Manfaatkan Lahan Terbatas, Warga Binaan Lapas Banjarmasin Panen 50 Kg Kangkung dan 300 Butir Telur
Banjarmasin, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin optimalkan lahan terbatas untuk kegiatan pembinaan kemandirian. Senin (31/8), sebanyak 50 kilogram kangkung dipanen dari area brandgang, sementara 300 butir telur dikumpulkan dari 75 ekor ayam petelur di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) 2.
Dua komoditas tersebut dihasilkan melalui kegiatan pembinaan kemandirian yang libatkan Warga Binaan secara langsung. Hasilnya juga telah memiliki jalur pemanfaatan, yakni kangkung diserap vendor untuk kebutuhan dapur Lapas, sedangkan telur diserap Koperasi Lapas Banjarmasin.
Panen kangkung dilakukan di area brandgang dengan lahan berukuran 26 m x 1 m atau seluas 26 m2. Warga Binaan mengelola seluruh tahapan budidaya, mulai dari penyiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga panen dengan pendampingan jajaran Kegiatan Kerja.
Sementara itu, peternakan ayam petelur di SAE 2 menggunakan sistem kandang baterai yang memudahkan pemeliharaan dan pengumpulan telur. Dari 75 ekor ayam, terkumpul 300 butir telur atau 10 rak selama dua hari, yakni Minggu (30/8) dan Senin (31/8).
Salah satu Warga Binaan yang terlibat dalam pengelolaan ayam petelur, AY, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru dalam merawat dan mengelola ternak secara rutin.
“Setiap hari kami belajar merawat ayam, mulai dari memberi pakan, memastikan kondisi kandang tetap baik, sampai mengumpulkan telur. Dari kegiatan ini saya jadi lebih memahami cara memelihara ayam petelur dan pentingnya menjaga rutinitas dalam bekerja,” ujar AY.
Menurut AY, keterlibatannya dalam kegiatan tersebut membuat dirinya terbiasa bekerja secara teratur dan memahami bahwa hasil yang baik membutuhkan proses serta ketekunan.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Banjarmasin, Bagus Paras Etika, mengatakan pemanfaatan lahan dan pengembangan peternakan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi yang tersedia agar dapat memberikan ruang kerja sekaligus pembelajaran bagi Warga Binaan.
“Kami berusaha memanfaatkan lahan dan fasilitas yang tersedia semaksimal mungkin. Warga Binaan ikut terlibat langsung dalam setiap proses, sehingga mereka terbiasa bekerja dengan disiplin, bertanggung jawab, dan memahami bagaimana sebuah kegiatan dikelola sampai menghasilkan,” ujar Bagus.
Menurut Bagus, jalur penyerapan hasil produksi juga penting agar kegiatan yang dikelola Warga Binaan dapat memberikan manfaat nyata dan terus berjalan.
Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, mengapresiasi jajaran Kegiatan Kerja dan Warga Binaan yang mampu optimalkan ruang yang tersedia menjadi lahan produktif.
“Lahan yang terbatas bukan alasan untuk berhenti berkarya. Yang penting adalah bagaimana ruang yang ada dikelola dengan baik dan Warga Binaan diberi kesempatan untuk belajar serta bekerja secara nyata. Ketika hasilnya juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan Lapas, tentu ini menjadi nilai tambah dari pembinaan yang kita jalankan,” ujar Akhmad.
Ia menambahkan, pengalaman yang diperoleh Warga Binaan selama mengikuti kegiatan pertanian dan peternakan diharapkan dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat.
Pengelola Koperasi Lapas Banjarmasin, Inas, menyampaikan dukungan terhadap hasil produksi peternakan tersebut.
“Kami dari koperasi siap mendukung dengan menyerap hasil produksi telur dari SAE 2. Dengan adanya penyerapan ini, hasil produksi dapat tersalurkan dengan baik dan kegiatan peternakan bisa terus berjalan secara berkelanjutan,” ujar Inas.
Pemanfaatan ruang terbatas dapat hasilkan komoditas bernilai guna sekaligus jadi sarana pembelajaran bagi Warga Binaan. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Banjarmasin
What's Your Reaction?


