanis sekaligus berperan inklusif dalam mempertahankan identitas budaya di tengah arus modernisasi. “Kami berkomitmen untuk terus berinovasi dalam menghadirkan program pembinaan yang menyentuh hati dan relevan dengan kebutuhan Warga Binaan. Pelestarian budaya melalui tari Sawat dan musik Tifa ini adalah salah satu langkah kami untuk membentuk karakter Warga Binaan yang lebih baik. Kami berharap mereka siap kembali ke tengah masyarakat dengan membawa bekal keterampilan dan rasa cinta yang mendalam terhadap budaya sendiri,” harapnya.
Kontributor: Lapas Geser
What's Your Reaction?


