Pemasyarakatan dan Penyadaran

Pemasyarakatan dan Penyadaran

Penciptaan manusia di dunia bukan sebuah kebetulan. Manusia diciptakan bukan hanya untuk mengisi ruang kosong pada kehidupan di dunia. Ibarat permainan, manusia memiliki tugas dan perannya masing-masing, bahkan hal tersebut sudah dituliskan sebagai bagian dari takdir manusia. Takdir yang telah ditetapkan kepada manusia merupakan naskah kehidupan yang harus diselesaikan. Manusia memiliki kemampuan yang sama untuk menyadari hal ini. Mengikuti jalanannya dengan usaha terbaik adalah kunci keberhasilan agar setiap kejadian yang telah digariskan dalam kehidupan  mendapatkan sebuah manfaat kehidupan.

Pada kondisi seperti sekarang ini, banyak manusia modern yang lupa akan tugas-tugasnya di dunia agar dapat melanjutkan pada tahap level kehidupan selanjutnya. Bukan hal mudah untuk menyadari tugas dari setiap level ini. Mengikuti filosofi Jawa bahwa “menungso sadermo nglakoni kadyo wayang”, manusia menjalani kehidupan ibarat wayang. Ketika manusia adalah “wayang” pasti ada yang menggerakan dan menuliskan jalannya cerita sebagai seorang “dalang”. Uniknya, di dunia ini ada beberapa manusia yang harus menjalani kehidupannya tidak sesuai dengan arahan dalangnya atau mungkin saja mereka harus melewati jalan ketersesatan untuk mencapai hakikat dalam kehidupannya.

Semuanya terlihat dengan jelas dari lakon dari setiap wayang bagaimana dirinya melaksanakan tugasnya. Tugas yang dilaksanakan dengan baik pastilah akan mencapai satu kebaikan. Ibaratkan saja hidup ini seperti video game yang memiliki jenjang level. Apa jadinya apabila karakter dalam video game tersebut tidak menjalankan tugasnya dengan benar? Sudah pasti ia akan mendapatkan hukuman. Sayangnya, manusia kurang menyadari dari tugas yang terabaikan ini sehingga perlu momentum penyadaran untuk kembali ke jalur pelaksanaan tugasnya.  

 

Tugas yang Terabaikan

Hakikat manusia adalah makhluk, dia tidak “ada” dengan sendirinya (Faiz, 2020). Penciptaan manusia mempunyai tujuan. Mengherankan apabila manusia sekarang sering memposisikan diri seolah seperti penciptanya dengan berbagai modal kecerdasan artifisial yang berada dalam genggaman tangannya. Dengan modal jari-jari yang telah diciptakan oleh sang pencipta, ia gunakan untuk mengunggah postingan dengan niat menghakimi, bahkan menjatuhkan sesamanya karena berbeda pandangan. Secara tidak sadar, menghambakan diri pada nafsunya semata sehingga lupa bahwa dirinya hanyalah makhluk dengan tugas yang telah ditentukan oleh sang pencipta.

Kesadaran bahwa manusia hanyalah makhluk kini mulai luntur terjadi pada fenomena sosial hari ini ketika ada manusia yang terkonfirmasi COVID-19 justru mendapatkan respon negatif dari lingkungannya dengan cara mengucilkan, bahkan dicari atau parahnya dikait-kaitkan dengan kesalahannya. Inilah yang sebenarnya kurang disadari oleh masyarakat terkait stigma negatif kepada mantan narapidana. Mereka yang masih bisa hahahihi di luar tembok lembaga juga belum tentu manusia yang berada di jalur tugasnya, namun keberuntungan masih berpihak pada dirinya. Sayangnya, hal yang sama masih sering dijumpai di kehidupan nyata maupun maya. Caci maki dan segala kecaman disematkan kepada para narapidana dan mantan narapidana yang menjadi Klien Pemasyarakatan. Cara seperti ini akan meruntuhkan semangat untuk berintegrasi dengan lingkungan sosialnya, memulai tugas hubungan interpersonal yang tidak bisa terelakan lagi.

