Warga Binaan Lapas Wahai Perkuat Iman dan Karakter lewat Ibadah Perjamuan Kudus
Wahai, INFO_PAS – Suasana penuh khidmat menyelimuti Gereja Ebenhaezer di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Minggu (5/7). Seluruh Warga Binaan Kristiani khusyuk mengikuti rangkaian ibadah Sakramen Perjamuan Kudus sekaligus sebagai momen refleksi spiritual yang diselenggarakan sebagai program pembinaan kerohanian.
Pelaksanaan ibadah sakral ini merupakan agenda rutin triwulan yang difasilitasi Lapas Wahai bekerja sama dengan pelayanan gereja setempat, yakni Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat Bethsan Wahai. Kegiatan ini bertujuan sebagai sarana pemulihan diri di mana Warga Binaan diajak untuk merenungkan pengorbanan, pengampunan, dan memperbarui persekutuan mereka dengan tuhan dari balik jeruji besi.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan pembinaan mental dan spiritual adalah pilar terpenting dalam proses Pemasyarakatan. Menurutnya, program ini tidak hanya sekadar memenuhi hak beribadah, tetapi juga menjadi instrumen untuk menyentuh hati dan moral para Warga Binaan agar memiliki arah hidup yang lebih positif.
"Pembinaan tidak hanya berfokus pada kedisiplinan dan keterampilan, tetapi juga menyentuh aspek mental dan spiritual. Melalui ibadah seperti Perjamuan Kudus, Warga Binaan diharapkan mengendalikan diri, menumbuhkan rasa syukur, dan memiliki motivasi kuat untuk memperbaiki diri," harap Tersih .
Sementara itu, dalam ibadah yang dipimpin oleh Pendeta GPM Jemaat Bethsan, Elchris Latuny, khoutbah berfokus pada pembacaan firman tuhan bagian kitab 1 Korintus 11:23-26 itu. Ia menegaskan pentingnya ketaatan hidup dan pertobatan dari Warga Binaan.
"Perjamuan Kudus adalah tanda kasih dan pengorbanan Kristus yang memulihkan. Di tempat ini, mari kita buka hati, tinggalkan masa lalu yang kelam, serta berkomitmen untuk hidup dalam ketaatan dan pertobatan yang sungguh-sungguh demi masa depan yang diberkati," ajak Elchris.
Momen saat memecahkan roti dan meminum cawan perjamuan menjadi simbol pengorbanan yang sarat akan makna sehingga banyak Warga Binaan larut dalam refleksi rohani mendalam. Tak terkecuali salah satu Warga Binaan berinisial AS yang mengungkapkan rasa syukurnya usai ibadah. "Saya sangat bersyukur dan merasa damai. Ibadah Perjamuan Kudus ini mengingatkan saya bahwa meskipun berada di Lapas, kasih dan pengampunan tuhan selalu nyata. Ini menjadi kekuatan baru bagi saya untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik," ungkapnya.
Selain perjamuan kudus, Lapas Wahai konsisten memberikan ruang spiritual tanpa batas bagi Warga Binaan melalui berbagai kegiatan keagamaan, seperti ibadah buka-tutup usbu, ibadah virtual dan kunjungan pastoralia berkala. Dukungan ini diharapkan melahirkan individu Warga Binaan yang lebih baik, iman yang kuat dan karakter yang positif untuk siap kembali diterima di tengah masyarakat setelah menjalani masa pidana. (IR)
Kontributor: Lapas Wahai
What's Your Reaction?


