Bapas Semarang Perkuat Peran Keluarga melalui SANAK BASSAMA Plus di SMA Negeri 8 Semarang
Semarang, INFO_PAS - Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Semarang terus perkuat upaya pencegahan kenakalan remaja melalui pendekatan berbasis keluarga. Komitmen tersebut diwujudkan melalui SANAK BASSAMA Plus atau Sahabat Anak Bapas Semarang Plus bekerja sama dengan SMA Negeri 8 Semarang, Rabu (29/7). Bertema "Peran Orang Tua dalam Pencegahan Kenakalan Remaja Masa Sekolah”, egiatan ini menjadi wadah edukasi bagi orang tua untuk memperkuat peran keluarga sebagai garda terdepan dalam membentuk karakter anak dan mencegah munculnya perilaku menyimpang pada remaja.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan SMA Negeri 8 Semarang ini diikuti sebanyak 330 orang tua/wali murid kelas X yang terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama diikuti 180 peserta, sedangkan sesi kedua diikuti 150 peserta. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan hingga sesi diskusi yang berlangsung interaktif.
Dalam penyampaian materi, peserta memperoleh pemahaman mengenai perkembangan psikologi remaja, faktor-faktor penyebab kenakalan remaja, bentuk-bentuk perilaku menyimpang yang perlu diantisipasi, pentingnya komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, serta strategi memperkuat fungsi keluarga sebagai benteng utama dalam pembentukan karakter remaja.
Kepala Seksi Bimbingan Klien Anak, Tri Riswanto, menegaskan keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter anak sehingga keterlibatan orang tua menjadi faktor yang tidak dapat digantikan dalam upaya pencegahan kenakalan remaja. "Pencegahan kenakalan remaja tidak dapat dilakukan hanya oleh sekolah ataupun pemerintah. Orang tua merupakan garda terdepan dalam membangun karakter, menanamkan nilai-nilai kehidupan, serta menjadi tempat pertama bagi anak untuk memperoleh kasih sayang, perhatian, dan pengawasan. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan Bapas menjadi kunci dalam melindungi generasi muda dari berbagai perilaku berisiko," ujarnya.
Selaku narasumber, Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Muda, Catur Yuliwiranto, menambahkan keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu, orang tua harus mampu menjadi teladan, sahabat, sekaligus pendamping dalam setiap tahap perkembangan remaja.
"Peran orang tua tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka, memberikan keteladanan, serta melakukan pengawasan yang tepat terhadap aktivitas dan pergaulan anak. Ketika hubungan dalam keluarga terjalin dengan baik, potensi anak terjerumus dalam kenakalan remaja dapat diminimalisir," jelas Catur.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 8 Semarang, Ajib Setiyo, mengapresiasi sinergi yang terjalin bersama Bapas Semarang dalam memberikan edukasi kepada para orang tua. "Kami berharap kegiatan ini memperkuat komunikasi antara sekolah dan orang tua sehingga proses pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga didukung penuh oleh lingkungan keluarga. Dengan demikian, peserta didik tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, disiplin, dan bertanggung jawab," ungkapnya.
Pada sesi diskusi, para orang tua menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan terkait pola asuh remaja di era digital, pengawasan penggunaan media sosial, pencegahan perundungan, penyalahgunaan narkotika, pengaruh lingkungan pergaulan, hingga langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika anak mulai menunjukkan perilaku berisiko. Seluruh pertanyaan dijawab secara interaktif oleh narasumber dengan memberikan solusi aplikatif sesuai kondisi yang dihadapi keluarga saat ini.
Melalui SANAK BASSAMA Plus, Bapas Semarang menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan program pembimbingan kemasyarakatan berbasis keluarga. Diharapkan, sinergi antara Bapas, sekolah, dan orang tua makin kuat dalam menciptakan lingkungan yang aman, kondusif, dan mendukung tumbuh kembang anak sehingga melahirkan generasi muda berkarakter, sadar hukum, bertanggung jawab, dan terhindar dari berbagai bentuk kenakalan remaja. (IR)
Kontributor: Bapas Semarang
What's Your Reaction?