Tugas hubungan interpersonal merupakan hal yang sering terabaikan. Diciptakannya media sosial sebagai upaya menjalin kedekatan personal disalahgunakan sebagai media untuk menyoroti kesalahan orang lain. Bahkan, hasil survei dari Digital Civility Index 2020 yang dibuat dari teknologi Microsoft menyebutkan netizen di Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara, menempati posisi 29 dari 32 negara. Hubungan antara manusia memang merepotkan. Hal ini menyebabkan manusia melupakan tugasnya, dan berakhir pada konflik dengan sesamanya.

 

Menyelaraskan Diri

Cara paling sederhana menghindari sekaligus menyelesaikan konflik hubungan interpesonal adalah melakukan perannnya masing-masing, dengan menyadari tugas yang telah diembannya. Kishimi (2020) pada bukunya berjudul Berani Tidak Disukai menjelaskan bahwa membentuk hubungan interpersonal yang baik memerlukan jarak pada tingkat tertentu. Ketika jaraknya terlalu dekat dan satu dengan yang lainnya merekat, mustahil untuk saling menasihati, begitu pula ketika jaraknya terlalu jauh. Terjadinya sikap saling menghakimi dan menjatuhkan pada hari ini merupakan nyatanya, mungkin selama ini manusia terlalu dekat hingga ia harus dipisahkan dengan sebuah virus yang menyebabkan pandemi atau mungkin kita terlalu jauh sehingga dapat memaksimalkan kecerdasan buatan untuk lebih dekat.

Sebagai cara menghindari bencana yang diciptakan oleh dirinya sendiri karena tidak dapat membendung hasrat sesaat, menyelaraskan diri merupakan jalan satu-satunya sehingga tahu isi setiap perjalanan kehidupan mengandung tugas yang perlu diselesaikan. Kishimi (2020) menjelaskan ibarat pertunjukan pentas tari di atas panggung dengan lampu sorot, beberapa dari manusia yang menyoroti kehidupan oranglain hingga terlena akan tugas yang harus diselesaikan, menyebabkan lupa akan tugas yang telah ditugaskan untuk tujuan tertentu dan sibuk mengintervensi  tugas kehidupan oranglain sehingga tidak bisa mencapai tujuan kehidupannya atau tercapai dengan hasil yang biasa.

Manusia merupakan wayang dalam panggung pewayangan, ia memiliki tugas yang telah ditentukan oleh dalang dengan tujuan tertentu. Simon Sinek (Faiz, 2020) meyebutkan dua tipe gaya hidup dalam permainan, yaitu finite game dan infinite game. Manusia yang suka memainkan peran dengan gaya finite game dalam penyelesaian tugasnya dengan tujuan hanya ingin menang. Musuh terbesarnya adalah orang lain yang menghalanginya dan setelah berhasil ia merasa sukses, padahal hidup tidak sesederhana itu. Tipe infinite game, gaya permainan manusia yang lebih memilih mencari makna kehidupan berfokus pada pengembangan diri. Musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri. Dua tipe gaya permainan yang ditawarkan untuk menyelesaikan tugas kehidupan menuju level selanjutnya.

 

Penyadaran Sebagai Proses

Proses Pemasyarakatan ibarat obat bagi jiwa manusia yang tersesat. Ia menjadi sebuah tempat yang membina sikap dan perilaku penghuninya yang sudah terlampau jauh melampaui jalan yang benar. Jalan yang seharusnya manusia pilih untuk melaksanakan segala bentuk tugas permainan. Pemasyarakatan dan penyadaran adalah kesatuan yang tidak dapat berdiri sendiri. Di setiap proses Pemasyarakatan ada sebuah penyadaran.

Pada akhirnya menyadari bahwa manusia hanyalah sebuah makhluk yang telah ditentukan takdir kehidupannya dengan segala tugas yang perlu diselesaikan dengan cara terbaik untuk mencapai tujuan terbaik tanpa perlu mengintervensi tugas manusia lainnya merupakan cara menghadapi dunia yang penuh tipu daya. Menghambakan diri pada sang pencipta sebagai dalang kehidupan merupakan fitrah seorang makhluk karena menyadari bahwa dirinya lemah. Tugas manusia  berikhtiar, hasilnya pada sang pencipta. 

 

 

Penulis: Wiwit Putra (Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Baubau)

What's Your Reaction?

like
5
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0